Category Archives: Mutiara Hikmah

wpid-rps20130216_151807.jpg

Bahaya Prasangka

image

Prasangka, terlebih prasangka buruk, merupakan perbuatan yang sangat dikecam oleh Islam. Prasangka tidak sedikitpun mendatangkan kebaikan. Dalam Surat Yunus (10) ayat 36. Allah SWT berfirman, “Prasangka itu tidak mendatangkan kebenaran apapun.”

 

          Firman serupa ditegaskan kembali dalam Surat An Najm (53) ayat 28. Kemudian dalam surat Alhujurat (49): 12, Allah SWT juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah memperbanyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa. “Dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW menegaskan, “Takutlah kalian berprasangka, karena ia merupakan sedusta-dusta perkataan.”

 

          Dengan demikian jelas, prasangka merupakan perbuatan yang berbanding lurus dengan itsm (dosa) dalam pandangan Allah SWT dan akdzab al hadits (sedusta-dusta perkataan) dalam pandangan Rasulullah SAW. Karenanya, prasangka sedapat mungkin harus dihindari, dan hanya orang-orang yang beriman yang bisa melakukannya.

 

          Dalam mengelaborasi pengertian prasangka, Imam Sufyan Ats Tsauri menyakan, prasangka itu ada dua jenis. Prasangka yang mendatangkan dosa dan prasangka yang tidak mendatangkan dosa. Yang pertama dilakukanoleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan. Yang kedua dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati.

 

          Prasangka model pertamalah yang dinilai Imam Ats Tsauri berimplikasi dosa. Sedangkan yang kedua tidak. Namun jika dicermati, prasangka model kedua bisa menjadi pembuka jalan terjadinya prasangka model pertama. Dengan ujaran lain, prasangka yang tertumpahkan melalui ucapan itu terjadi karena bermula dari prasangka dalam hati.

 

          Apalagi memurut banyak riwayat, Allah SWT justru melihat apa yang ada di kedalaman hati hambaNya. Itu artinya, prasangka dalam hati juga tak pernah luput dari pantauan Allah SWT. Hal ini perlu diangkat ke permukaan, karena dalam kondisi bangsa yang serba semrawut ini, s angat mungkin sikap saling berprasangka menjadi lumrah terjadi.

 

          Kita masih ingat tragedy Al Ifki yang menimpa Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW. Karena beliau disangka berselingkuh, masyarakat Madinahpun gempar. Rasulullah SAW tidak berkenan. Gunjingan demi gunjingan berhamburan di tiap sudut kota. Ketegangan pun terjadi dimana-mana. Kedamaian hilang. Padahal, berita perselingkuhan itu hanya dusta yang sengaja disebar orang munafik. Untuk itu, menghindari prasangka sangat ditekankan dalam Islam.

Nurul Huda Ma’arif

orang-tua

Dirimu dan Hartamu Milik Orangtuamu

orang-tuaDalam hadis riwayat Thabrani dari Jarir RA, ada seorang anak muda mengadu kepada Rasulullah SAW.
Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku.”
Mendengar pengaduan anak muda itu, Rasul berkata, “Pergilah kamu dan bawa ayahmu kesini!”

Setelah anak muda itu berlalu, Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata; “Ya, Muhammad, Allah ‘Azza wa Jalla menyampaikan salam untukmu, dan berpesan, kalau orang tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya.” Continue reading

Kisah Al Qur’an : Banjir Kaum Saba

image

Kisah tentang banjir, beberapa kali disebutkan di dalam Alquran. Mulai dari banjir di zaman Nabi Nuh AS, hingga banjir besar yang menimpa kaum Saba. Dalam Alquran disebutkan, banjir dan berbagai musibah yang dialami umat manusia disebabkan oleh ulah tangan-tangan manusia sendiri. Mereka bukan melestarikan, melainkan merusak lingkungan.

Salah satunya adalah kisah tentang banjir besar yang dialami kaum Saba. Lihat Alquran surah Saba [34]: 15-17. Dalam ayat tersebut, Allah menceritakan bahwa penyebab utama musibah dan banjir yang dialami kaum Saba itu adalah rusaknya lingkungan akibat pelanggaran yang mereka lakukan.

Berawal dari pelanggaran ajaran agama, yang kemudian merembet pada persoalan lain, sehingga merusak lingkungan. Seperti, melanggar peraturan izin mendirikan bangunan (IMB), melakukan pencemaran dengan membuang limbah dan sampah sembarangan, dan pembalakan hutan secara liar.

