Keunggulan Aktivitas Menuntut Ilmu Dalam Islam

by

selamat-hari-guru

Sosok guru, mu’allim, pendidik, atau murabbi merupakan sosok yang mendapat tempat istimewa dalam Islam. Kehadiran mereka yang mencerdaskan, memuliakan dan mensejahterakan lahir dan bathin umat  manusia sangat dirasakan. Karenanya, salah satu fungsi Rasulullah saw yang terbesar adalah sebagai ‘mu’allim’: “Sungguh aku diutus sebagai seorang mu’allim”.

                Al-Qur’an menggunakan beberapa terminologi untuk menunjuk mereka,  terkadang disebut sebagai ulama, ulul ilmi, ulul albab, ulul abshar, ahlu dzikri, dan sebagainya yang mengisyaratkan aktifitas mulia yang memang senantiasa digeluti dan dijalankan oleh para tenaga pendidik. Aktifitas belajar dan mengajar, mendidik dan membina merupakan aktifitas yang banyak diapresiasi oleh Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an menggelar mereka sebagai kelompok “Rabbaniyyun’ yang dinisbahkan kepada Rabb, karena aktifitas ‘ilmu’ dan ‘tarbiyah’ yang melekat dengan keseharian mereka. “Namun hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbani, karena kalian senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan tetap mempelajarinya”.

Disini, bermula keagungan Islam dan kontribusi terbesar bagi kemanusiaan dan peradaban. Rasul pun tidak pernah meminta  tambahan kepada Allah swt selain permohonan agar Allah berkenan menambah ilmu: “Dan katakanlah, ya Rabb tambahkanlah untukku ilmu”. (Thaha: 114). Semoga kita tetap bisa menjadi guru dan pendidik umat yang terbaik sehingga senantiasa terus menerus mendapat kemuliaan Allah swt. Amiin

Kajian berikut ini  dari DR. Atabik Luthfi, MA mengulas  URGENSI THALABUL ILMI sebagai salah satu Jihad dalam Islam.

(فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا)
[Surat Ta-Ha 114]

“Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Ayat ini jelas menggambarkan keinginan Rasulullah kepada Allah swt agar ditambahkan untuknya ilmu pengetahuan. Tentu permohonan Rasulullah ini juga berlaku bagi umatnya (baca: para ulama) yang merupakan pewaris peninggalan para nabi-nabi dan rasul Allah. Padahal mereka mewariskan pedoman yang sangat berharga bagi kehidupan manusia, kapan pun dan dimana pun tanpa terkecuali yaitu warisan ilmu Allah sebagai penerang dan petunjuk jalan kehidupan. Rasulullah sendiri telah mengisyaratkan kenyataan ini dalam sebuah haditsnya: “Ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan sedikitpun dinar maupun dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan itu, sungguh ia telah mengambil bagian yang terbanyak”. (H.R. Imam Ahmad dan Tirmidzi)

Masalah warisan sering menimbulkan konflik diantara ahli waris. Masing-masing menginginkan harta warisan itu menjadi miliknya keseluruhan atau sebagian besarnya. Berbagai cara ditempuh untuk mendapatkannya. Tidak jarang keretakan keluarga berawal dari perebutan harta warisan. Tetapi tidak dengan warisan peninggalan para nabi yang mulia. Padahal warisan itulah yang selayaknya mendapat perhatian serius umat untuk mencapai kegemilangannya. “Umat ini tidak bisa kembali bangkit meraih kejayaannya kecuali dengan mengikuti cara bagaimana umat terdahulu meraih kejayaan”. Demikian Imam Malik menegaskan kedudukan generasi awal Islam yang sudah sepatutnya diikuti oleh generasi berikutnya.

