Puisi Cinta Untuk Aleppo (bag 1)

by

“Ngumpul di kampus jam segini, ah gue masih ngatuk. Oke gue kesana dah….”

Ya ampun si Reza ini, pagi –pagi dah bangunin gue. Mau apa coba, dasar tuh anak. Apa tadi katanya, mau baksos. Bukannya baksos udah ya minggu lalu. Baksos apa lagi sih Reza…, Reza…, lo ga rela banget gue istirahat. Baru aja ini hari gue mau manjain, mau males-malesin diri. Eh udah di telepon Reza. Nasib…, nasib.

Tok…tok…tok…

“Daffa …!, buka pintunya…!!!”

Duh si mama, ngapain sih ikut-ikutan treak-treak segala, kaya si Reza aja. Aku membuka pintu dengan mata masih ngantuk, ga tahu kenapa mata ini lelet aja. Abis subuh tidur lagi nih gagaranya.

“Daffa, mama sama papa mau bicara sebentar, yuk kita keruang keluarga bentar aja…!”

Idih si mama ini sok imut aja, belum aja bilang iya, itu tangan dah main tarik-tarik aja. Oke …, okelah. Aku duduk di sofa kesayanganku, mau tahu warna apa, he…, he…, jangan ngetawain ya. Warnanya adalah pink. Ih kaya cewek ya. Itu ceritanya dulu si mama, pengen bangets anak cewek. Semua yang dibelinya warnanya pink. Nah pas lahir, gue cowok. Pas mama mau kasih ke saudaranya, ya saudara gue juga sih, gue ko ngerasa tertarik ama sofa ini. Cool gitu kalau ada di sofa ini.

“Daffa…, Daffa…!!!, ini anak heran deh pagi-pagi dah ngelamun”

“Oh.., oh iya ma. Maaf Daffa lagi menenang si pinky ini Ma. He.., he.., maaf ya Ma….”

“Ish anak ini, kan Ma….” sambung papa.

“Wow …!!!, keren banget ya, si mereka-mereka ini kok kompak. Pada mau kemana ini. Pagi-pagi udah rapi. Curiga gue, jangan-jangan nih, gue mau ditinggal lagi kaya bulan lalu.

“Daffa, Mama sama Papa mau pergi 5 hari aja, ke luar kota. Papa ada urusan dan Mama juga sama ada urusan juga. Lagian Dadi kamu ga bisa jauh sama Mama, so Mama teh kudu ikut kemana aja Dadi mu pergi you know?”

“I see, Mom”

Tuhkan bener, gue mau ditinggal lagi. Ini nih namanya feeling so good.

“Daffa, dikasih uang tambahankan Ma?”

“Tenang aja Fa. Papa sudah siapin, tapi ingat gunakan sebaik-baiknya. Yang cash ada di laci biasa,  kalau ngga cukup nanti Papa transfer ke rekening kamu”

“Ish, Papa gue ini. Thanks ya Dad…!” sambil aku tos atau cha biasanya aku manggilnya, ituloh menyatukan telapak tangan sama-sama.

****

Padahal aku sudah ga ada mata kuliah, ngga tahu kenapa suka aja datang ke kampus. Skripsi oh skripsi, kapan pula nih mau diselesaikan. Pusing kepala ini rasanya. Eh kata temenku mah, skripsi jangan difikirin tapi dikerjain. Iya juga sih, hmm…, Bismillah deh mulai buat target-target ini. Malu kalau wisuda ngga sama-sama dengan temen seangkatan. Noted It Diandra…! Fighting…!!!

Oh iya sampe lupa, ade-ade ini jadi ngga ya, mau galang dana hari ini. Ah…, itu kayanya Hanny dan Lien.

“Assalamualikum, bidadari cantiiik….!” sapaku halus pada kedua adik binaanku itu.

“Kak, Diandraaaaaaa….!” ah seperti biasa mereka berdua selalu kompak deh.

“Itu apa de?” kepo dikit.

“Ini kakak, kotak untuk kita galang dana siang ini. Kakak jadi ikut kan..!!!”

