Nikmat Punya Rumah

Saat terik matahari sangat menyengat atau tiba-tiba hujan turun, manusia bersegera untuk mencari tempat berteduh dan berlindung. Diantara tempat berlindung yang dituju pertama kali, yakni berteduh di bawah pohon atau memasuki gua atau menuju sela perbukitan. Cara praktis dengan menutupi kepala menggunakan tangan atau benda tertentu. Bermula dari kesulitan, Allah Ta’ala berkehendak memberi kemudahan (Qs. 94:5), dengan cara mengajak dan mengajari akal manusia untuk berpikir dan berkembang maju.

Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya) pula dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya  kepadamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).” (Qs. An Nahl:80-81)

Nampak sekali kasih sayang Allah Ta’ala berlimpah pada manusia. Ia menginspirasi Adam ‘alaihissalam, manusia pertama secara refleks mengambil dedaunan untuk menutupi tubuhnya. Di masa Idris ‘alaihissalam, Ia mulai mengenalkan kapas, linen, wol dan lainnya sebagai bahan untuk membuat baju atau gamis.  Ia jadikan domba, unta dan kambing supaya bisa diternak dan dimakan dagingnya. Sementara bulu masih memberi manfaat sebagai pakaian yang menghangatkan, menutupi tubuh manusia, melindunginya dari panas terik matahari, hujan yang bisa membasahi tubuh agar tidak kedinginan dan terhindar dari menggigil dan sakit.

Dalam perkembangannya, pakaian bisa memperbaiki tampilan hidup seseorang. Bahkan Ia menginspirasi Daud ‘alaihissalam dalam menaklukkan besi sebagai bahan membuat baju, guna melindungi tubuh dari tusukan dan hantaman senjata akibat perang sesama manusia. Ketika pakaian tidak hanya cukup untuk dikenakan sendiri, Ia menginspirasi manusia dalam berniaga agar mendapatkan keuntungan dari perdagangan.  Perabotan rumah berupa karpet, gordyn dan perkakas lainnya menjadi barang-barang komoditi, membuat hidup manusia menjadi senang, terpelihara dan memiliki harta kekayaan. Anugerah nikmat Allah Ta’ala tidak terhingga, namun acapkali terlupa mensyukurinya. Lebih banyak nikmat daripada rasa bersyukur manusia kepada-Nya.

Sebagaimana cuaca panas dan hujan datang silih berganti, memunculkan ide pada manusia untuk membuat tempat bernaung permanen di bawah bukit atau mendirikan rumah. Saat mendirikan rumah, manusia terinspirasi menggali pondasi agar bangunan menjadi kuat dan tidak mudah roboh, sebagaimana pohon menjadi kuat karena akar yang menghujam. Rangkaian nikmat Allah Ta’ala berupa rumah sebagai tempat tinggal adalah anugerah belajar dari alam ciptaan-Nya menjadi bangunan. Begitu sempurna nikmat dan pemeliharaan-Nya atas mahluk ciptaan-Nya.

Dzat Yang Mahapencipta begitu kasih dan sayang kepada manusia. Ia ajarkan manusia mendirikan rumah sebagai tempat menetap, tempat berlindung dan tempat yang aman dan nyaman. Ia menjamin kehormatan bagi rumah untuk mencukupi kebutuhan akan rasa aman, damai dan tenteram bagi manusia. Ia juga mengatur tata cara manusia memasuki rumah (Qs.24:27), dengan terlebih dulu meminta izin dan tidak memaksa masuk, tidak boleh mengintip, tidak diperkenankan memata-matai  penghuninya saat lalai atau tidak di rumah. Sebab bisa mengganggu keamanan dan merusak ketenangan.

Untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup manusia, Ia sediakan bahan dasar membuat rumah permanen, semi permanen hingga kemah-kemah yang terbuat dari kulit binatang, bahan tebal sampai plastik yang ringan semasa bepergian dan bermukim sementara, demi ketenangan psikologis dan ketentraman perasaaan. Dengan kekuasaan-Nya, Ia ajarkan Nabi Huud ‘alaihissalam dan umatnya pandai memahat dan menyulap  pegunungan menjadi rumah, bangunan dan istana yang kokoh bagi manusia. Namun sejarah telah mencatat kesombongan dan keingkaran mereka kepada-Nya. Padahal aneka nikmat itu, Ia siapkan dengan tujuan agar manusia berserah diri kepada-Nya.   

Siti Faizah
(Ketua Umum PP Salimah 2015-2020)

Share Button

Related Posts

Related Post