Menyembunyikan Sebagian

Seorang suami meninggalkan istri dan anak-anaknya pergi berperang di perbatasan negeri. Seusai perang dan di tengah perjalanan pulang, ia mendapat kabar bahwa istrinya terkena penyakit kulit selama kepergiannya hingga sebagian besar wajahnya rusak akibat penyakit tersebut. Suami ini terdiam menerima berita tersebut dan sangat sedih.

Pada hari berikutnya, teman-temannya melihat kedua matanya terpejam lalu mereka mengungkapkan rasa prihatin terhadap keadaannya. Saat itu mereka tahu ia tidak bisa bersabar sehingga mereka harus menemaninya pulang ke rumah.

Setelah itu suami ini menjalani kehidupan bersama istri dan anak-anaknya secara normal. Limabelas tahun kemudian istrinya meninggal dunia. Saat itu semua orang dekatnya terkejut karena matanya kembali melihat secara normal. Mereka menyadari bahwa selama ini ia memejamkan matanya agar tidak melukai perasaan istrinya saat melihatnya.

Pejaman mata ini bukan karena membayangkan wajah istri yang cantik kemudian menghadirkannya disaat diperlukan, tetapi demi mempertahankan ikatan suami istri sekalipun harus dilakukan dengan cara memejamkan mata dalam waktu lama, terutama setelah berkurangnya faktor kecantikan fisik yang seharusnya menjadi jembatan menuju kecantikan moral spiritual.

Pesan: Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Jika seseorang mencari pasangan yang tidak memiliki kekurangan pasti tidak akan pernah menemukannya.

Allah mempertemukan suami dan istri dalam satu kehidupan rumah tangga untuk saling menyempurnakan. Nabi saw mengajari kita bagaimana menyikapi kekurangan yang ada:

“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istrinya), jika dia tidak menyukai sebagian perangainya maka ada akhlak lain yang membuatnya suka” (Muslim 1469)

Allah menghadirkan dua lapis katup pengaman (ar-Rum: 21) di dalam kehidupan rumah tangga agar sarana-sarana ketertarikan tetap terpelihara dan ikatan suami istri tetap kokoh.

Pertama, mawaddah atau mahabbah (cinta). Di masa-masa awal katup pengaman pertama saja sudah cukup bisa menjaga ikatan rumah tangga, karena semua daya tarik, terutama fisik dan biologis, masih utuh dan prima. Karena itu bahasa yang menonjol di masa-masa ini adalah bahasa cinta. Ya Humaira‘ dan lainnya.

Kedua, rahmah atau ra’fah (kasih sayang). Ketika sebagian daya tarik fisik itu mulai memudar, maka diperlukan katup pengaman kedua. Di masa-masa ini bahasa yang menonjol bukan lagi cinta, tetapi kasih sayang dan kemaslahatan. Saling menyayangi, saling mengingat jasa kebaikan, saling mengingat kelebihan bukan kekurangan, saling mengingat perjuangan bersama membangun rumah tangga, saling mengingat kemaslahatan anak, saling menjaga nama keluarga dan lainnya.

Berbahagialah orang yang tetap bisa menghadirkan bahasa-bahasa cinta di fase kedua sehingga ikatan keluarga makin kokoh dan tetap romantis meski rambut sudah beruban dan kulit sudah keriput.

Jagalah dengan baik dua katup pengaman di atas, insya Allah mendapat bonus stabilitas rumah tangga (litaskunu ilaiha) tanpa terpengaruh peristiwa apa pun.

ust Aunurrofiq

(Owner Robbani Press)

Share Button

Related Posts

No related posts found...

“Awas Tramadol Mengintai Anak-Anak” PD Bima – NTB

    PD Salimah Kota Bima Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan Sekolah Ibu ...

Learn more