“Siap jendral, laksanakan…!!!” sambil tanganku memberi hormat ke mereka, disambut dengan gelak tawa yang renyah, serenyah chiki pagi yang kumakan tadi. Karena baru sedikit dus-dus yang mereka buat, akupun belajar membuatnya. Inilah sesuatu yang nggak bisa aku lupa, saat dimana kita sibuk mengerjakan proyek amal. Apalagi ini untuk kemaslahatan ummat, untuk meembantu ummat muslim yang sedang ditimpa kesusahan. Aleppo, Siapa yang tak bergetar saat mendengar nama itu. Aku wanita yang tak berdaya, yang tak bisa apa-apa. Semoga dengan ini aku bisa meringankan setitik penderitaan mereka. Sesungguhnya aku malu pada diriku sendiri, dan aku juga takut saat Allah tanya kelak, tentang saudaraku. Aku tak mampu berbuat apa-apa, ya Rabb ampunilah aku. Tanganku terus bergerak melipat dus-dus panitia galang dana di Kampusku. Alhamdulillah kata mereka, dosen dan seluruh staf sudah memberi izin, bahkan PolSekpun sudah mengizinkan. Aksi akan diadakan di bundaran atau lingkaran Arrahman, karena disana centre jalan, semua jalur pasti melewati itu. Panitia berfikir itu startegis, begitulah yang ku dengar dari semangatnya para panitia galang dana ini.

“Kak Diandra dan semua sahabat yang sholihah. Sepertinya sudah cukup, ini ada 20 kotak . Nanti yang ikhwan(read-laki-laki) juga akan buat , kita tunggu aja paling mereka sebentar lagi datang”   Keren de Lien ini kalau sedang  bicara di depan umum, seolah aku yang dulu hidup di dalam dirinya. Tegas, tangkas, dan cerdas. Nah kalau cerdasnya aku biasa aja. Asal cukup dapet beasiswa aja. He.., he….

Kalau si Hanny itu pendiam, tapi cekatan kerjanya. Kadang-kadang anak ini mood-mood-an belajarnya. Semoga aja deh, dua akhwat dan semua yang ada disini, bisa menjadi muslimah tangguh kebangaan ummat. Aamiin.   Helaian doa itu terpanjatkan, sambil ku tatap mata- mata indah yang berbinar dalam lentera kebaikan yang menyinari jiwa-jiwa mereka.

*****

“ Reza, kita cuma buat dus gini aja kah untuk galang dana? Emang ini untuk apa sih?”

“Daffa, Daffa…, kamu inih…! Ya untuk aksi penggalangan dana Aleppo lah”

“Za, ngapain jauh itu Aleppo di Suriah. Orang di kita aja banyak yang memerlukan, heran gue deh sama lo Za….”

“Daffa, In syaa Allah Pidi aceh sudah jugakan kita adakan galang dana waktu itu sama sahabat-sahabat kita yang lain, nah kita kebagian untuk Aleppo”

“Aleppo…, Aleppo. Kota nun jauh disana Za. Tapi ga papalah Za, kali ini gue ikut aja”

Astagfirullah Fa, masa lo gitu. Daffa sholih, niatinlah sesutu itu karena Allah, jangan ikut-ikutan. Agar pahalanya jelas, ingat sabda  Nabi Muhammad SAW, barang siapa meniatkan sesuatu maka itulah yang di dapatkannya, sekarang gue tanya lo, niatnya mau apa”

“Gue mau nikah…”

“Hah..!!!, galang dana kok niatnya mau nikah, Daffa…, Daffa..!!! parah lo…!!!”

Aku senyum aja liat si ustad Reza geleng-geleng kepala.

“Ya, ngga gitu juga Za, gue ikhlas karena Allah. In syaa Allah, ustad Reza Tufiq Assauqy”

“Nah gitu dunk, cepetan kelarin noh dusnya, dari tadi baru dapat satu, dasar anak Mama.”

“Siap tuan jendral, laksanakan…!!!”

