“Bagaimana Turun Dari Bus?” Pengalaman Itu Penting

by

bus

Dakwatuna.com Sri Kusnaeni, S.TP. ME.I – Kalimat di atas adalah pertanyaan seorang anak SMA yang baru pertama kali menaiki sebuah bus antar kota dalam perjalanan menuju tempatnya belajar menuntut Ilmu. Dalam kehidupan dia selama ini, alat transportasi yang digunakan untuk menuju ke suatu tempat, baik dalam kota atau antar kota adalah kereta api, mobil ayahnya, atau dia sendiri mengendarai motor untuk keperluan dalam kota. Pergi pulang balik ke tempat dia belajar di sekolah boarding, kalau nggak diantar ayahnya mengendarai mobil, dia akan memilih kereta api yang relatif nyaman, bersama teman temannya. Biasanya tinggal duduk manis, bercanda dan mungkin bisa dengan asyik tidur, dan tiba-tiba sudah sampai tempat yang dituju. Demikian pun, saat mengendarai sepeda motor sendiri, keluar dari rumah tinggal putar kunci kontak, angkat standar motor, tekan rem tangan, putar gas, dan… motor akan melaju dengan nyaman menuju tempat yang diinginkan untuk berbagai keperluan, tidak ada gangguan dari penumpang lain, tidak perlu susah payah berdesakan dalam kendaraan umum, dan tidak ada kekhawatiran untuk terlewat dari tempat dituju, karena ngantuk, atau lupa tidak bilang ke bang sopir, di mana mau turun.
Saya tertawa dalam hati, saat mendengar pertanyaan seorang anak SMA kepada ayahnya, “bagaimana caranya saya bisa turun dari bus, sementara tempat yang saya tuju adalah bukan diujung perjalanan bus, tetapi masih jauh dari terminal, di tengah perjalanan. Ayahnya kemudian menjelaskan, “Kamu harus bilang ke sopir, bahwa akan turun di suatu tempat yang kamu sebutkan nama tempatnya, kemudian ketika sudah mendekati tempat tersebut, bergeser tempat ke dekat sopir, untuk selanjutnya bilang stop agar abang sopir menghentikan laju bus di tempat di mana kita mau turun.”
Saya jadi berpikir, memang betul, bahwa pengalaman itu sangat penting. Kehidupan kita adalah kumpulan dari pengalaman-pengalaman dan kejadian. Barang siapa yang tidak memulai, maka dia tidak akan memiliki pengalaman.
Dalam hal mendidik anak, makna memberikan pengalaman kepada anak, sangat penting. Agar anak kita dapat memahami kehidupan secara lebih luas, merasakan pengalaman batin yang mengesankan, mencari makna dan hikmah dari setiap jejak langkah yang dilalui.
Pada contoh kasus seperti saya ceritakan di atas, karena sejak kecil orang tuanya tidak pernah memberi pengalaman menaiki mobil angkutan umum, dia bingung bagaimana caranya seorang harus berhenti dan turun di suatu tempat yang dituju di tengah melajunya mobil angkutan umum, di tengah hiruk pikuknya penumpang lainnya. Dia belum melihat, bagaimana biasanya para penumpang turun. Dia belum pernah mengalami. Maka sekali lagi, pengalaman itu penting, guru dalam kehidupan. Kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman diri kita sendiri, atau mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain.
Allah dan Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu beramal, setelah kita mengimani sesuatu. Berapa banyak kalimat dalam Alquran yang memerintahkan kepada kita untuk beriman dan beramal shalih. AAminuu wa amilusshaalihat… Hal ini semua, akan membuat seorang mukmin dalam hidupnya memiliki banyak pengalaman yang pada akhirnya bisa mengambil hikmah dan pelajaran, merasakan kenikmatan dalam pengalaman amal yang mendatangkan kebahagiaan lahir batin, dan bisa membagi pengalaman bahagianya dalam beramal kepada orang lain, dalam bentuk mengajak orang lain untuk sama-sama mengamalkan apa yang dia lakukan. Ikut merasakan, seperti yang aku rasakan, kurang lebih demikian simple kalimatnya.
Sebagai contoh misalnya, ketika seorang merasakan betapa nikmatnya meneguk air sejuk di saat berbuka puasa, dia akan menceritakan pengalaman nikmatnya tersebut kepada temannya, dan secara otomatis ataupun tidak, temannya akan diajak untuk sama-sama melaksanakan ibadah shaum sunah. Saat seseorang merasakan betapa nikmatnya bermunajat pada Allah di tengah malam buta, merasakan kedamaian dan kehinaan diri di hadapan Allah, perasaan yang lepas, jiwa yang lapang, dan pikiran yang jernih, fisik yang sehat, maka dia akan berusaha agar orang-orang yang dicintainya, keluarganya dan teman-temannya ikut merasakan nikmat kebahagiaan tersebut. Intinya, pengalaman indah itu menyenangkan, dan pengalaman itu penting.
Seorang anak yang secara terus menerus diajak ayahnya shalat jamaah di masjid, dia akan merekam pengalaman ini menjadi sebuah kesadaran dan pada akhirnya menjadi sebuah nilai yang dipegang teguh, bahwa seorang lelaki muslim haruslah rajin shalat jamaah di masjid, Tentu sambil merasakan pengalaman atau memberi contoh, orang tua harus mendahului, membersamai bahkan mengingatkan dengan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya shalat berjamaah di masjid bagi anak laki-laki.

