Cara Bersiwak yang Aman

by

PicsArt_1438585071267‘Bersiwak membersihkan mulut dan berpahala.'(HR Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, Al Baihaqi, An Nasai)

Hadits tersebut mengajarkan kepada umat Islam agar senantiasa menjaga kebersihan gigi dan mulut. Caranya dengan bersiwak, yaitu membersihkan gigi dan mulut dengan alat tertentu.

Bersiwak disunahkan di setiap keadaan, tapi lebih disunahkan di tiga keadaan berikut.
Pertama, ketika bau mulut berubah. Misalnya disebabkan diam terlalu lama, efek makanan tertentu, atau lapar.

Terkait ketentuan ini, para ulama berbeda pendapat dalam hal bau mulut orang yang berpuasa, apakah tetap disunahkan bersiwak atau tidak. Sebagian mengatakan tetap disunahkan berpegang pada hadits tersebut.
Sedangkan yang mengatakan tidak. berpegang pada hadits, “Bau mulut orang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada misik. (HRBukhari dan Muslim). Hadits ini dipandang sebagai pengecuali (mukhassish) terhadap hadits pertama.

Kedua, ketika bangun tidur.
“Rasulullah saw jika bangun tidur membersihkan mulutnya dengan bersiwak.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga, ketika hendak mendirikan shalat. Nabi Muhammad saw bersabda, “Seandainya tidak akan merepotkan umatku. maka aku akan perintahkan kepada mereka bersiwak setiap akan shalat,” (HR Bukhari dan Muslim).

BERSIWAK DENGAN PASTA GIGI

Anjuran oleh agama adalah bersiwak, yang artinya membersihkan gigi dan mulut. Sedangkan alat yang digunakan, agama tidak menentukan secara baku. Pada masa Nabi saw, alat yang digunakan bersiwak adalah ranting kayu tertentu. Namun kini bersiwak dengan sikat gigi dan pasta gigi dinilai lebih sesuai dengan sunah, karena diyakini bisa lebih bersih.

Artinya, anjuran bersiwak merupakan syariat yang tidak akan berubah. Tetapi alat untuk bersiwak merupakan wilayah fiqih yang bisa berubah, sesuai dengan perkembangan zaman. Bahkan membersihkan gigi dan mulut dengan jari tangan, oleh para ulama sudah dianggap bersiwak.

Para ulama mengatakan, bersiwak tidak harus didahului niat. Hal ini disamakan dengan menghilangkan najis (izalatuan-najasah) yang juga tidak memerlukan niat. Berbedamdengan mengangkat hadasm(raf’u al-hadas) yang harus didahului dengan berniat. Namun begitu, sebelum membersihkan gigi dan mulut setiap Muslim harus memastikan kesucian dan kehalalan alat yang akan dipakai, baik sikat gigi maupun pasta gigi.

TITIK KRITIS KEHALALAN

Titik kritis sikat gigi yang perlu diteliti lebih lanjut adalah :

1. Bulu sikatnya, apakah terbuat dari bahan sintetis atau berbahan baku bulu. Kalau terbuat dari bahan sintetis, umumnya aman. Tapi kalau berbahan bulu, harus dipastikan bukan berasal dari bulu babi atau bulu hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, sebab haram.

2. Pasta gigi tersedia beragam fungsi dan rasa. Ada yang untuk memutihkan gigi, menghilangkan karang gigi, mencegah bau mulut dan untuk gigi sensitif, titik kritis ada pada bahannya.

Misal, emulsifier atau pengental yang berfungsi untuk menyatukan bahan cairan dan lemak. Bahannya ada yang nabati dan hewani. Jika bahannya nabati, aman digunakan karena berasal dari tumbuhan. Namun bila berbahan hewani, harus ditelusuri lebih lanjut . Bila berasal dari babi atau hewan halal yang tidak disembelih secara syari, tidak boleh digunakan, karena najis.

Kalsium juga menupakan bahan baku pasta gigi yang perlu diteliti lebih lanjut. Kalsium ada yang terbuat dari tulang dan kapur Kalsium yang berbahan tulang harus diwaspadai berasal dari hewan apa. Kalau dari babi atau hewan halal yang tidak disembelih secara syari, maka tidak boleh digunakan

Ada pula kalsium yang terbuat dari kapur. Untuk bahan produksi pasta gigi sepertinya bahan yang terakhir ini yang banyak dipakai. Selain lebih ekonomis juga lebih mudah dalam prosesnya.

3. Xylitol merupakan pemanis yang sering digunakan sebagai bahan produksi pasta gigi la digunakan untuk memunculkan fungsi mengurangi karang gigi. Xylitol bisa terbuat dari mikrobial dan zat kimiawi. Bila berasal dari produk mikrobial, maka harus dilihat media pertumbuhannya. Jika menggunakan bahan turunan babi, maka tidak boleh digunakan.

Jika media pertumbuban menggunakan bahan hewani selain babi, harus dilihat apakah menggunakan hewan yang telah disembelih secara syar’i. Kabar baiknya, lantaran harganya mahal, produsen lebih memilih bahan pemanis dari ekstrak serat jagung, dan lebih aman. Selain itu, ada pula bahan gel dalam pembuatan pasta gigi. Bahannya biasanya berasal dari rumput laut, aman untuk digunakan.

4. Sedangkan penyegar yang ada di pasta gigi biasanya ditambah dengan mint. Bahan mint ini dari mentol yang termasuk kelompok alkohol tapi bukan etanol, yang bukan berasal dari industri khamr, sehingga aman untuk digunakan.

Bahan baku pasta gigi sebagaimana disebut, tentu saja tidak dijelaskan asal muasalnya di kemasannya, sehingga konsumen sulit mengetahuinya tanpa penelusuran ke pabriknya. Untuk lebih menenangkan hati, sebaiknya pilih pasta gigi yang telah berlogo halal MUI, sebab sudah dipastikan keamanannya. Wallahu a’lam.

Oleh Drs H Sholat din AI Ayub, sumber Ummi Majalah

Humas Salimah Humas Salimah

Gravatar Image
Humas Salimah, menyampaikan berita aktivitas muslimah dari seluruh Indonesia serta informasi edukasi perempuan, karena Salimah peduli meningkatkan kualitas perempuan, anak dan keluarga Indonesia.