Rezapun tersenyum kepadaku, yang diikuti senyum teman-teman yang lain.

Selang beberapa menit, Reza kasih pengumuman

“Teman- teman, sudah aja kayanya. Ini 30 kotak. Insyaa Allah cukup. Nanti kita ketemu tim akhwat di aula ya. Syukran jazakumullah”

 Begitu si pak ustad Reza mengakhirnya. Gue bawa kotak yang bertuliskan Bantulah saudara kita dengan Apa yang ada pada anda, Alleppo saudara kita dikahiri dengan hastag save Aleppo. Ada juga kawan-kawan yang nempel gambar anak-anak, dan gedung-gedung yang hancur.

Sepanjang jalan gue tanya pada diri sendiri, benarkah yang gue lakukan? Kenapa kita harus minta-minta untuk mereka, mereka aja ngga kenal kita, tapi gue inget hadist Nabi, kalau muslim satu dengan muslim lainnya adalah saudara.

Terus aja fikiran berkecamuk, memikirkan ini itu. Bisa malu nanti gue, minta-minta ke yang berhenti di lampu merah. Terus panas-panasan lagi. Bisa item kulit gue. Hmm, entar si Mama ngomel lagi, “DAFFA…!, Kamu kemana aja sewaktu Mama pergi, liat tuh kulit kamu item gitu..!!!!”, belum lagi papa,” Daffa, kamu itu fokus aja kuliah. Kamu harus tahu, kamu itu putra papa satu-satunya. Ga usah ikut ini itu kuliah aja” jreng..jreng…, adeeuh pusing juga ya mikirinnya.

****

“Kak, Diandara. itu Bang Reza sudah  datang. Ih…, kok, makin cakep aja ya bang Reza…,upzzz!!!”

“HUSSHHH…., Hanny apa-apaan sih kamu ini” Lien mukul bahunya Hanny.

Hanny malu menatapku, seolah ia tahu apa yang akan aku katakan.

“Maaf kak, Hanny salah” lucu liat wajah bersalahnya Hanny.

“Ingat sayang, kita jaga niat kita dari awal, saat pelakasanaan, dan saat setelahnya. Ingat kita ikut aksi ini hanya karena Allah, untuk Allah saja. Kalau jodoh mah ga akan kemana. Yang penting kita menjadi akhwat yang sholehah biar dapet jodoh yang sholeh.”

“Iya, kakak, maaf. Tapi ada kok kak, yang akhwatnya sholehah bangets, eh suaminya biasa aja tuh kak, gimana?” Lien dengan  muka serius nanya sama aku.

“Ya, itu tetep aja jodohnya si akhwat. Namun ada ladang dakwah , ladang amal bagi si akhwat untuk mengajak seuaminya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Ini kenapa sih jadi pada bahas nikah, sudah yah. Kita fokus ke AG-DUA (Aksi Galang Dana Untuk Aleppo)” aku mengakhirinya, tak lamapun sampailah rombongan ikhwan yang dipimpin oleh Reza, seangkatan denganku. Reza memang aktif dengan kegiatan-kegitan sosial, makanya dikenal dengan sebutan The king of Sociaty.

Aku mendengar ia memipin breefing, sebelum aksi dilakukan. Awalnya sholat dzuhur berjamah, lalu akan long march ke bundaran arrahman. Ada aksi puitisasi, aksi teatrikal, baru akan dilanjutkan dengan sunduk ke lampu-lampu merah. Pukul 14.46 wib atau 10 menit sebelum ashar semua sudah kembali ke aula.

Selang beberapa menit setelah breefing di tutup, adzanpun berkumandang. Mengaung ditelinga, menancapkan kedamaian jiwa. YA Rabb-ku, izinkan aku untuk selalu taat dengan panggilan-Mu, izinkan aku selalu mendengar panggilan-Mu ini. Indah tiada tara, ma syaa Allah. Semoga kelak bisa punya imam yang selalu mengumandangkan seruan-Mu Rabb.