Masih dalam konteks persepsi warisan. Ketika Ibnu Mas’ud sedang serius melakukan aktivitas ilmiy bersama murid-muridnya, tiba-tiba seorang arab badui melewati majlis tersebut. Ia heran manakala menyaksikan bagaimana mereka sangat antusias mengerumuni Ibnu mas’ud sehingga terbersit di pikirannya bahwa mereka sedang menerima pembagian harta pusaka. Karena ingin mendapatkan bagian, ia mendekati sang guru yang tidak lain adalah Ibnu Mas’ud sambil berbisik: “Harta apa yang sedang dibagi-bagikan diantara mereka?”. Sambil tersenyum Ibnu Mas’ud menjawab: “Kami sedang membagi-bagikan harta warisan nabi Muhammad saw yaitu ilmu”. (Waratsatul Anbiya”, Syekh Abdul Malik Al-Qasim,hal 65)

Tentunya dalam skala prioritas, warisan para nabi dalam bentuk ilmu sangat tepat untuk dicari dan digali dengan penuh kesungguhan oleh kader dakwah sebagai generasi penerus estafeta dakwah para ulama dalam berbagai aktivitas yang menunjang; melalui sarana akademisi formal, tatsqif, forum kuliah dan kajian-kajian atau daurah. Sehingga nilai dan kualitas dakwah akan lebih terasa kuat pengaruhnya di tengah-tengah masyarakat. “Katakanlah (Hai Muhammad), inilah jalanku. Aku menyeru (manusia) kepada Allah diatas bashirah (ilmu, keyakinan dan bukti argumentasi, hujjah). (Yusuf: 108)

Ayat diatas merupakan salah satu ayat yang cukup popular dan sangat akrab di telinga kader dakwah. Namun seringkali penekanannya lebih terfokus kepada kata “ad’u” berdakwah. Padahal aktivitas “berdakwah” dalam konteks ini dikaitkan dengan “ala bashirah”, yaitu dakwah yang berdasarkan kafa’ah ilmiyyah yang memadai dan keyakinan yang mantap.

KEUNGGULAN AKTIVITAS ILMIY

Imam Ahmad dalam salah satu kata pengantarnya ketika membantah kelompok zindiq (atheis) dan jahmiyah (menyediakan Allah dg makhluk) antara lain menggariskan kedudukan ilmu dan para ulama: “Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Yang telah menjadikan dalam setiap fatrah (jeda, masa) ketiadaan rasul para ulama Ahlul Ilmi yang senantiasa berperan menyeru orang-orang yang sesat kepada petunjuk. Mereka bersabar atas keperihan dan kepayahan dalam mencari ilmu. Berapa banyak mangsa iblis yang sudah diselamatkan dan berapa banyak orang yang bingung ditengah jalan dihantar sampai ke tujuan. Sungguh besar pengaruh dan nilai mereka bagi umat ini”.
Begitu tinggi nilai aktivitas ilmiy dalam pandangan Imam Ahmad. Sampai beliau memandang bahwa kebutuhan manusia akan ilmu seharusnya lebih besar dari kebutuhan mereka akan apapun seperti makan dan minum. Manusia membutuhkan makan 1-2 kali sehari. Sedangkan kebutuhan mereka akan ilmu sebanyak hembusan nafas (setiap saat).

Imam Asy-Syaukani dalam tafsirnya Fathul Qadir (5/232) merinci kelebihan dan levelisasi orang-orang yang beriman berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Mujadilah: 11 “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat”. Allah memberi jaminan akan mengangkat kedudukan orang yang beriman atas orang yang tidak beriman. Allah juga akan mengangkat kedudukan orang yang berilmu atas orang yang tidak berilmu. Barangsiapa yang mampu memadukan dua kelebihan ini, maka baginya beberapa derajat atas keimanannya ditambah dengan beberapa derajat atas keilmuannya.

