Memuji kebesaran Allah swt

by

image

Segala pujian milik Allah semata. Hanya Ia yang berhak atas pujian seluruh mahlukNya. Dibalik sukses Ibrahim as menghadapi ujian demi ujian yang telah berlalu sebagai bukti ketaatan kepadaNya, dibalik ketakjuban terhadap kegigihan, ketangguhan dan kehebatan ibunda Hajar, dibalik ketabahan dan kesabaran Ismail as. Sesungguhnya pujian manusia tidak boleh berhenti pada ketakjuban atas sesamanya, melainkan untuk memuji Dzat Yang Maha menciptakan seluruh mahluk, alam semesta beserta isinya.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar walillaahilhamdu

Kalimat takbir terus berkumandang di balik lisan-lisan yang mengenali kelebihan Bulan Dzulhijjah yang sarat dengan peristiwa-peristiwa besar pada orang-orang besar sebelumnya. Mereka telah melampaui masa kini dan mendatang, tapi kisahnya sengaja Allah Swt abadikan dalam Kitab SuciNya. Adalah kisah keluarga Ibrahim as yang patut menjadi teladan bagi kehidupan keluarga muslim dimanapun dan kapanpun (QS. Almumtahanah : 4).

Ibrahim alaihissalam tidak hanya sebagai Nabi dan Rasul Allah Ta’ala. Ia juga sebagai bapak para Nabi (QS. Alhajj : 78). Dari keturunannya, lahir para Utusan Allah hingga Nabi akhir zaman, Muhammad Saw sebagai nabi terakhir.

Dari Ibrahim as bisa belajar makna mujahadah yang sesungguhnya. Ia memulai dari dirinya, isterinya, anaknya, keluarganya sampai kepada umatnya. Ia menjadikan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala sebagai fondasi kuat bangunan rumah tangganya. Menjadi pelajaran pertama dan utama bagi keturunan kita adalah mengenali Dzat Yang Maha menciptakan. Selanjutnya kenali Kitab Al Qur’an agar berakhlak dengannya, sebagaimana pengenalan terhadap salah satu keturunan Ibrahim as yang juga menjadi teladan sepanjang masa, Muhammad Saw.

Pengorbanan adalah konsekuensi kecintaan. Demikian cinta terhadap Allah Ta’ala menuntut pengorbanan sebagai tanda cinta hamba kepada-Nya. Jika cinta Ibrahim dan Hajar terhadap Ismail bahkan cinta Ismail terhadap dirinya terkalahkan dengan ketaatan kepada perintah-Nya, namun balasan cinta-Nya ternyata jauh lebih besar dan tidak terduga sebelumnya, yakni ketaatan umat Islam terhadap perintah untuk berkorban kambing, sapi, onta dan pengorbanan lainnya yang kemudian diringkas dalam istilah harta dan jiwa di jalan-Nya.

Demikian halnya dengan prosesi ibadah haji yang hanya sah dilaksanakan dalam bulan yang sama. Ibadah ini menuntut keimanan dan ketaqwaan sebagai bekal utama, harta dan jiwa dari seseorang, dengan harapan agar kita belajar pengorbanan ibunda hajar dalam bentuk sa’i antara shofa dan marwa tujuh kali. Memahami pula kesungguh-sungguhan Ibrahim bersama Ismail membangun ka’bah saat thowaf mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali.

Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar walillaahilhamdu

Bagi mereka yang memahami betapa hari-hari di sepuluh awal Dzulhijjah tidak bisa disamakan dengan hari-hari selainnya. Betapa insan beriman diminta banyak merenung, mengambil pelajaran dan hikmah di balik peristiwa demi peristiwa yang menghantarkan kita kepada rasa syukur atas nikmat Iman, Islam, usia hidup yang diberikan hingga hari ini menjadi kesempatan belajar yang terus berlangsung selama hayat masih di kandung badan. Hari-hari yang kita lalui di awal Dzulhijjah 1437 H merupakan rentang saat terbaik. Untuk itu kita diminta mengisi 10 hari mengawali bulan tersebut dengan segenap kesungguh-sungguhan kita dalam menunjukkan ketaatan kepada Al Khaliq.

Ketika Ramadhan yang telah berlalu menjadi sarana tarbiyah bagi umat Islam untuk meningkatkan taqwa kepada Allah Ta’ala (la’allakum tattaqun), maka di Bulan Haram ini Allah mempersilakan tamu-Nya menjadikan taqwa sebagai bekal terbaik dalam berziarah ke Baitullah Al Haram (QS. Albaqarah : 197). Sedangkan bagi mereka yang tidak berkesempatan haji tahun ini, maka dianjurkan untuk melaksanakan ibadah kurban dan berbagai amalan sholih lainnya. dan Allah menjadikan asas penerimaan ibadah di dalamnya semata-mata adalah ketaqwaan kepada-Nya (QS.Alhajj : 37).

Allohu A’lam Bish showab

Siti Faizah
(Ketua Umum PP Salimah)