Tak akan pernah sama

by

1476512318109

Ketika siang takkan pernah sama dengan malam. Lelaki takkan sama dengan perempuan. Demikian pula dengan sikap mahluk Allah Ta’ala yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk penciptaan, tidak sama. Jika diantara mereka ada yang mengimani-Nya, ada pula yang mengingkari. Ada yang tunduk akal, hati dan baik budi, pun ada pula yang menyombongkan diri. Begitu ingkar manusia, bahkan bisa lebih sesat dari binatang sekalipun. Mahaadil Allah Swt yang telah menciptakan mahlukNya dalam berbagai perbedaan dan kelak akan menghakimi dengan seadil-adilnya, Pemberi balasan bagi golongan kanan dan kiri, dengan surga dan nerakanya. Ketika ada seseorang atau sekelompok orang yang menyatakan bahwa Al Qur’an itu dusta dan mendustakan, memori ini kembali mengingat perkataan serupa yang pernah dilontarkan umat di masa lalu. Klaim dusta berbagai umat para Nabi Allah Swt terhadap Kitabullah. Diantaranya Ia mengabadikan dalam QS. Al Ahqaf : 10-11, “Katakanlah, ‘terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur’an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an lalu dia beriman sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, ‘Sekiranya Al Qur’an itu sesuatu yang baik, tentu mereka tidak pantas mendahului kami (beriman) kepadanya. Tetapi karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka akan berkata, “Ini adalah dusta yang lama.” Saksi yang dimaksudkan adalah Abdullah bin Salam yang mengetahui kebenaran Al Qur’an dari Taurat, lalu ia beriman kepada nabi dan kitabnya, sedangkan mereka yang menyombongkan diri tetap tidak mau mengikuti Al Qur’an. “Tidak pernah aku mendengar Rasulullah Saw mengatakan kepada seseorang yang berjalan di muka bumi bahwa dia termasuk penghuni surga, kecuali kepada Abdullah bin Salam ra. Sa’ad berkata, ‘Berkenaan dengan orang itulah turun ayat Allah, ‘dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur’an.” (HR. Bukhori, Muslim, Annasai). Memang tidak akan pernah sama penyikapan orang-orang beriman dengan orang-orang yang kafir terhadap Al Qur’an. Apa yang terdengar oleh umat Islam, Oktober tahun 2016 adalah sejarah perkataan ‘dusta’ yang terulang. Apalagi hal ini terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Umat Islam yang hidup di masa tersebut berkewajiban untuk memberikan pembelaan akan hakekat kebenaran ayat-ayat Allah, tentu dengan cara-cara yang baik, santun, beradab dan menghargai proses hukum yang berlaku di suatu negeri. Menganggap dusta satu ayat sama halnya dengan mendustakan seluruh ayat Al Qur’an. Peristiwa ini sekaligus menjadi pembelajaran yang besar dari yang Mahabenar, agar umat ini terus belajar memperbaiki diri, mengambil hikmah dan semakin menguatkan keimanan akan kebenaran kitab Al Qur’an, sebagai kalam Allah yang tidak tercampuri sedikitpun dari perkataan manusia sampai kapanpun, sebagai barakah dari penjagaan Allah Ta’ala kepadanya (Qs. Alhijr : 9). Hanya orang yang beriman yang akan mempercayai bahwa Al Qur’an itu merupakan kalam Allah Swt, bukan perkataan manusia. Tidak ada campur tangan, tambahan kalimat, pengurangan atau penambahan sedikitpun, bahkan dari Rasul Saw sekalipun. Ia benar-benar wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam, “Sesungguhnya ia (Al Qur’an) benar-benar wahyu yang diturunkan kepada Rasul yang mulia. Dan ia (al Qur’an) bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia (Al Qur’an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam. Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tidak seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami untuk menghukumnya). Dan sungguh, Al Qur’an itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa diantara kamu ada orang yang mendustakan. Dan sungguh, Al Qur’an itu akan menimbulkan penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sungguh, Al Qur’an itu kebenaran yang meyakinkan.” (QS. Al Ma’arij : 40-51) Betapa umat Islam diajak agar semakin yakin terhadap kebenaran Al Qur’an sebagai firman Allah Ta’ala yang tidak terbantahkan. Demikianlah sikap membangkang lagi mendustakan yang bisa saja terjadi dulu, kini dan di masa mendatang. Ketidaksamaan itu bukan hanya pada aspek apa yang dipercaya, siapa yang dipercaya, untuk apa mempercayai, mengapa mempercayai, bagaimana agar lebih mempercayai. Kepercayaan itu adalah keyakinan yang suatu saat akan sama-sama mempercayai, saat ajal masing-masing tiba. “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama.” (QS. Assajdah : 18)

Siti Faizah

(Ketum PP Salimah)