Diantara Dua Pemilik Kebun

by

2-pemilik-kebun

Perumpamaan  mengenai dua pengusaha besar di bidang perkebunan yang kaya-raya dan termasyhur tersebut sengaja diabadikan dalam Surat Al Kahfi ayat 32-44. Kisah itu diabadikan oleh Sang Pencipta dan Pemberi rizki kepada keduanya. Yang membedakan adalah pada pengenalan tentang  diri sebagai hamba Allah, cara menyikapi penciptaan diri, kekayaan, pangkat, popularitas. Keabadian kisahnya mengandung pembelajaran bagi manusia sepanjang zaman.

Ketika Allah Ta’ala menciptakan seorang manusia, tentu ada keunikan disamping tugas dan fungsi pada setiap penciptaan. Meski ada kesamaan pada tujuan, yakni beribadah kepada-Nya (QS. Adz Dzariyat : 56). Inilah perbedaan mendasar yang melandasi sikap kedua pemilik kebun terhadap harta dan dunia seisinya yang menakjubkan manusia, sehingga menjadi alpa terhadap peran besar Penciptanya. Yang satu beriman dan yang satu mengingkari (Al Kahfi : 37-38)

Sesama pemilik kebun yang luas dan subur, ada dialog yang menggambarkan perbedaan dalam bersikap. Dialog  dalam al Kahfi : 34-36 memperlihatkan kesombongan dan keangkuhan pemilik yang membangkang. Kebanggaannya pada hasil kebun, keindahan, kedudukan dan kekayaannya membuat ia berucap, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.”  Tidak terasa bahwa perkataannya bersifat sementara, demikian pula dengan hakekat pemberian Allah Swt di dunia. Seringkali harta dan jabatan memang nampak memukau dan menyenangkan, sehingga tidak sedikit yang kemudian lalai terhadap hakekat kefanaan.  Tidak terpikir olehnya bahwa kondisi yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Kemusnahan dan kepunahan kebun, surutnya air sungai yang semula deras mengalir,  kehancuran, kebangkrutan  dan penyesalan di belakang hari. Bahkan sebelumnya ia mengira kekayaannya akan abadi. Pun suatu saat ajal menjemputnya, ia meyakini akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pemberian-Nya saat di dunia.

Teman bicara sesama pengusaha kebun ini memiliki cara pandang yang berbeda. Pemahamannya akan Kekuasaan Dzat yang Maha menciptakan, membuatnya dirinya bersyukur atas karunia-Nya. Meski orang lain sempat meremehkan bahkan mencemooh, karena memandang hartanya lebih sedikit dan kebunnya lebih sederhana. Saat ia memasuki kebun, ia mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah.” Sungguh atas kehendak Allah, semua ini terwujud. Tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah (QS. al Kahfi : 38-39).

Kekagumannya tidak berhenti pada  makhluk ciptaan-Nya semata, namun ia selalu teringat kepada Allah Ta’ala, sebagai  Pencipta dari semula tiada menjadi ada dan Ia pula yang memelihara, menyuburkan dan menumbuhkan bebuahan padanya. Harapannya untuk maju dan sukses selalu disandarkan kepada yang Mahapencipta. Karena ia menyadari bahwa hanya Ia yang meniadakan apa-apa yang ada dan mengadakan dari yang semula tiada.

Sebagaimana pepatah, “malang tak dapat ditolak, mujur  tak dapat diraih,”bahwa segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan. Pemilik kebun yang sombong itu hanya bisa menyesali sikap dan perilakunya yang kemudian mengakhiri kebahagiaannya yang ternyata sementara.

Kisah ini diabadikan agar manusia beriman mengambil hikmah dan tidak terjebak untuk mengulang hal  tragis lagi. Betapa urgensi bagi manusia dalam mengenal Allah Swt sebagai hal yang sangat mendasar, bekal mendidik generasi yang pertama dan utama bagi keluarga. Menjadikan keimanan kepada-Nya sebagai landasan sikap dan perilaku agar tidak mudah terjebak pada syahwat dunia. Bahwa  kebutuhan manusia terhadap Allah Ta’ala sangat tinggi, karena hanya Ia tempat mengharap dan bergantung yang akan memenuhi hajat hidup seluruh mahluk dan tidak akan mengecewakan, baik di dunia dan akhirat. Kelalaian, kesombongan, iri dan dengki, bertumpu pada dunia semata adalah larangan yang penting untuk diwaspadai, agar tidak terjebak pada kemegahan istana Fir’aun dan Haman, kegagahan Kaum Aad dan Tsamud, kezaliman dan kecurangan Kaum Syu’aib. Kisah serupa bisa jadi akan terulang pada episode kehidupan kini  dan mendatang dalam bentuk serupa.  Na’udzu billah

Siti Faizah

(Ketum PP Salimah)