Apa itu Pengalaman?

Pengalaman ialah hasil persentuhan alam dengan panca indra manusia. Berasal dari kata peng-alam-an. Pengalaman memungkinkan seseorang menjadi tahu dan hasil tahu ini kemudian disebut pengetahuan [1].
Dalam dunia kerja istilah pengalaman juga digunakan untuk merujuk pada pengetahuan dan ketrampilan tentang sesuatu yang diperoleh lewat keterlibatan atau berkaitan dengannya selama periode tertentu. Secara umum, pengalaman menunjuk kepada mengetahui bagaimana atau pengetahuan prosedural, daripada pengetahuan proposisional.
Pengetahuan yang berdasarkan pengalaman juga diketahui sebagai pengetahuan empirikal atau pengetahuan posteriori. Seorang dengan cukup banyak pengalaman di bidang tertentu dipanggil ahli (Wikipedia).
Dari definisi di atas, kita bisa dapat pelajaran, bahwa salah satu cara agar kita menjadi tahu, punya pengetahuan, memiliki ilmu atau tambahan ilmu, adalah dengan “melibatkan diri”, terlibat secara langsung dalam amal-amal atau aktivitas dan kegiatan dalam kehidupan.
Anak perlu kita libatkan secara langsung dalam proses “memberi/ bersedekah, jika kita ingin anak kita memiliki sikap pemurah. Misal saat kita akan berbagi makanan pada tetangga, kita minta tolong kepada anak kita untuk mengantarkan, dan bukan kita sendiri yang mengantarkan makanan tersebut. Jika anak kita mungkin menolak atau belum bisa untuk mengantarkan, dengan alasan apapun, maka saat kita mengantarkan, kita ajak serta anak kita.
Keterlibatan ini perlu dilakukan secara sinambung, agar menetap pada kesadaran anak, bahwa memberi adalah suatu yang harus dia lakukan, karena dia merasakan nikmatnya berbagi, meskipun mungkin di awal dia belum merasakan sebagai sebuah kenikmatan. Sekali lagi, selain keterlibatan secara langsung, harus kita sempurnakan dengan penjelasan dan dalil.
Saya juga jadi teringat, saat di zaman pemerintahan SBY dahulu, dalam acara hari menanam pohon setiap tanggal 1 Desember, SIKIB (Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu), yang diketuai oleh ibu Ani SBY, menanam setuju bibit pohon trembesi, dengan menyertakan anak-anak SD, dan dalam pesanya beliau menyampaikan: “agar anak-anak tahu bahwa menanam pohon itu penting bagi kehidupan”. Inilah pentingnya pengalaman.
Kepada seluruh orang tua di manapun berada, yang telah Allah karuniakan anak-anak, baik secara langsung anak kandung ataupun anak didik, mari libatkan anak-anak kita dalam pengalaman-pengalaman baik, agar kelak dia memahami kehidupan ini dengan lebih baik dan lebih bermakna. (dakwatuna.com/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/04/12/79946/bagaimana-turun-bus-pengalaman-penting/#ixzz45fPNFYcM

Humas Salimah Humas Salimah

Gravatar Image
Humas Salimah, menyampaikan berita aktivitas muslimah dari seluruh Indonesia serta informasi edukasi perempuan, karena Salimah peduli meningkatkan kualitas perempuan, anak dan keluarga Indonesia.