Yang Harus Orangtua Ajarkan pada Anak , Untuk Memupuk Waspada Demi Keamanan Dirinya. 

by
Ajatkan-Anak-waspada-pada lingkungan
Sumber tempo.co
Ajatkan-Anak-waspada-pada lingkungan
Sumber tempo.co

Banyaknya peristiwa kejahatan terhadap anak memang bikin orangtua cemas.Apalagi pelakunya tak melulu orang tak dikenal. Sopan santun dan keramahan memang musti dijaga, tetapi meningkatkan kewaspadaan anak terhadap lingkungan kini jadi sebuah tuntutan.

Beberapa fakta terkait dengan penculikan, tindak kekerasan dan kejahatan terhadap anak kini semakin meningkat. Siapapun orangtua, kini harus waspada akan kemungkinan terjadinya kejahatan terhadap anak. Jangan berdalih, “Ah, nggak bakalan ada yang mau nyulik anak saya. Kami kan bukan orang kaya yang punya uang untuk ditagih uang tebusan!” Sebab kasus penculikan anak tidak melulu berhubungan dengan alasan uang tebusan.

Banyak kasus penculikan kini dilakukan untuk trafficking (penjualan) anak. Alasan penjualannyapun bermacam-macam, ada yang menjualnya kepada kelompok yang memiliki kelainan orientasi seksual terhadap anak-anak (pedophilis), pelacuran atau untuk dipekerjakan. Naudzubillah.

Maka mengajarkan anak untuk waspada terhadap lingkungan dan orang asing menjadi kebutuhan penting saat ini.

Waspada orang asing 

Siapa yang dimaksud dengan orang asing bagi anak? Menjelaskan hal ini memang cukup sulit karena dari banyak kejadian tindak kekerasan dan kejahatan terhadap anak, pelaku justru merupakan orang-orang dekat atau yang dikenal oleh anak.

Tetapi, secara umum, kita bisa menjelaskan bahwa orang asing adalah orang di luar keluarga sedarah ibu, kakak, adik atau kakek dan nenek).

Di antara orang asing ini ada orang asing yang perlu dicurigai, yaitu mereka-mereka yang tidak mendapat kepercayaan dari orangtua. Pada mereka, anak perlu diajari untuk tidak menanggapi menawarkan bantuan tumpangan , menawarkan makanan dan minuman, atau mengajak pergi berjalan-jalan.

Namun, jelaskan juga bahwa ada pula orang asing yang bisa kita percaya. Hal ini penting, agar anak tidak beranggapan tak ada orang yang bisa dipercaya selain orangtuanya. Kalau ini yang terbentuk, saat ia berada di luar lingkungan rumah atau di ruang publik dan mengalami kesulitan seperti tersesat, ia akan kesulitan mendapatkan pertolongan.

Orang asing yang dapat kita percaya misalnya, guru pelatih, kepala sekolah, konselor sekolah, polisi atau satpam yang berpakaian seragam.

Meski demikian, pada orang-orang asing yang dapat dipercaya pun ada adab dan batasan yang perlu dijelaskan kepada anak, semisal batasan aurat, batasan kedekatan fisik dan batasan sentuhan

Memang tidak enak untuk mendiskusikan potensial bahaya yang mungkin terjadi orang-orang asing. Namun, bila dibicarakan dengan cara yang tepat, dan disesuaikan dengan usia anak insya Allah kewaspadaan anak akan terasah tanpa menghilangkan kesopanan dan keramahannya

Salah satu cara agar anak bisa mencurigai orang asing secara proporsional adalah dengan mengatakan bahwa ‘Kebanyakan orang adalah orang yang baik dan akan menolong kita, tapi ada sedikit di antara mereka yang punya niat jahat. Jadi kita harus hati-hati dan bisa menjaga diri.  Dengan kehati-hatian ini Insya Allah kamu akan aman.’

Sesuaikan dengan tahapan usia anak. 

Dilihat dari usia anak, ada 3 tahapan untuk mendiskusikan tentang waspada orang asing kepada anak.

Pertama, usia pra sekolah (3-5 tahun).

Pada tahapan ini, anak senang bertanya tentang apa saja dan mudah dikelabui orang lain. Ajarkan anak mengenali dan mengingat identitas alamat, dan nama dirinya, seperti nama,usia, orangtua.

Melalui games dan drama orangtua bisa mengajarkan perilaku apa yang diharapkan saat berinteraksi dengan orang lain di sarana umum. Misalnya, berani bertanya kepada orang berseragam (polisi, satpam), bila suatu waktu terpisah dengan orangtua saat berada di ruang publik dan mampu menjelaskan identitasnya

Kedua, usia sekolah (6-9 tahun). 

Pada tahapan usia ini, anak sangat peduli pada hal salah dan benar. Mereka sudah bisa belajar aturan keamanan dasar. Saat ini anak juga sudah mulai banyak bekerjasama dengan orang dewasa.

