Mendidik Anak Sesuai dengan Usia. Ada Apa dengan Masa Anak-anak?

by

tahap-tumbuh-anakObsesi pada Masa Depan Anak
Seorang ibu bertanya, apakali ía perlu mendaftarkan anaknya yang berusia 3 tahun untuk ikut kursus membaca karena khawatir anaknya tidak diterima di Sekolali Dasar unggulan yang mensyaratkan calon siswa kelas I harus sudah dapat membaca.
Ibu lain juga bertanya, apakah sikapnya tepat membacakan artikel kedokteran dari mulai mengandung sampai janinnya lahir agar anaknya menjadi dokter.
Ada lagi ibu yang sudah mendaftarkan anaknya untuk mengikuti bimbel di saat anaknya masi duduk di kelas dua.

Ery-Soekresno
Dra.Ery Soekresno, Psi.Msc

Contoh di atas merupakan ekspresi kekhawatiran orang tua akan masa depan anaknya. Sibuk menyiapkan masa depan membuat anak tak lagi memiliki waktu untuk mengerjakan proyek atau kegiatan yang menyenangkan dan bermakna seperti membuat bangunan dari balok, berkebun, melukis, teater dan lain-lainnya.

Penelitan tentang otak juga memberikan kekhawatiran baru. Simulasi sejak dini akan mempengaruhi perkembangan otak anak. Banyaknya kecemasan-kecemasan ortu dan guru yang juga dirasakan anak. Anak-anak menjadi stress. Stres sebenarnya hanya separuh cerita, anaka anak juga akhirnya tidak memiliki pengalaman yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Kita telah merampok kesempatan anak untuk mengembangkan kapasitasnya di tahap perkembangan yang sedang dijalaninya.

Banyak sekolah akhirnya juga memberi tekanan baru bagi siswa-siswanya. Guru tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan potensi sosial emosional siswa karena sibuk menyiapkan siswanya untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung.

Berpusar pada Anak
Untuk membantu anak berkembang, orang tua dan guru perlu memperbatikan isyarat-isyarat dan anak, memberikan perhatian khusus pada minat dan perasaan spontannya. Anak akan menunjukkan minat yang besar pada hal-hal yang membuat mereka dapat mengembangkan kekuatannya, mereka akan bekerja dengan semangat dan penuh konsentrasi. Setelah selesai, anak akan terlihat bahagia dan merasa damai, karena sudah dapat mengembangkan kemampuannya. Orang tua dan guru perlu memperhatikan ekspresi emosi anak sebagai salah satu petunjuk terhadap kegiatan yang diperlukan anak.

Bukan Memanjakan dan Berikan Bantuan yang Pas
Sikap orang tua untuk segera memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan anak, tidak sama dengan memanjakan. Respons yang pas dan orang tua akan memberikan nuansa “trust” yang akan membebaskan anak untuk mengeksplorasi dunia dengan kemandirian yang sesual dengan usianya.

Orang tua dapat memberikan batasan tapi tetap mengembangkan kapasitas anak. Biasakan “dinding bukan untuk menggambar, gunakan kertas. lni kertasnya.” Penting bagi orang tua untuk memberikan batasan perilaku yang menyakiti atau tidak menghormati orang lain. Bantuan juga diberikan sesuai dengan kemampuan apa yang anak belum kuasai.

Di sekolah, gurupun menggunakan pendekatan disiplin positif Guna menghargai anak dan mencoba menyelesaikan masalah dengan berbicara. Guru konsisten dengan aturan yang telah disepakati dan sesuatu harus terjadi ketika siswa melanggar kesepakatan.

Peran Orang tua dan Guru, Ada dan Tiada
Orang tua dan guru memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan anak. Ada banyak cara membantu anak untuk dapat belajar sendiri, misalnya sediakan materi yang menggoda rasa ingin tahu anak dan biarkan anak melakukan eksplorasi sendiri. Sebaiknya orang tua memang tidak terlalu banyak instruksi atau masuk terlalu dalam pada kegiatan anak. Lakukan seperti induk hewan “memperhatikan sepanjang waktu untuk keselamatan, tapi bertindak hanya ketika anaknya membutuhkannya..”

