Balada “Yuyun”

by

balada-yuyun

Yuyun, nama panggilan seorang anak perempuan (almarhumah) yang akhir-akhir ini menyita perhatian publik dan menyentak nurani masyarakat Indonesia.

Nama yang disematkan kedua orang tuanya pada anak yang terlahir 12 tahun yang lalu. Ia anak yang sangat dicintai dan disayangi serta diperhatikan oleh bapak dan ibunya. Bukti perhatiannya adalah ia disekolahkan di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Kabupaten yang pernah mempersembahkan 5 kilogram emasnya untuk membangun Tugu Monumen Nasional di Jakarta puluhan tahun lalu, dan masih bisa dinikmati oleh pengunjung dari berbagai penjuru serta menjadi salah satu monumen kebanggaan masyarakat Indonesia.

Takdir Allah, yang menentukan Yuyun terlahir di Provinsi termiskin di Sumatera. Sungguh mengenaskan, saat ‘tuak’ (miras) merajalela beredar di Bengkulu, tepatnya di Desa Kasie Kasubun yang merupakan salah satu dari empat daerah yang secara berjenjang mewakili kemiskinan akut yang berujung pada maraknya kejahatan yang menewaskan Yuyun dengan cara biadab.

Kejahatan pada Yuyun bukan hanya akibat mabuk tuak, namun akibat negatif tak sadarkan diri 14 pemuda inilah yang akhirnya berujung pada kematian korban dengan sangat mengenaskan. Seorang anak perempuan belia yang tidak mengerti mengapa dirinya harus meregang nyawa tanpa ada kesalahan yang dilakukannya. Ia seorang diri “dimangsa” 14 laki-laki dalam kondisi mabuk. Sedih membayangkan peristiwa dramatis itu, air mata tak dapat terbendung membasahi pipi. Ia anak bangsa Indonesia yang berharap masa depan yang baik di negeri ini, kakek dan nenek moyang bangsa ini secara turun-temurun dikenal sebagai bangsa beradab, mengajarkan sikap santun, welas asih, gotong-royong bahkan bangsa ini mengenal tidak hanya swasembada, juga swadaya, swakarya, bahkan memiliki semboyan “gemah ripah loh jinawi, toto tenterem kerto raharjo” (kekayaan alam yang berlimpah dan keadaan yang tenteram).

Minuman keras, mengakses pornografi, pengangguran dan kemiskinan bak virus yang mewabah dan berkeliaran membidik insan Indonesia menjadi pelaku kejahatan seksual dan biadab. Tidak hanya kejahatan seksual namun juga kekerasan fisik, mental dan terus mencari mangsa yang akan diburu. Jangan sampai ada korban seperti Yuyun yang berikutnya, tentu saja dengan melakukan berbagai upaya pencegahan.

Sebagaimana peribahasa “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak” Kasus di atas sudah terjadi dan menyisakan pelajaran besar bagi keluarga, masyarakat, organisasi masyarakat dan pemerintah terhadap apa yang akan diperbuat, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali.

Tentu saja hal ini membutuhkan kerjasama menyeluruh dari berbagai pihak.

Adalah ayat Allah Ta’ala seakan memberi teguran, “Dan mengapa kalian tidak mau berjuang di jalan Allah dan membela orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdo’a, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.”

Ayat 75 dalam al Qur’an Surah Annisa ini mengingatkan ormas Persaudaraan Muslimah (Salimah), yang peduli terhadap kualitas hidup perempuan, anak dan keluarga Indonesia. Bersama seluruh keluarga Indonesia, organisasi masyarakat dan dukungan pemerintah RI untuk mengambil sikap sigap dan langkah konkrit guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Bagi Keluarga Indonesia yang mencintai putera-puterinya :

  • Memberikan perhatian, kasih sayang dan cinta kepada anak-anaknya. Juga mengenali teman anaknya, pergaulan di sekitar mereka, menjaga perasaan nyaman anak-anak di rumah. Semoga dengan perhatian orang tua, anak merasa diawasi, betah di rumah dan terbuka kepada orang tuanya.
  •  Menjadi orang tua yang bersemangat untuk terus belajar dan menambah ilmu, baik ilmu yang terkait dengan menjadi orang tua yang baik, mengenali perkembangan teknologi masa kini dan lainnya.
  • perlindungan kepada Yang Maha Esa terhadap putera-puterinya. Hanya Dia Yang Maha Melindungi dimanapun ananda berada. Karena hati nurani bapak dan ibu yang bersih, tentu tidak menghendaki hal ini terjadi, baik ortu korban maupun ortu pelaku.

Bagi Ormas Salimah di seluruh Indonesia, dengan rasa kemanusiaan dan terpanggil untuk berpartisipasi dalam mencegah kemungkaran. Ormas Salimah yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, khususnya di Pimpinan Wilayah Bengkulu dan Pimpinan Daerah Rejang Lebong, dengan melaksanakan program berikut :

  • Menggalakkan program pendidikan bersama seluruh elemen masyarakat sekitar, melibatkan keluarga sekitar melalui pembentukan Komunitas Orangtua Bijaksana (KOB), Sekolah Ibu Salimah Terpadu (SISTER) yang lebih menyeluruh dan berkesinambungan.
  • Mendampingi keluarga Indonesia dan bekerjasama dengan aparat pemerintah setempat, juga bekerjasama dengan LSM dan elemen masyarakat lainnya, melalui edukasi entrepreneur dan realisasi yang bisa diwujudkan, dengan memperhatikan SDM dan SDA dengan memperhatikan kearifan lokal.
  • Mewujudkan Pelatihan Kepribadian Muslimah (PKM), dengan menyertakan anggota masyarakat sebagai Relawan Cinta Negeri, sebagai pendamping aktif bagi masyarakat yang lebih memahami budaya setempat, agar pendekatan yang dilakukan lebih bijaksana.

Kepada Pemerintah Republik Indonesia, dengan menjunjung tinggi sila kedua dan kelima Pancasila, perlu memperhatikan hal-hal berikut :

  • Memberikan rasa keadilan bagi korban dan keluarganya, dengan mencegah kejadian yang serupa, melalui pemberian hukuman yang membuat pelaku merasa bersalah dan jera untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
  • Segera mensahkan Undang-Undang (UU) Anti Miras beredar secara bebas dan menjadikan setiap minuman yang memabukkan masuk dalam kategori Miras.
  • Segera mensosialisasikan UU Anti Pornografi dan membuat peraturan yang membatasi tayangan pornografi yang mudah diakses.
  • Membuat program-program pengentasan kemiskinan di seluruh pelosok negeri.

Rekomendasi di atas menjadi perhatian Ormas Salimah, mengingat 40 persen penduduk Rejang Lebong ini sebagai penerima bantuan beras miskin terbanyak, penerima terbesar Kartu Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia sehat dan kartu Indonesia Pintar.

Bantuan ini seperti belum mencukupi dengan sekedar menjadikan anggota masyarakat Penerima lebih mengarah kepada sikap pasif dan bukan aktif. Dengan mendidik dan menyediakan lapangan kerja akan lebih menuntut keaktifan dan keterlibatan para pemuda pengangguran ini dan dianulir lebih mengenai sasaran, memungkinkan energi besar mereka tersalurkan dengan tepat dan diharapkan akan meminimalisir pemikiran, tontonan dan aktifitas buruk mereka.

Salam Salimah
Siti Faizah
Ketua Umum PP Salimah