Sisi Lain Isra Mi’raj

Setiap tahun umat Islam memperingati peristiwa besar dalam sejarah dakwah Muhammad SAQ, Isra dan Mi’raj. Perjalanan satu malam, Isra berlangsung dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha. Kemudian di-mi’raj-kan dari Masjid al-Aqsha ke langit tertinggi. Makna tentang Mi’raj telah banyak dibahas sebagai momen pemberian perintah melaksanakan shalat wajib lima waktu kepada seluruh umat Muhammad SAW.

Di sisi lain, Nabi terakhir yang diutus kepada manusia ini pernah diperjalankan atau di-isra-kan oleh-Nya dan peristiwa ini diabadikan kebenarannya dalam firman Allah Ta’ala di awal surat yang diberi nama al-Isra’ yang mengawali juz ke-15 Alquran al-Karim.

Penamaan surat, sebab penurunan, peletakan, dan pesan-Nya dalam surat yang terdiri dari 111 ayat itu, tentu mengandung pembelajaran bagi orang beriman yang membaca dan men-tadabburi-nya. Nama al-Isra mengindikasikan pentingnya perjalanan, bukan sekedar rekreasi dan perjalanan pada umumnya.

Persinggahan Nabi Saw di Masjid Al-Aqsha bukan kebetulan atau sekedar istirahat. Konteks Masjid al-Aqsha di Palestina sebagai tujuan Isra yang pertama menandakan pengakuan akan tempat bersejarah bagi para utusan Allah dari Adam alaihissalam hingga Isa alaihissalam, Nabi dan Utusan Allah sebelum Muhammad SAW, sekaligus menandakan peralihan, pewarisan dan estafet kerasulan kepada Muhammad Saw yang bukan dari kalangan Bani Israil.

Surat yang juga dikenal dengan Surat Bani Israil ini antara lain berisi tentang kandungan Taurat yang tercakup dalam 15 ayat. Juga menyebutkan pengusiran dua kali terhadap Bani Israil akibat kesengsaraan, kehancuran, kesewenang-wenangan dan kerusakan yang dibuat oleh mereka terhadap diri mereka.

Dengan kesombongannya, mereka mencaci, memusuhi bahkan membunuh utusan Allah. Melakukan perubahan baik dalam bentuk pengurangan dan penambahan terhadap isi Kitab Suci yang pernah diamanahkan kepada mereka mulai dari Taurat, Zabur hingga Injil.

Di dalam Masjid al-Aqsha yang suci ini, Allah SWT memberi kesempatan kepada Muhammad Saw bertemu dengan para utusan Allah Ta’ala sebelumnya. Kemudian melaksanakan shalat yang diikuti oleh seluruh utusan Allah dan Nabi Saw sebagai imam.

Hal ini menunjukkan pertalian yang erat antara pengangkatan nabi terakhir dengan para utusan Allah mulai Adam alaihissalam sampai Isa ‘alaihissalam hingga utusan Allah yang terakhir, Muhammad Saw. Pengangkatan imam merupakan tanda pengakuan seluruh utusan Allah kepada kenabian Muhammad Saw, utusan terakhir, mengakui kebenaran Kitab Suci Alquran al-Karim sebagai mukjizat terbesar dan abadi yang tidak bisa diakali dan tidak bisa diuubah lagi.

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Mahamendengar dan Mahamelihat.” (QS al-Isra: 1)

Surat Makkiyah ini dimulai dengan tasbih kepada Allah dan diakhiri dengan tahmid kepada-Nya.Yang Mahamenentukan menyebutkan paling banyak kata Alquran dan Alkitab, sebanyak 18 kali. Hal ini mengarahkan pemerhati bahwa Al Isra’ menitikberatkan pesan akan kebenaran Alquran.

Pengakuan para utusan Allah terhadap Muhammad Saw sebagai penanggung jawab Kitabullah atau Risalah yang diturunkan oleh Allah Taala. Malam Isra’ sebagai momentum proklamasi terhadap kebenaran Alqur’an.

Kedudukan Kitab Suci sebelumnya telah digantikan oleh Alquran, dan seluruh utusan Allah hanya mengakui kebenaran kitab suci yang diturunkan kepada Muhammad Saw. Proklamasi di malam Isra dan bertempat di Masjidil Aqsha merupakan pengumuman yang ditujukan kepada seluruh umat manusia di seluruh dunia tanpa terkecuali hingga akhir zaman.

Dengan Proklamasi ini, telah diserukan pengakuan oleh para utusan Allah Ta’ala akan kenabian Muhammad Saw dan momentum pewarisan Risalah Allah Ta’ala kepada Beliau. Malam isra’ menjadi tonggak sejarah yang dinantikan oleh seluruh utusan Allah Ta’ala sekaligus pengakuan akan kebenaran Al Qur’an sebagai satu-satunya kitab suci bagi seluruh umat manusia.

Menjadi amanah terhadap umat Muhammad SAW agar selalu membaca, mempelajari, mengamalkan, mengajarkan kepada orang lain, menghafalkan dan tidak menelantarkan Alquran sebagai kitab suci dan menjadikannya sebagai urusan utama dalam kehidupan.
(Siti Faizah, Ketua Umum PP Salimah)

Sumber http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/17/04/25/ooykug313-sisi-lain-isra-miraj

Share Button

Related Posts

Related Post