Orang tua dan guru perlu sabar untuk menunggu sampai anak menguasai keterampilan yang sedang dipelajarinya. Yakinlah bahwa kegiatan apa yang dipilih anak pasti penting bagi perkembangannya — orang tua dan guru perlu belajar tidak mengganggu kemandirian anak saat bermain. Berikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk memegang peran mengatur cara bermainnya, kecepatan, waktunya dan juga ritme interaksinya.

Orang Tua, Guru Pertama dan Utama
Bagaimana perasaan ortu saat pertama kali anak anda memanggil anda mama atau papa? Apakah ortu terkejut ? Bangga?
Pada saat inilah ortu telah menjadi seseorang yang memiliki kemampuan dan kekuatan lebih di hadapan anak anda untuk memberikan pola pengasuhan yang terbaik dan menjadi mitra belajar. Belajar bukan cuma mengisi otak anak dengan angka, bentuk-bentuk geometris atau huruf.

Riset menunjukkan betapa pentingnya kesiapan social emosional dalam kesuksesan anak di sekolah dasar, dan bahkan kesuksesan di dunia kerja.
Anak yang siap digambarkan seperti ini:
o Percaya din, ramah, mampu membangun hubungan yang baik dengan teman
sebayanya
o Mampu berkonsentrasi dan terus bertahan untuk dapat menuntaskan tugas yang Inenantang
o Mampu mengungkapkan nasa frustrasi, marah, dan kebahagiaannya secara efektif
o Mampu menyiniak instruksi dan memberikan perhatian

Apa sebenarnya yang terjadi ketika anak-anak memiliki keterampilan sosial emosional yang rendah atau pengendalian diri yang  rendah?
•• Sulit diberikan pelajaran karena anak belum kompeten untuk taat pada peraturan, mendengarkan dan fokus, juga kurang mampu memahanii instruksi akibatnya guru kurang positif pada anak-anak mi
•• Kurang disukai teman sebaya. Hal ml membuat anak tidak rnemiliki dukungan teman untuk belajar dan yang lebih parah lagi tidak ada dukungan emosional dan teman
(• Penolakan dan teman sebaya dan juga dan guru membuat anak menjadi tidak suka sekolah dan belajar. Akibatnya, anak jarang hadir di sekolah dan prestasinya buruk. Hal liii akan wins berpengaruh sarnpai usia sekolah dasar dan selanjutnya.

Ada beberapa keterampilan sosial emosional yang perlu dilatihkan dalam rangka melejitkan potensi akademisnya, diantaranya:
o Mengenali dan memahami perasaan orang lain
o Secara tepat mampu membaca dan memahami kondisi emosi orang lain
o Mengatasi emosi negatif dan dapat mengungkapkan emosi dengan eara
konstruktjf
o Mengendalikan perilaku diri
o Mengembangkan empati
o Membangun dan mempertahanican pertemanan atau persahabatan

Setiap keterampilan berkembang sesual dengan waktunya, tapi satu keterampilan dibangun dari keterampilan sebelumnya. Misalnya anak pernah belajar memahami dan mengenali perasaarrnya sendiri, dan secara bertahap belajar untuk menghubungkan dan mengasosiasikan nama perasaan dengan perasaannya, belajar  bahwa orang lain juga punya perasaan dan mulai berempati dengan perasaan orang lain. Dengan bertarnbahnya usia, anak belajar memanajemeni perasaannya, mengatasi rasa cemas, takut, sedih atau frustrasi dan belajar menunda pemuasan segera dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya.

Semua keterampilan ini membantu anak mampu mengendalikan dirinya sehingga ketika sudah dewasa misalnya keterampilan ini dapat membantu seorang “salesman” untuk memahami pembeli potensial dan ekspresi wajah dan bahasa tubulmya, mendorong atlit untuk bertahan sampai mendapatkan medali emas, membantu istri atau suami memahami atau empati dengan perasaan pasangannya sehingga mampu menahan din untuk tidak beradu argumen atau membantu menjadi wanga Negara yang baik dan menahan diri untuk tidak melukai saat merasa terganggu dengan perilaku tetangganya.

Wallahu a’lam bishowab
Semog Bermanfaat dan Memberikan Inspirasi
Dra. Ery Soekresno.Psi.M.sc(E4u)

Leave a Reply