Memuliakan Anak Yatim

by
Anak yatim asuhan PP Salimah

Tanggal 10 Muharam dimaknai oleh sebagian umat Islam sebagai momentum untuk berbuat baik kepada anak yatim, sehingga maraklah berbagai acara peringatan digelar untuk menghadirkan anak yatim dan memberikan santunan kepada mereka pada momen tersebut. Tanpa mengecilkan upaya-upaya tersebut, ternyata kita dapati Rosululloh dalam hidupnya tidak  secara khusus memperhatikan anak yatim  dalam momen-momen tertentu. Karena beliau SAW memperhatikan kebutuhan anak-anak yatim sepanjang tahun. Tanggal yang diyakini sebagai hari raya anak yatim , ternyata merupakan tradisi sebagian masyarakat muslim paska peristiwa karbala yang menyebabkan munculnya banyak anak yatim.

Memperhatikan anak yatim hendaknya dilakukan secara lebih substansial, menyentuh permasalahan dan dengan intensitas yang memadai. Terkadang sebagian kita terjebak pada memberikan perhatian secara seremonial saja, bahkan terkadang menjadi  memprihatinkan ketika acara yang dikemas justru menjatuhkan harga diri anak yatim itu sendiri.

Islam memerintahkan pemeluknya untuk berbuat baik kepada anak yatim. Sebagai kelompok masyarakat yang memerlukan perhatian khusus disebabkan kekhasan kondisi mereka yang ayahnya telah meninggal dunia, anak yatim berhak mendapatkan perhatian khusus dari masyarakat tempat ia berada. Hal ini dapat difahami, mengingat keterbatasan  terhadap pemenuhan kebutuhan fisik maupun psikologis yang mereka alami  ketika sang ayah absen dalam kehidupan mereka.

Berbuat baik kepada anak yatim balasannya adalah syurga (qs Al Insan 8-22). Berbuat baik terhadap anak yatim merupakan akhlak Islam yang mulia (qs albaqoroh :177). Sebaliknya Islam sangat melarang perbuatan menzholimi anak yatim (qs 17 :34, al fajr; 15-23, ad dhuha :9, al ma’un ;1-3). Umat Islam dilarang untuk berbuat aniaya, menghina, menyakiti maupun memakan harta anak yatim dengan zholim yang termasuk salah satu dari tujuh dosa besar (HR Bukhori Muslim). Rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim yang dimuliakan dan sejelek-jelek rumah adalah  yang terdapat anak yatim tetapi dihinakan.

Para pengurus Salimah di seluruh Indonesia pun selayaknya melakukan upaya-upaya pemuliaan anak yatim secara terorganisir. Salimah mengambil kebijakan untuk memberikan dukungan terhadap keluarga yatim untuk tetap mengasuh anak yatim di rumah keluarganya (non panti). Hal tersebut mempertimbangkan mashlahat bagi si anak yatim tersebut dengan asumsi bahwa keluarga terdekat adalah orang-orang yang paling tepat  bagi anak yatim untuk dapat memberikan perhatian terbaik.

Adapun dukungan terhadap keluarga anak yatim dapat berupa santunan berkala, beasiswa pendidikan, pendampingan dan pembinaan berkala terhadap anak-anak yatim, pelatihan-pelatihan mendidik anak bagi ibu-ibu mereka dan berbagai program dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar  dan memuliakan harga diri mereka.  Salimah dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain  untuk menyelenggarakan dan bahkan mendapatkan pembiayaan program-program tersebut.

Sangat diharapkan pada setiap tingkat kepengurusan, diadakan upaya-upaya yang berarti dan berkesinambungan dalam menjalankan program bagi anak yatim. Alhamdulillah, Pimpinan Pusat telah  memberikan contoh dalam upaya-upaya tersebut. Dengan mengupayakan jalinan kerjasama yang baik dan kerja-kerja yang profesional,sejak sepuluh tahun yang lalu sampai saat ini PP Salimah mendapatkan kepercayaan dari berbagai elemen masyarakat dan institusi  untuk menghimpun anak-anak yatim dan melakukan berbagai program dan kegiatan bagi mereka secara berkesinambungan.  Diantara kegiatan tersebut adalah ; beasiswa pendidikan rutin diberikan setiap bulan sampai anak yatim tersebut berusia 18 tahun bekerjasama dengan Qatar Charity, pemeriksaan kesehatan, jalan-jalan bersama, nonton bareng film edukatif, outbond, aneka lomba, pembacaan cerita, taklim rutin anak yatim (TRAY), buka puasa bersama, dll.

Upaya-upaya yang telah dilakukan sebagian pengurus PW, PD dan PC serta Pra Salimah di seluruh Indonesia pun patut mendapakan penghargaan, namun perlu kita selalu tingkatkan kualitas dan kuantitas serta intensitas amal kita. Semakin rapih pengelolaan kegiatan serta pengelolaan administratif akan semakin baik. Semakin banyak jumlah anak yang diperhatikan dan semakin intensif kegiatan untuk memperhatikan kebutuhan mereka tentu itu pun akan semakin meningkatkan kebaikan dan keberkahan amal kita, serta kepercayaan mitra kerjasama kita. Pada gilirannya kerja yang baik akan menjadi track record, catatan kebaikan di hadapan Alloh maupun di hadapan mitra-mitra kita. Sehingga Salimah semakin mendapatkan kepercayaan untuk menjalankan kegiatan-kegiatan memuliakan anak yatim. Inilah buah dan keberkahan kerja ikhlas dan ihsan (profesional). Selamat memuliakan anak-anak yatim.

Leave a Reply