Sehebat Orang Tua, Setangguh Anak-Anak Palestina

by

Oleh: Nurjannah Hulwani, S.Ag. ME

Mengapa kita harus bantu Palestina? Karena di Palestina ada tanah wakaf umat Islam dan Masjid Al-Aqsha yang luasnya 14 Ha. Di sana ada 100 situs perabadaban. Sudah 66 tahun masjid kita mengalami penistaan. Umat Islam di sana yang berjuang menjaga Al-Aqsha setiap menit dan detik, lebih banyak wanita yang menjaga karena laki-laki dilarang masuk Al-Aqsha.

Di Gaza menjadi benteng pertama setelah Al-Quds. Membela Palestina merupakan tuntunan aqidah. Tanggul utama akidah kita ada Al-Aqsha, dalam hidup kita harus ada waktu yang disisakan untuk mengurus Palestina. Kita tidak bermusuhan selama seseorang tidak menistakan dan menyerang agama ini. Masalah aqidah jika sudah terusik akan menjadi gelombang kekuatan. Setiap diri kita akan ditanya, apa yang sudah kita lakukan untuk Al-Aqsha? jika kita ingin sukses kita harus mengurus Palestina. Persoalan besar umat Islam adalah persoalan Al-Quds.

Keberkahan itu meliputi Gaza, mulai dari hasil pertanian dan hasil ternaknya. Gaza luasnya seperti Jakara, 18 jam hidup tanpa listrik, tapi puluhan tahun dapat bertahan. Padahal ikan-ikannya telah diracuni, tidak bisa kita rasionalkan. Seolah Allah menunjukkan bahwa Palestina tidak terkalahkan. Penduduk Gaza, mulai dari pemimpin sampai rakyatnya memiliki ruh yang sama. Di sana tidak ada korupsi. Allah terus-menerus menurunkan keberkahan dan ketenangan karena mereka memenuhi syarat.

Makna Al-Aqsha memanggil kita harus mengarahkan jiwa raga kita untuk kebaikan agama ini. Transaksi kita langsung kepada Allah. Para murabithah berjaga siang dan malam, jika ingin memasuki Al-Aqsha harus di tengah malam atau melalui selokan agar tidak tertangkap tentara zionis. Bagi mereka Al-Aqsha rumah yang pertama. Mereka mampu menghapal Al-Qur’an dalam satu bulan. Seharusnya aktivis dakwah sangat dekat dengan Al-Qur’an dan mengamalkannya. Kita tidak akan mengalahkan musuh Allah jika belum mengalahkan hawa nafsu sendiri. Siapa yang menyerahkan hidupnya untuk agama ini akan merasa kelelahan, tapi akan mati dalam kemuliaan.

Ada hal menarik yang bisa kita pelajari dari orang tua Palestina. Bahasa keteladanan lebih efektif dari bahasa lisan. Anak cermin ibu bapaknya, kita bermimpi anak cinta Al-Qur’an tapi gagal membaca Al-Qur’an setiap hari, yang terpenting kita menjaga keteladanan saat di belakang anak.┬áSeorang daiyah harus mampu menghasilkan keteladanan di belakang jamaahnya. Aktivitas dakwah kita akan tersambung ke anak.

Seorang anak Palestina yang dilarang masuk Masjid Al-Aqsha. Dia shalat di jalanan di depan tentara Zionis.
Seorang anak Palestina yang dilarang masuk Masjid Al-Aqsha. Dia shalat di jalanan di depan tentara Zionis.

Jika kita ingin mendidik diri dan keluarga jadilah penggali sumur, tekun menggali. Kita mendidik anak bukan untuk pujian manusia, tapi untuk Allah. Kita harus seperti penggali sumur, bisa jadi air hidayah baru didapat setengah jalan atau setelah kita meninggal. Kita tidak boleh lalai merekrut hati orang lain tapi lupa dari mengikat hati anak. Kita harus meletakan semua pada tempatnya. Tidak perlu ada doktrin di rumah, cukup beri keteladanan. Jangan ajari anak dengan keterpaksaan. Sesuaikan dengan kemampuan anak.

Kita dan keluarga harus masuk rombongan ketaatan. Untaian doa untuk anak tidak boleh terputus. Anak kita harus jadi penerus dakwah, kita harus mendekati anak dengan hati agar anak mau menjadi penerus dakwah. Anak-anak titipan Allah, dekati dengan cara yang baik.

Jika doa kita belum diijabah bisa jadi karena ketaatan kita belum tulus. Kita seringkali bakhil, tidak mau berlelah-lelah melakukan ketaatan, padahal ketaatan kita pada Allah akan mentransfer kebaikan ke lingkungan sekitar kita. Agar betah berlama-lama dengan Allah kita harus punya visi misi akhirat. Bagaimana kita bisa mati husnul khotimah. Setiap hari kita adalah hari terakhir, agar kita bisa selalu bertaubat dan menghadirkan kebaikan-kebaikan. Urusan akhirat tidak boleh dikalahkan, urusan dunia tidak boleh lebih lama dari ibadah.