Mencari Pemimpin yang Agamawan dan Negarawan

by

img_0602

“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin- pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan Hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.” (al-Anbiya’[21] : 73)
A yat ini berbicara tentang sosok pemimpin ideal yang akan memberikan dampak positif dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi, manusia pilihan Allah. Mengingat secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan lahir dan batin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari gur pemimpin ideal, sosok yang akan memberi kebaikan dan keberkahan bagi Bangsa dimana pun dan kapanpun berada.
Ayat yang berbicara tentang kriteria pemimpin ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah as-Sajdah ayat 24, “Dan Kami (Allah) jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” Kesabaran yang dimaksud pada ayat ini menjadi pembeda dengan ayat pada surah al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan kebenaran dengan komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar, karena akan berhadapan dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebatilan dan kemaksiatan di tengah-tengah umat.
Menurut imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al- Azhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah, bahwa para pemimpin ideal itu senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Allah. Kemudian secara aplikatif mereka memberikan keteladanan dalam aspek ibadah sehari-hari, seperti dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ (ahli ibadah) yang senantiasa tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah dengan merealisasikan ajaran-ajaran-Nya yang mensejahterakan.
Pada ayat di atas disebutkan dengan “Wakanu Lana Abidin” bukan “Wakanu Abidin” merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang mereka perbuat terlahir dari rasa iman kepada Allah, dan jauh dari kepentingan politis atau semata-mata malu karena jabatannya. Maka kata “lana” (hanya kepada Kami) adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat kebaikan selama masa kepemimpinannya.
Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan, bahwa kriteria pemimpin yang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal, sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka, “Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senan- tiasa mengerjakan beragam kebajikan”. Fi’lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat-Nya secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.
jalan Allah. Kemudian secara aplikatif mereka memberikan keteladanan dalam aspek ibadah sehari-hari, seperti dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ (ahli ibadah) yang senantiasa tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah dengan merealisasikan ajaran-ajaran-Nya yang mensejahterakan.
Pada ayat di atas disebutkan dengan “Wakanu Lana Abidin” bukan “Wakanu Abidin” merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang mereka perbuat terlahir dari rasa iman kepada Allah, dan jauh dari kepentingan politis atau semata-mata malu karena jabatannya. Maka kata “lana” (hanya kepada Kami) adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat kebaikan selama masa kepemimpinannya.
Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan, bahwa kriteria pemimpin yang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal, sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka, “Telah Kami wahyukan kepada mereka untuk senan- tiasa mengerjakan beragam kebajikan”. Fi’lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat-Nya secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.
satu aspek tertentu menunjukkan minimnya atau ketidakmampuannya menjadi ‘imam’ seperti yang diisyaratkan kedua ayat kunci di atas.
Karena itu mencari sosok pemimpin ideal bukan pekerjaan mudah dan instan, tetapi merupakan kerja serius dan kontiniu dalam bingkai pembinaan yang berjalan baik, sehingga stok kepemimpinan tidak pernah langka dan selalu siap tersedia. Maka aspek kepemimpinan sangat terkait erat dengan aspek pembinaan (kaderisasi) yang harus dikerjakan secar serius dan kontiniu. Pemimpin yang lahir dari sebuah proses pembinaan yang baik, tentu jauh lebih baik daripada pemimpin yang lahir secara instan karena popularitas, kedekatan maupun faktor keturunan, dan lain sebagainya.
Dalam pepetah Arab disebutkan,
Tidaklah pemimpin-pemimpin itu melainkan ibarat kotak- kotak yang tertutup rapat
Tidak lain kuncinya adalah pengalaman (akti tas kehidupan sehari-hari).
Pepatah ini merupakan sebuah rumusan dalam mencari gur pemimpin. Track record merupakan kunci membuka kepribadian seorang pemimpin; bagaimana shalat, amal, kiprah, kinerja, dan kehidupan sehari-harinya bersama keluarga dan masyarakat, serta parameter lain yang sangat layak untuk dijadikan acuan untuk mengukur kelayakan seseorang menjadi pemimpin dalam semua level kepemimpinan, terlebih pemimpin dalam skala Nasional. Demikian bagaimana seorang Umar bin Khathab begitu sangat selektif dalam memilih atau mengangkat pejabat yang akan membantunya dalam mensukseskan kepemimpinanya secara kolektif. Ia hanya akan mengangkat pejabat yang dikenal kebaikannya secara umum. Bahkan Umar pernah marah kepada sahabat yang mengangkat pejabat dari orang yang tidak ia kenal. Umar bertanya memastikan pengenalannya terhadap seseorang yang diangkatnya: “Sudahkah kamu pergi bersamanya? Sudahkah kamu bersilaturahmi ke rumahnya? Sudahkah kamu berbisnis dengannya? Dan sederetan pertanyaan lain yang membuka siapa sosok pejabat yang akan dilantiknya.”
Demikianlah, dalam Islam, melahirkan kepemimpinan merupakan amal utama yang harus diberi perhatian besar. Mengingat fungsi kepemimpinan dalam Islam berdasarkan ‘Siyasah Syar’iyyah’ adalah Hirasatud Din (memelihara dan mempertahankan ajaran agama) dan Siyasatud Dunya (merancang strategi untuk kebaikan duniawi). Maka membangun kebaikan sebuah masyarakat atau Bangsa harus diawali dengan menciptakan para pemimpin yang shaleh dalam seluruh tingkatannya, dan yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat.
Abu al-Hasan al-Mawardi dalam buku politiknya, Al- Ahkam as-Sulthaniyah, menegaskan bahwa mengangkat dan menegakkan kepemimpinan merupakan fardhu kifayah yang menuntut keterlibatan semua pihak untuk merealisasikan kepemimpian yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman, serta dapat memberi kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh komponen umat. Kewajiban menegakkan kepemimpinan sama dengan kewajiban jihad dan menuntut ilmu. Jika sudah ada yang memegang tampuk kepemimpinan dari mereka yang layak untuk itu maka gugurlah kewajiban atas semua umat. Namun jika belum ada, maka kewajiban tetap berlaku atas semua imam sampai terbentuknya kepemimpinan. Al-Mawardi menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah tentang kemungkinan terjadinya kepemimpinan pasca Rasulullah dan sikap yang harus ditunjukkan umat terhadap model kepemimpinan tersebut, yaitu sabda beliau saw, “Akan datang sepeninggalku beberapa pemimpin untuk kalian. Ada seorang yang baik yang memimpin kalian dengan kebaikan, namun ada juga pemimpin yang buruk yang memimpin dengan kemaksiatan. Maka hendaklah kalian tetap mendengar dan taat pada setiap yang menepati kebenaran. Karena jika mereka baik, maka kebaikan itu untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka buruk, maka keburukan itu hanya untuk mereka.”
Tentu, kita masih menanggung beban fardhu kifayah untuk melahirkan sosok pemimpin yang berfungsi untuk merealisasikan hirasut din dan siyasatud dunya, sehingga kehadiran pemimpin yang agamawan sekaligus negarawan merupakan kata kunci yang ditegaskan Allah dalam kedua ayat di atas. Tujuannya tiada lain guna membawa masyarakat dan Bangsa mencapai Baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafur’. Karena itu sebuah keharusan untuk tetap yakin bahwa harapan kepemimpinan ideal itu masih ada, dan akan terus ada dengan izin Allah. Amin.

DR. Atabik Luthfi