Cara yang tepat mengajarkan kewaspadaan pada usia ini adalah lewat contoh kongkrit yang dimainkan dalam bentuk permainan peran dan percobaan aturan yang diulang-ulang

Ketiga, remaja (usia 10 tahun ke atas). 

Remaja sudah lebih mampu menghadapi situasi bahaya dan mengenali potensi bahaya. Mereka juga sudah lebih banyak berada di lingkungan teman-temannya. Cara yang tepat mengajarkan remaja adalah dengan berdiskusi dan menggunakan kejadian nyata sebagai contoh.

Percaya diri bukan penakut

Menumbuhkan kewaspadaan tidak perlu bertentangan dengan kesopanan yang kita ajarkan kepada anak-anak. Anak pun perlu diberi pengertian mana tindakan yang merupakan bentuk waspada dan mana yang berupa bentuk tidak sopan.

Anak misalnya perlu diasah keberaniannya untuk berteriak saat ada orang yang menarik menyentuh bagian pribadi tubuhnya atau memaksa anak membuka pakaian. Beri penekanan bahwa teriakannya adalah tindakan penyelamatan diri. Namun, berteriak saat diajak berkenalan dengan orang dewasa, tamu .orangtua, adalah perilaku tidak sopan yang perlu segera dikoreksi oleh orangtua

Penting diingat kewaspadaan yang kita ajarkan kepada anak ini adalah sebuah bentuk latihan memupuk kepercayaan diri, bukan memupuk ketakutan.

Mengajarkan anak menjadi serba curiga terhadap orang-orang di sekitar justru berbahaya dan bisa merusak kepribadian anak. Bayangkan jika orangtua mengajarkan untuk curiga terhadap lingkungan sosialnya. Tidak akan pernah lagi kita melihat anak-anak bermain sepeda dengan riang, saling bertegur sapa dan bekerjasama .

Anak yang penakut justru membahayakan dirinya sendiri. Mereka tak mampu mengenali perasaannya, apalagi bertindak di saat ia membutuhkan pertolongan.

Sebaliknya anak yang percaya diri adalah anak yang mampu mengekspresikan perasaannya, memiliki rasa keadaan bahaya dan mampu bertindak saat mem butuhkan pertolongan

Bagaimana caranya? 

Menumbuhkan kewaspadaan dapat dilakukansecara bertahap, tidak instan. Nancy Samalin, konselor parenting Parents Guidance workshop dalam websitenya memberikan contoh.

Salah seorang ibu yang memiliki anak laki-laki berusia 6 tahun saat hendak ke luar rumah berkata pada si anak.  “Hati-hati di luar sana, jangan bicara dengan orang asing. Kalau ada yang kasih kamu permen jangan terima. Kalau ada yang bertanya, jangan jawab.  Kalau ada yang menawarkan tumpangan, jangan diterima.” Kemudian, ibu itu melanjutkan, “Ada pertanyaan?” 

Anaknya pun menjawab dengan polas, “Ibu, apakah nanti ada seseorang yang akan memberikan saya Permen ?” 

Ajarkan Anak Menganalisa Keadaan Secara Sederhana

Jadi, apa yang ada dalam pikiran, ketakutan, serta harapan orangtua belum tentu dimengerti oleh anak. Maka gunakan contoh ‘apa yang terjadi jika’ untuk membantu anak menganalisa keadaan secara sederhana dan mencari jalan keluar.

Tiga pertanyaan dasar yang bisa dibuat orangtua adalah :

Apa yang terjadi jika …”

“Apa yang bisa kamu lakukan jika …..”

“Apa lagi yang bisa kamu lakukan jika …”

Tiga pertanyaan dasar ini dapat kita berikan sambil bermain peran dan games dengan Anda sebagai pemeran orang asing dan anak memilih tindakan.

Beberapa ucapan dan tindakan yang juga bisa diajarkan adalah kalimat “Tidak terima kasih” dan “Maaf, saya tidak kenal Anda”.

Begitu pula pilihan untuk berteriak minta tolong dan memberitahu kepada kelompok orang asing yang bisa dipercaya.

Meski demikian, segala upaya ini hanyalah merupakan ikhtiar kita manusia. Namun sekuat apapun kita menjaga anak-anak, tangan kita tak aka mampu melindungi mereka selama 24 jam.

Maka satu hal terpenting yang harus didahulukan diatas semua ikhtiar ini adalah menguatkan permohonan perlindungan kepada Allah swt Semoga dengan ikhtiar dan tawakal ini selamatlah keluarga dan anak-anak kita.

(Sarah Handayani) Sumber Majalah Ummi

 

RelatedPost

Humas Salimah Humas Salimah

Gravatar Image
Humas Salimah, menyampaikan berita aktivitas muslimah dari seluruh Indonesia serta informasi edukasi perempuan, karena Salimah peduli meningkatkan kualitas perempuan, anak dan keluarga Indonesia.