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam (Fathul Bari 1/141) tafsiran atas surah Al-An’am ayat 38 bahwa Allah mengangkat orang-orang yang dikehendakiNya hanya melalui sarana ilmu, karena itu Allah tidak memerintah RasulNya untuk meminta tambahan sesuatu kecuali tambahan ilmu. Allah berfirman: “Dan katakanlah, ya Tuhanku tambahkanlah ilmu untukku”. (Thaha: 114)

Inilah Manhaj Rabbani yang pernah ditempuh oleh generasi terbaik umat ini, generasi yang berada dalam kafilah thalabul ilmi. Rasulullah berpesan kepada Abu Dzar justru dalam konteks jihad ilmiy: “Hai Abu Dzar! Jika engkau keluar untuk mempelajari satu ayat Allah adalah lebih baik dari engkau sholat 100 rakaat. Dan jika engkau keluar untuk mempelajari satu bab ilmu, baik itu diamalkan atau belum adalah lebih baik dari engkau sholat 1000 rakaat”. (H.R. Ibnu Majah dengan sanad yang baik).

Muadz bin Jabal salah seorang duta Rasulullah saw ke Yaman mengemukakan pandangannya yang kritis tentang urgensi jihad ta’allumiy dan ta’limiy: “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah merupakan cerminan dari rasa takut kepadaNya. Mencarinya dinilai ibadah, mendalami dan mengulangkaji suatu ilmu merupakan tasbih, serta mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya merupakan sadaqah. Dialah pendamping di kala sendiri dan teman dalam keheningan”. (Jami’ bayan Al-Ilm Qafadhluh 1/54).

Aktivitas thalabul ilmi sangat mutlak bagi seorang kader dakwah. Jihad ini bisa membentengi diri dari godaan syetan dan menutup pintu masuknya iblis. Ibnul Jauzi dalam bukunya Talbis Iblis (Belitan Iblis hal 149) menyebutkan bahwa pintu terbesar masuknya iblis adalah kebodohan. Iblis akan sangat mudah dan tenang masuk kepada orang-orang jahil. Manakala terhadap orang yang berilmu, ia akan masuk dengan mencuri-curi. Sehingga membekali diri dengan ilmu yang bermanfaat merupakan factor utama dalam membentengi diri dari tipu muslihat syetan. Karena dengan bertambahnya ilmu maka akan bertambah kuat benteng keselamatannya dari tipu daya syetan.

Syekh Muhammad Abdul Wahhab mengkategorikan salah satu “Nawaqidhul Islam” (pembatal islam) adalah berpaling dari agama Allah, baik itu dengan tidak mempelajarinya maupun dengan tidak mengamalkannya. Kemudian beliau mengutip surah As-Sajdah ayat 22. Bahkan Imam Syafi’i dalam kitab Al-Majmu’ (1/21) menyatakan consensus para ulama bahwa segala bentuk aktivitas ilmiyyah tatsqifiyyah lebih utama dari apapun bentuk ibadah nafilah seperti puasa sunat, sholat sunat dsb.

Yang perlu dilakukan oleh kader dakwah adalah memperkuat semangat dan motivasi serta menjaganya saat semangat itu sudah terbina karena hati seseorang itu ada saatnya semangat tapi ada saat juga malas. Maka pertahankan dan manfaatkanlah saat kondisi hati itu baik. Demikianlah wasiat Ibnul Qayyim yang sangat layak untuk kita renungkan dalam konteks dakwah ilmiyyah. (Al-Fawa’id hal 143).

RIHLAH THALABUL ILMI

Jihad ilmiy jika dilaksanakan dengan penuh kesungguhan (mujahadah) seperti yang pernah dicontohkan oleh generasi awal Islam ternyata bisa menghadapkan kita dengan berbagai keperitan dan kepayahan layaknya sebuah jihad qital. Terkadang kesungguhan mereka seakan tidak bisa masuk dalam logika kita, karena begitu jauh suasana dan nuansa keseharian kita dengan mereka. Bayangkan, tercatat 35 ulama besar (termasuk di dalamnya Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi) merelakan untuk kehilangan nikmat biologis dan kasih sayang keluarga karena tidak menikah semata-mata lebih mementingkan maslahat umat melalui warisan ilmu mereka yang memberi pencerahan kepada umat secara keseluruhan. “Ini adalah ijtihad pribadi. Kami memandang bahwa nilai manfaat kami akan lebih besar dirasakan oleh umat. Maka hidup kami habis dengan jihad ta’allumi dan ta’limiy untuk kebaikan umat di masa depan”. Begitu hujjah mereka yang bisa kita simpulkan dari catatan perjalanan jihad ilmiy mereka yang tertuang dalam sebuah buku yang berjudul “Al-Ulama al-‘Uzzab Alladzina Atsarul Ilma Ala Zawaj”.

