Secarik Puisi Cinta untuk Aleppo

by

Bagian 2

Hari kemarin itu membuat ku tahu arti persahabatan dan kebaikan yang terbalas. Terimaksih ya Allah, Engkau telah menemukanku dengan orang-orang yang baik. Jadikanlah aku orang-orang baik yang memiliki kepekaan rasa yang baik kepada saudara-saudari hamba seiman seagama dimanapun berada.

“Daffa, ko ga minta uang tambahan sama Papa?” Papa menghampiri tempat tidurku. Karena pintu sengaja ga dikunci. Mau pergi keluar kota 5 hari ga jadi, takut anaknya kenapa-napa katanya. Si Mama memang gitu dah.

“Ngga Pa, Alhamdulillah cukup. Lagian baru dua hari aja Daffa ditinggalin Papa sama Mamanya. Tapi uang yang Papa simpan di laci, habis semua Pa. Dipake sama Daffa, ngga papa kan Pa?”

“Kok, bisa langsung habis selama dua hari itukan banyak Daffa…, kamu ini”

“Hehe…,maafin Daffa, Pa”

“Kalau boleh tahu, Daffa gunakan untuk apa?”

‘Itu Pa…, untuk…, tapi sebenarnya ini ga boleh dibilang-bilang Pa. Tapi okelah karena uanganya dari Papa, Daffa akan jelaskan…”

Kujelaskan ini dan itunya, Diluar sangka Papa nangis sambil memelukku. Ternyata mama dari tadi mendengarkanku dibalik pintu juga. Mama menghampiriku dan memelukku. Sambil menitikan air mata.

“Mana puisinya Daffa, Mama mau baca…”

Aku berikan secarik puisi cinta untuk Aleppo. Mama dan Papa pergi dengan mengiyakan keinginanku sebelumnya. Kalian mau tahu apa keinginanku paska AG-DUA?, Baca lagi ya lanjutanya.

***

6 bulan kemudian

Malam menggantungkan cahaya bintang yang temaram, indah. Mengedipkan rasa yang berbunga di hatiku. Reza sudah menikah 3 bulan lalu. Akadku pun telah mengalunkan cinta yang indah dihatiku, pesona kelembutan hatinya mencuri imaji ku. Engkau membuat batu hatiku hancur, membuat egoku luluh lantah, engkau …, ah aku ga bisa menggambarkannya. Kini tali cinta sudah terikat diantara kita. Aku bisa menjagamu selamanya dari gangguan siapapun. Ku buka pintu kamar berwarna hijau itu, pandanganku lurus kedepan. Kulihat ia duduk dihamparan sajadah cinta. Diandra istriku i love you coz Allah. Aku mengampirinya, masih malu tapi memang benar setelah akad Allah akan perlahan menyibak rasa malu diantara pasangan.

“Daffa, boleh aku bertanya?”

“Silahkan, asal jangan yang susah-susah ya, cukup sidang skripsiku aja yang susah, he…he.., silahkan tuan putri…!”

“Sayang, kenapa kamu meminta Papa, untuk meminangku?”

“Hmm…, berat ini pertanyaanya, kenapa yah. Ini alasanku meminta Papa agar kamu jadi istriku. Peratama, aku ingin melindungimu seumur hidupku. Aku ga tega melihat kamu di olok-olok sama pemuda-pemuda waktu  itu, aku ga bisa jaga para wanita yang ada di Aleppo.  Keduanya, ga tahu kenapa pas kamu baca puisi, hati kami masih membatu. Itu tuh nusuk banget ke aku. Aku berfikir mungkin ini jalan hidayah, agar aku menjadi baik lagi. Oh ya sayang, puisi itu masih aku simpan loh sampai sekarang. Aku minta sama Reza, tapi kamu  harus tahu niat awalku menikah adalah karena Allah, bukan karena yang lain, gimana jawabanku?, cukup tuan putri”

Ia malah manggut-manggut dengan senyum manja, ih dasar akhwat ini.

“Oh ya ada satu lagi, benar banget sabda Nabi Muhammad, apa yang kita niatin akan kita dapatkan. Waktu itu Reza tanya, niat kamu ikutan aksi apa, aku jawab nikah. Padahal waktu itu aku ngga begitu sih, tapi ga tahu kefikiran begitu aja, dan jreng…, jreng…, ternyata diaksi ada jodohku, yaitu kamu. Ma syaa Allah…”

“Wah bisa gitu ya, kalau aku pernah berdoa, agar aku punya imam yang bisa adzan, karena aku suka dengan adzan, jreng…jreng…Allah kabulin doaku, kamu tuh suka adzan, dari kapan?”

