Fikih Muslimah 1 : Menjaga Kebersihan Rumah

by


Diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik RA, di antara tradisi yang berlaku di kalangan sahabat tatkala salah satu di antara mereka atau keluarganya melangsungkan pernikahan, mereka memberikan nasihat bagi mempelai perempuan agar mengurus rumah suami. Hal ini sebagai bentuk kewajiban dan kepatuhan kepadanya.

Konsep keluarga yang digariskan dalam Islam memosisikan perempuan sebagai mitra utama suami untuk mengelola hal ihwal dalam rumah. Selain berupa non-fisik, seperti mendidik dan mengawasi anak, istri memiliki tugas pula, yaitu mengurus rumah. Misalnya saja, berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti keperluan belanja, mengontrol biaya listrik dan air. Termasuk, menjaga kondisi rumah tetap dalam kondisi rapi, bersih, dan nyaman.

Kisah yang disampaikan Anas menjadi salah satu dasar yang menunjukkan pentingnya keaktifan seorang istri mengurus rumah. Namun, fakta di atas bukan berarti semua tugas pengurusan rumah terletak di pundak istri, alias suami tidak bisa dan atau tidak boleh membantu. Malah sebaliknya, suami diperkenankan terlibat langsung meringankan aktivitas istr tersebut.

Hal ini sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW Konon, seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Aisyah RA, bahwasanya Nabi Muhammad SAW turun tangan langsung mengerjakan pekerjaan rumah bahu membahu bersama istri-istrinya Sepan jang hari, Rasulullah selalu menyempatkan membantu istrinya. Sandal yang telah putus beliau sambung sendir dan saat mendapati pakaiannya robek, tak segan figur teladan umat Islam tersebut justru menjahitnya langsung, tanpa menyuruh istrinya.

Islam menekankan pentingnya menjaga kebersihan badan, pakaian, makanan sehari-hari, dan lingkungan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Muddatsir ayat 4, “Dan pakaianmu bersihkanlah.” Di bagian lainnya, Rasulullah menegaskan kebersihan merupakan senjata ampuh membentengi dari dari serangan penyakit.

Leave a Reply