*****

Oh gitu ya, acaranya. Baru tahu akan ada acara puitisasi alias pembacaan puisi untuk Aleppo, aksi teatrikal atau apa gitu namanya, baru kita minta-minta, eh bukan minta-minta. Mengumpulkan sumbangan. Daffa…, Daffa, lo salah mulu dah. Astagfirullah. Alhamdulillah, sholat sudah. Semoga Allah memudahkan acara AG-DUA ini ya Allah, dan Papa Mama ga ngomelin aku. Aamiin.

“Daffa, lo bawa satu dusnya ya, entar lo bisa kumpulkan dana dari mulai lajur 3 sampe lampu merah arah lajur 4. Mengerti tuan Daffa”

“Siap jendral laksanakan…!!!” Reza lagi-lagi tersenyum padaku.

Wah pasti bakalan bete ini, apah coba dengerin puisi-puisi. Bikin ngantuk aja. Ah ga ada bagus-bagusnya juga. Siapa sih yang buat pusi-puisi itu. Mendingan gue dengerin musik favorite gue aja. Adeeuh, si Daffa ini apa-apaan sih. Syaithan ini ,”Audzubillahiminasyathan nirrajiim”, dasar syaithan ganggu niat orang aja. Ampuni hamba yang salah terus ini ya Allah. Kok, semua diam. Hmm…, teatrikal udah, puisi juga tadi pada udah. Memang masih ada puisinya atau ada apa ini, ih kenapa akhwat itu diam di depan. Mau baca puisi atau mau apa di depan, ga tahu apa, banyak ikwan disini. Ah…!, akhwat ini dasar deh. Entah kenapa aku mendekati panggung kecil yang aku, Reza dan kawan-kawan buat beberapa hari lalu. Ya, walaupun ga dekat-dekat amat sih. Oh, tidaak…!!!, dia nangis. Ma syaa Allah, semua menundukkan kepalanya dan mengucurkan air mata. Kulirikan pandanganku, ternyata banyak pengendara yang berhenti dan menundukkan kepala juga. Ada juga yang menyeka air mata. Segitu dahsyatkah puisi yang dibawakannya, gue lepas headset yang menempel di telinga. Ah Daffa, kali ini lo ga peka. Harusnya ga usah pake headset tadi. Daffa…, Daffa…, gerutu gue dalam hati. Gue coba mulai meresapi apa yang dibawakan si akhwat itu, gue tundukkin pandangan. Terdengar suaranya yang lembut menusuk telinga gue.

Kami sadar tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu

Hanya rintihan setitik doa-doa saja untukmu

Betapa hati kami masih membatu saudaraku

 

Ya Allah…,

Jagalah saudara-saudaraku di Aleppo ya Allah…

Sesak dada ini mendengar derita mereka ya Allah…

Sesak dada ini mendengar berita-berita ini ya Allah…

Turunkanlah pertolongan-pertolongan-Mu ya Allah

Tolonglah  mereka ya Allah…, tolonglah mereka ya Allah…

 

Ya Allah…

Jagalah saudara-saudara hamba di Aleppo ya Allah…

dan

Maafkanlah kami…Maafkanlah aku…

yang tak bisa membantu mereka ya Allah…

 

Maafkanlah…, maafkanlah…

Maafkan dan maafkanlah kami ya Allah…

 

Syahidkanlah yang telah gugur

Jagalah yang masih ada ya Allah…

 

Ampunilah kami

yang tak bisa menolong saudara kami disana ya Allah…

Ampunilah…ampuni…ampuni ya Allah…ampuni…Ampunilah Ya Allah…

 

Ya Allah, puisi karya kak Dewi Suryati yang dibacakan itu membuat malu jiwaku ini ya Allah, padahal telah Engkau beri segalanya, hatiku membatu ya Allah. Ampunilah aku ya Allah. Syahidkan yang telah gugur dan selamatkan yang masih ada, hiks…, hiks…, ya Allah aku malu pada-Mu, atas semua yang ada padaku. Ampunilah aku, Mama dan Papaku serta semuanya atas ketidak mampuan kami membela saudara kami ya Allah, Hiks…, hiks…

Air mata  gue  mulai berjatuhan tak tertahankan, deras sekali. Gue tersadar dari rapuhnya asa yang selama ini mebekukan hati gue. Ternyata hati gue membatu, gue ngga peka pada saudara-saudari gue. Bismillah ya Allah, jadikanlah saksi hari ini, bahwa gue peduli pada suadaraku walau hanya mengangkat dus bukan senjata.