“Dari kecillah, tepatnya dari aku SMP sih, kata mereka suaraku bagus, cie…cie…, bukan ngebanggain nih. Terus kata mereka coba aja adzan, dan pertama adzan aku dibilang bagus sama Papa dan Mama, sampe sekarang deh. Tapi untuk urusan agama, aku diajarin kamu ya, ya…, ya putri bidadari cantik jelita…plisss”

“Coba sekarang adzan.,…!” Idiih…, ni akhwat ngapain coba malam-malam gini nyuruh aku adzan.

“Masa adzan, malam-malam sayang, kamu ini ada–ada aja deh. Isyanya aja udahan tadi.”

“Adzan dihatku maksudnya…, he…he…”

Aish…, ampun daah ya Allah, aw…aw…, akhwat ini dasar…!

Malam menghantarkan rajutan rasa, yang baru saja terpintal dalam satuan jiwa yang terpadu. Ya Allah jagalah saudara-saudariku di Aleppo, di Palestina dan dimanapun berada termasuk di negaraku tercinta Indonesia. Walau kami baru nikah besok ada aksi untuk Aleppo lagi. Kami akan turun. Bismillah…, jadikanlah kami orang yang peduli dan mau berbagi. Aamiin. Udahan ya pembaca mau tidur dulu , udah malam. Assalamualaikum….

Eh udah pamit ya, balik lagi daah, ini lengkapnya puisi untuk Alepponya. Makasih sudah baca.

Teruntuk Saudaraku di Aleppo

oleh: Dewi Suryati

 

Hentakan waktu terus memburumu

Terselamatkan atau tersyahidkan

Banyak sudah kabar beredar

Sehingga membaca dan melihat membuat hati berdebar

 

Saudaraku…,

Bersabarlah…, menghadapi ujian-ujian indah dari sang Rabb

Bersabarlah saudaraku…

 

Kami sadar tak banyak yang bisa kami lakukan untukmu

Hanya rintihan setitik doa-doa saja untukmu

Betapa hati kami masih membatu saudaraku

 

Ya Allah…,

Jagalah saudara-saudaraku di Aleppo ya Allah…

Sesak dada ini mendengar derita mereka ya Allah…

Sesak dada ini mendengar berita-berita ini ya Allah…

Turunkanlah pertolongan-pertolongan-Mu ya Allah

Tolonglah  mereka ya Allah…, tolonglah mereka ya Allah…

 

Ya Allah…

Jagalah saudara-saudara hamba di Aleppo ya Allah…

dan

Maafkanlah kami…Maafkanlah aku…

yang tak bisa membantu mereka ya Allah…

Maafkanlah…, maafkanlah…

Maafkan dan maafkanlah kami ya Allah…

 

Syahidkanlah yang telah gugur

Jagalah yang masih ada ya Allah…

 

Ampunilah kami

yang tak bisa menolong saudara kami disana ya Allah…

Ampunilah…ampuni…ampuni ya Allah…ampuni…Ampunilah Ya Allah…

 

TAMAT

********

Cerita ini dipersembahkan untuk para pejuang galang aksi dana Aleppo dimana saja berada, ODOJers, Q-SLJ, untuk suami tersayang dan untuk 3 putraku, Muhammad Akif Maulana Arrahman, Ahmad Saheel Al-Ayubi dan Latafat Ahmad Eiji. Cerpen ini masuk seleksi dalam buku “Antologi Cinta untuk Aleppo”pengumuman via email tanggal 15 Maret 2017 yang diadakan oleh Aliansi Keputrian Timur Tengah & Afrika (AKTA).

 

*Dewi Suryati, lahir di Sukabumi 17 Mei 1984, menamatkan pendidikan di SMAN1 Cicurug (2004), STAI Ma’arif Sintang (2014). Menikah dengan Bapak Rohman (2007), dikaruniai 3 Putra. Bekerja di RRI Sintang sebagai penyiar radio, Trainer Admin di Komunitas One Day One Juz (ODOJ). Saat ini diamanahkan sebagai staff Humas Salimah Sintang.

Related Post

About Author: Humas Salimah

Gravatar Image
Humas Salimah, menyampaikan berita aktivitas muslimah dari seluruh Indonesia serta informasi edukasi perempuan, karena Salimah peduli meningkatkan kualitas perempuan, anak dan keluarga Indonesia.