Diantara sunnah para pencinta ilmu generasi awal adalah melakukan rihlah dalam mencari ilmu. Fudhail bin Iyadh sampai menyatakan: “Allah menangguhkan atau mencegah terjadinya bencana atas umat ini karena rihlahnya para ahli hadits”. Tercatat lima kelebihan orang yang melakukan rihlah: pertama, menghilangkan kesedihan (menghibur diri dari kedukaan). Kedua, mendapatkan tambahan penghasilan. Ketiga, mendapatkan ilmu. Keempat, mengetahui adab, budaya atau moral suatu masyarakat. Kelima, mengenal orang-orang yang terhormat dan orang-orang mulia.
Syekh Abul Ala Al-Hamadani menceritakan perjalanan ilminya: “Saya melakukan rihlah ke Baghdad untuk mencari ilmu, sehingga saya terpaksa harus bermalam di beberapa masjid dan hanya makan roti jagung dalam perjalanan. Dalam satu hari, saya harus menempuh lebih dari 30 farsakh (150 km) dengan membawa buku-buku di atas punggung saya”. Lebih dari itu, Syekh Umar Ar-Rawwas dalam salah satu perjalanannya menuntut ilmu harus kehilangan beberapa jarinya yang beku karena dinginnya salju, karena pada saat itu tidak ada sesuatu yang bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan (Tadzkiratul Huffadz 4/1238).

Bahkan dalam perjalanannya Syekh Abdurrahman Al-Marwaziy terpaksa meminum air kencingnya sendiri agar bisa mempertahankan hidupnya untuk bisa meneruskan perjalananya yang cukup panjang dan melelahkan karena kehabisan bekal. Begitu juga dengan Syekh Muhammad bin Abi Hatim, ketika beliau melakukan perjalanan untuk menimba ilmu dari Syekh Adam bin Abi Iyas, beliau terpaksa makan rumput dan ilalang karena kehabisan bekal makanan. (Thabaqatul Kubra, As-Subki, 2/227).

Al-Hafidz Muhammad bin Thahir Al-Maqdisiy menceritakan kesakitan yang harus dideritanya di tengah perjalanan mencari ilmu. Beliau menuturkan: “Saya sampai kencing darah dua kali, sekali di Baghdad dan sekali di Mekah, karena saya harus berjalan tanpa beralaskan kaki di atas padang pasir yang panas membakar. Ditambah lagi, saya harus membawa buku-buku saya di atas pundak saya. (Tadzkiratul Huffadz 1/1243).
Demikianlah kepayahan dan kesusahan yang harus dilalui oleh para murabbi ilmu generasi awal Islam yang sangat tepat dalam kondisi sekarang ini untuk dijadikan uswah untuk membuka lembaran baru tarbiyah ilmiyyah dan tsaqafiyyah kita. “Mereka yang sungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan kemudahan” (Al-Ankabut: 69). Al-Fudhail bin Iyadh memahami ayat diatas dalam konteks jihad ilmiy :”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, maka Kami akan memberikan jalan kemudahan dan petunjuk untuk beramal dengan ilmunya”. (Tafsir An-Nasafiy 2/1307).

Pertanyaan yang kemudian harus diajukan kepada kita sebagai kader dakwah penerus tongkat dakwah mereka adalah: Aina Nahnu Min Ha’ula’i (Dimana posisi kita dibandingkan dengan mereka)?…Hayya Alal Jihad Al-Ilmiy.WaLlahu A’lam👆

Dari Cuplikan Tafsir Tazkiyah , Karya DR. Atabik Luthfi, MA.