“Fa, ingat kan tugasnya?” Tiba-tiba Reza menepuk punggungku. Aku angkat mukaku dan ku peluk Reza, “Makasih ya Za, udah buat gue sadar. Selama ini hati gue batu Za, hiks…hiks.., makasih semuanya Za”

“Sudahlah Fa, kita disini mencari ridho Allah. Semoga Allah melembutkan hati kita, agar bisa tergerak dan terbina dalam kepekaan. Begitupun orang-orag yang akan kita temui nanti, semoga tergerak untuk memberikan infaqnya untuk saudara-saudara kita di Aleppo.

“Aamiin. Oh ya Za, nanti mintain puisi itu untuk gue ya, pliss…!”Reza meninggalkanku sambil bilang ok. Alhamdulillah. Pengen tahu lengkapnya puisi itu gimana.

Diteriknya matahari siang, aku menapaki jalan-jalan gang, tersenyum dalam batunya hatiku. Malu ya Allah, aku malu. Terus kusapa dan ku infokan ke masyarakat yang lewat, alhamdulillah ada yang infaq, seribu, dua ribu, bahkan 50 ribu, ma syaa Allah. Sedekah-sedekah ini akan jadi pemberat amal mereka kelak. Akan membela mereka dihadapan Allah. Gue? Apalah bisanya gue, ya Allah izinkan uang jajanku yang ditinggalkan papa, akan aku berikan semuanya pada mereka saudaraku di Aleppo. Maafkan saudaramu ini ya para ukhti-ukhti di Aleppo, tak bisa menolongmu. MAAFKAN. Air mta kesedihan dari batunya hati gue ini terus saja berderai.

“Mas, untuk Aleppo ya?” Tanya seseorang yang memberhentikan motornya tepat didepanku.

“Iya, mas. Untuk saudara-saudari kita di Aleppo”

Si orang yang gue panggil mas itu ngeluarin dompetnya, mengambil uang dan mengucap Bismillah, lalu pergi setelah mengatakan padaku, “Terimkasih telah peduli pada saudara kami”

Makin berdegub kencanglah jantung gue ini, rasanya tak mampu berdiri  lagi melanjutkan sunduk ini.

Si Daffa, yang berhati batu ini. Memohon ampunan kembali pada-Mu ya Allah. Dan betapa kagetnya saat  gue lihat uang yang tadi di masukan si orang pengendara motor itu. Ratusan ribu rupiah. Ma syaa Allah. Hiks…, hiks…

*****

Bismillah ya Allah, semoga sunduknya banyak. Bisikku dalam hati.

“Kak, Diandara. Kakak nanti lajur Lima tapi muter ke lajur empat  ya’’ Gitu kata Hanny.

Kotak yang dibuat ternyata kurang, jadi dus ku ga ada tulisannya, hanya tulisan spidol yang ada di tasku. Inipun ga terlalu jelas udah mau abis. Ga papalah Bismillah, Hupp…!!! semangat…!!!. Aduh kenapa sendiri aku nya ya, ah tapi ada Allah bersamaku. Aku terus berjalan dari satuan langkah ke langkah yang lainnya. Di bawah terik matahari yang mengeruskan panasnya cinta, haus juga ini. Bentar ah mau mampir beli air dulu.

“Pak, air mineral ini berapa?” tanyaku pada si bapak penjual air minum di warungnya.

“Sebentar ya De….” Loh ko sebentar, ditanya harga jawabnya sebentar, ini membuat aku sedikit tersenyum. Si Bapak ada-ada aja. Lalu keluarlah si Bapak dari warungnya. Ini air untuk adik dan teman-teman, gratis. Ade aja mau panas-panasan untuk mereka.