Saba awalnya adalah negeri yang penuh keadilan dan kesejahteraan. Namun, negeri itu berubah menjadi rusak akibat ulah penduduknya. Allah telah menciptakan alam ini dengan ukuran dan karakteristik tertentu. (QS al-Qamar [54]: 49). Manusia diperintahkan untuk menjaganya demi kehidupan yang baik, aman dan damai bagi seluruh makhluk hidup. (QS al-Furqan [25]: 2).

Lingkungan alam akan selalu seimbang bila tidak ada unsur perusakan oleh manusia. Keseimbangan alam akan terjaga bila semua unsur dan faktor lingkungan terpelihara dengan baik. “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS al-Hijr [15]: 19).

Ayat ini menegaskan bahwa gunung-gunung dan laut diciptakan untuk menjaga keseimbangan Bumi. Tumbuh-tumbuhan diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Berbagai macam tumbuhan diciptakan sesuai dengan keseimbangan lingkungan.

Pencemaran adalah suatu bentuk kejahatan yang dilakukan manusia akibat perusakan terhadap keseimbangan sistem ekologi. Kerusakan di bumi akibat tangan manusia dan pelanggaran hak-hak manusia seperti pembunuhan, kezaliman, penganiayaan, dan pencemaran. (QS al-A’raf [7]: 85).

Untuk itulah kita wajib mengajak dan memelopori umat untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dan menggerakkan umat untuk memelihara lingkungan.
Pertama, menjaga kebersihan dan menghindari pencemaran lingkungan.
Kedua, menggalakkan penanaman pohon dan tidak membiarkan lahan tanpa tanaman.
Ketiga, memelopori penghematan dalam penggunaan energi, air, dan BBM.
Keempat, membudayakan pembuatan biopori dan sumur resapan di semua kalangan masyarakat.

Ketika kita bersama-sama memelihara lingkungan maka akan tercipta lingkungan yang sehat dan aman. Dengan demikian, maka berbagai pencemaran lingkungan, banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana lainnya, akan mudah teratasi. Itulah salah satu dari tujuan penciptaan manusia, yakni melestarikan dan mengelola alam ini dengan sebaik-baiknya

Sumber REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: KH Achmad Satori Ismail

Apakah Istri Anda Cerewet? Itu Normal

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menemukan banyak suami yang heran dengan sikap dan perilaku isterinya. Menurut para suami, isteri mereka terlalu banyak bicara. Ungkapan seperti ini sering didengar oleh para konselor keluarga:

“Isteri saya itu orangnya aneh banget. Maunya ngomong terus, hal-hal yang tidak penting saja diomongkan”, kata seorang suami.
“Isteri saya itu orangnya sangat cerewet. Semua dikomentari, seakan tidak ada hal yang benar dari diri saya”, kata suami yang lain.
“Saya heran, apa tidak sebaiknya dia itu diam saja, tidak usah banyak bicara”, ujar suami yang lain.
Apa yang Sebenarnya Terjadi? Continue reading

Sabuk Hitam adalah Awal bukan Akhir

Makna filosofi sabuk hitam taekwondo mempunyai arti permulaan itu mungkin dikarenakan hitam yang merupakan lambang Kedewasaan dan kematangan(disini tidak ada hubungannya dengan umur seseorang). Disini para taekwondoin pemegang Sabuk hitam diharapkan memiliki sudut pandang, sifat dan perilaku yang lebih dewasa dari sebelumnya saat mulai latihan.

Konon jaman dahulu hanya ada 1 warna sabuk saja, yaitu sabuk putih. Saat seseorang mulai belajar beladiri.  Ia akan memperoleh sabuk putih yang akan diikatkan pada doboknya setiap kali berlatih. Sabuk putih ini tidak boleh dicuci dan dengan semakin seringnya berlatih, lama kelamaan sabuk putih itu warnanya akan menjadi semakin gelap dari putih ke abu-abu, coklat lalu menjadi berwarna hitam karena bercampur keringat, debu, darah dan air mata saat berlatih. Continue reading

Sabuk Hitam

Ada seorang anak gemar belajar bela diri, setelah melewati pelatihan ketat selama beberapa tahun, dengan berbekal teknik bela diri yang sempurna berlutut di depan sang Guru, bersiap-siap menerima upacara kenaikan tingkat menjadi sabuk hitam.

Sang Guru ini sangat sayang pada murid yang rajin mempelajari bela diri serta disiplin memegang perilaku diri, maka sang Guru memutuskan untuk memberikan ujian terakhir kepada murid tersebut, “Anda harus melewati ujian ini, setelah lulus Anda baru bisa dianugerahi sabuk hitam.”

