Salimah Lombok Timur Peduli Dhuafa

by

Kunjungan pertama PD Salimah Lombok Timur ke rumah Inaq Salkiah, janda dengan dua anak yatim yang tinggal di Bangket Tangaq, Dusun Bendung Lauq, Desa Kilang, Kecamatan Montong Gading. Lokasinya cukup tersembunyi dari jalan desa, menyusuri jalan baru pematang sawah yg masih jarang terdapat rumah penduduk.

Rumah kecil berdinding batako bantuan Pemdes, tak jauh dari kandang sapi milik tetangga, itulah rumah Inaq Salkiah.

Awalnya wanita penyandang tuna netra ini sedikit kaku saat menerima saya sebagai tamunya karena menurutnya sangat jarang ada orang yang bertamu atau mencarinya.

Dibantu salah seorang tetangganya, digelarkannya tikar plastik (satu-satunya perabotan yang ada di ruang tamu) untuk kami duduk.

Seorang anak lelaki usia sekitar 8 tahunan mengintip dari samping rumah. Namanya Arya, anak kedua Salkiah yang baru duduk di kelas 1 SD. Telat didaftarkan sekolah karena ketiadaan biaya. Alhamdulillah ada beberapa warga dusun yang berbaik hati memberikan bantuan perlengkapan sekolah untuk Arya.

Selanjutnya kami meminta izin untuk melihat dapur dan kamar mandi rumahnya.

Sebuah ruangan kecil yang gelap berlantai tanah di sebelah ruang tamu, terdapat sebuah tungku usang yang sepertinya jarang digunakan.

Di sudut lainnya terdapat sebuah gentong yang terbuat dari tanah liat dan beberapa ember plastik, wajan kecil, panci kecil, piring bekas pakai dan nyiru anyaman bambu. Tak ada rak piring ataupun kompor gas.

Beralih ke kamar mandi rumah. Alangkah terkejutnya saya ketika sang tetangga menunjukkan kamar mandi yang menurut saya (maaf) lebih tepat disebut kubangan air. Genangan air berwarna coklat keruh dengan penutup kain kumal itulah sehari-hari Inaq Salkiah dan anak-anaknya mandi, mencuci dan buang air. Jangan tanya dimana WCnya.

Sepanjang mengobrol dengan kami, Inaq Salkiah selalu terbatuk-batuk. Sudah berbulan-bulan katanya batuknya tak kunjung sembuh.

“Side sudah berobat ke Puskesmas?”

“Tak ada uang untuk berobat. Kalau malam batuknya tidak berhenti. Saya minum air dingin saja. Perut saya sampai kaku dan sakit,” jawabnya.

Trenyuh hati saya mendengar pengakuannya.

“Side harus periksa ke puskesmas, khawatirnya itu gejala TBC. Insya Allah obatnya gratis. Nanti saya akan bicara dengan Pak Kadus, untuk mendiskusikan siapa yang akan mengantar side berobat. Side tenang saja.”

Sebelum berpamitan pulang, kami menyerahkan bingkisan paket sembako. Amanah dari para donatur program ‘Peduli Dhuafa’.

Diraba-rabanya bungkusan plastik itu, mengira-ngira apa saja isinya. Tak lupa terima kasih ia ucapkan berulang-ulang.

Semoga Allah menyembuhkan penyakitmu, dan meringankan beban hidupmu, Inaq Salkiah.

* inaq = ibu

Side = anda

Eny Humas Media Salimah Lombok Timur-NTB (Fdh)