Bapak ga bisa melakukannya, jadi ambil saja apa yang ade mau di warung ini. Bukan hanya air tapi semuanya. Silahkn saja. Oh ya untuk air ade pasti berat ya, gapapa nanti bapak antar, asal ade kasih saja alamatnya kumpul setelah acara ini dimana.

Atau gini aja, semua panitia boleh makan diwarung makan istri saya, setelah ashar di samping kantor Al-Ayubi centre. Tolong sampaikan kepada teman-temannya dan nanti berikan ini pada bu Susy ya disana” Si bapak memeberikanku secarik kertas kecil.

Ma syaa Allah, baru aja beberapa langkah. Allah sudah mudahkan segalanya, ketika kita meniatkannya untuk Allah, maka Allah akan memudahkan. Hmm…, jadi ingat ayat favoritku Surat Muhammad ayat 7. Ma syaa Allah, terimaksih ya Allah. Semangat ini menggunung dijiwaku.

“Ayo, pak infaq untuk Aleppo…, Ayoo Bu, infaq untuk Aleppo..!!!” Itulah kata-kata yang aku ucapakan. Tiba-tiba berhenti mobil di depanku berdiri, setelah membuka kacanya yang ternyata mereka adalah anak muda- muda.

“Hey, nona. Ngapain coba panas-panas …, sini kami mau menyumbang nih”

Ih…, kenapa nadanya gitu. Kalau mau nyumbang yah, ya Allah lindungi hamba.

“Hey nona…!!! Tuli yah…!!!, jangan-jangan uangnya dimakan untuk situ ya. Untuk mencantikan diri…” Waduh pengen banget nampar tuh orang. Astagfirullah.

“Engga mas, ini murni untuk Aleppo, bukan untuk saya. Mungkin mas-mas juga liat di jalur-jalur yang dilewati ada banyak yang membawa dus seperti ini” sambil kuangkat dus yang aku bawa.

“Iya tapi mereka jelas tulisan dusnya, ga kaya Nona. Itu Cuma spidol bisa aja kan bisa saja palsu, iya ngga kawan-kawan….?”

“HAHA…HAHA…, Iya” kompak mereka menjawabnya diiringi suara tertawa yang membuat telingaku tambah panas.

“Benar kok, saya bagian dari mereka yang menggalang aksi untuk Alep…Alepp….”

DRAKKKS…!!!!, pintu mobil bagian  bawah di gebrak seorang ikhwan yang membawa dus juga. Entah dari mana datangnya.

“TURUN LO, KALAU MAU NYUMBANG NYUMBANG, KALAU ENGGA, ENGGA. RIBET BANGET…!”

“WOIII…, PACARNYA MARAH…PACARNYA MARAHHH…!!!” Mereka menyalakan mobil dan langsung kabur dari hadapanku, tinggal aku dan ikhwan itu. Ia tidak mengucapkan kata apa-apa, ia berlalu dariku dengan pandangan yang menunduk. Setelah ia melangkah lima langkah aku memanggilnya, ”akhi…, syukran” ia berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalananya lagi. Dan akupun melanjutkan lagi agendaku. Mencari infaq sebanyak-banyaknya.

part 1

Turun lo, KALAU MAU NYUMBANG , NYIMBANG KALAU ENGGA ,ENGGA RIBET BANGET.

Nah pembaca kira-kira siapa ya, yang mengatakan itu pada pengoda Diandra? Apa yang terjadi dengan Diandra? mau tahu kelanjutannya ikuti part 2 Secarik puisi cinta berikutnya …hanya di web salimah

By

@dewiSuryati1*

Humas Media Salimah Sintang, Kalbar (FDH)

Related Post

About Author: Humas Salimah

Gravatar Image
Humas Salimah, menyampaikan berita aktivitas muslimah dari seluruh Indonesia serta informasi edukasi perempuan, karena Salimah peduli meningkatkan kualitas perempuan, anak dan keluarga Indonesia.