Dengan penuh keyakinan murid itu menjawab, “Saya siap.” Dalam hati ia berpikir, mungkin akan diadakan pertandingan dengan gurunya. Walaupun dia paham dalam teknik bela diri, ia masih jauh dibandingkan sang Guru, tetapi murid itu sama sekali tidak merasa gentar. Continue reading

Sebutir Bibit di Tanah yang Tepat

Seorang siswi telah lulus dari SMA, tetapi tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak lulus ujian penerimaan. Lalu ia menjadi guru bantu sekolah dasar di sebuah pedesaan.

Namun belum genap sepekan mengajar, ia telah diusir oleh para muridnya. Dengan patah semangat ia pulang ke rumah. Ibunya mengusap air matanya, menghibur dirinya dengan berkata, “Kepandaian dalam diri seseorang, ada orang yang dapat menuangkannya dengan mudah, ada juga orang yang sulit menuangkannya, mungkin masih ada pekerjaan lain yang lebih sesuai untuk kamu kerjakan.”

Kemudian ia pergi bekerja di tempat lain, lagi-lagi ia diusir pulang oleh majikannya, dengan alasan gerakannya kurang cekatan. Kali inipun sang ibu menasihati. Continue reading

Keutamaan Puasa Senin Kamis

image

Nabi Muhammad SAW sangat antusias berpuasa sunnah pada hari Senin dan Kamis dan baginda Rasulullah kerap melakukannya. Kini umat Islam banyak melakukan amalan puasa sunnah Senin dan Kamis . Inilah beberapa keutamaan dan keberkahan berpuasa pada hari Senin dan Kamis:

1. Pintu-pintu surga di buka pada dua hari tersebut, yaitu Senin dan Kamis. Pada saat inilah orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.

Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua  hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)

Keutamaan dan keberkahan berikutnya, bahwa amal-amal manusia diperiksa di hadapan Alloh pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau bersabda:

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Alloh dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hambayang di antaradia dan saudaranyaterjadi permusuhan…” (HR. Muslim)

Karena itu, selayaknya bagi seorang Muslim untuk menjauhkan diri dari memusuhi saudaranya sesame Muslim, atau memutuskan hubungan dengannya, ataupun tidak memperdulikannya dan sifat-sifat tercela lainnya, sehingga kebaikan yang besar dari Allah Ta’ala ini tidak luput darinya.

2. Keutamaan hari Senin dan Kamis yang lainnya, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias berpuasa padakedua hari ini.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia mengatakan,

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin danKamis”. (HR. Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah, Imam Ahmad)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,

“Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari senin dan Kamis, makaaku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkanaku dalam keadaan berpuasa.”(HR. At Tirmidzi dan lainnya)

Dalam shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu bahwaRasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab,

“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya Al-Qur’an kepadaku pada hari tersebut.” (HR.Muslim)

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” (Lihat Subulus Salam)

Berdasarkan hadits-hadits di atas maka di sunnahkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada dua hari ini, sebagai puasa tathawwu’ (sunnah).

3. Keutamaan lain yang dimiliki hari Kamis, bahwa kebanyakan perjalanan (safar) Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam terjadi pada hari Kamis ini.

Beliau menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis. Sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari bahwa Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan:

“Sangat jarang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar (untuk melakukan perjalanan) kecuali pada hari Kamis.”

Dalam riwayat lain juga dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu:

“Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar pada hari Kamis di peperangan Tabuk,dan (menang) beliau suka keluar (untuk melakukan perjalanan) pada hari Kamis.” (HR.Bukhori)

Semoga kita  diberi kemauan dan kemampuan untuk puasa sunnah senin dan kamis karena ittiba kepada Rasulullah SAW dan semoga kita diberi keberkahan dari amal-amal yang telah dilakukan serta mendapat ampunan Allah .

Belajar Menerima Takdir

image

Dalam kondisi normal, manusia sepenuhnya sadar bahwa kehidupannya diwarnai dengan suka dan duka, sedih dan gembira, menangis dan tertawa, sengsara dan bahagia. Namun kesadaran tersebut hilang, manakala manusia tiba-tiba dirundung duka, kesedihan dan kesengsaraan.
Sebaliknya, banyak manusia bersikap up-normal pada saat suka-cita, gembira dan bahagia.

Tepatlah kemudian jika Alquran menyitir sifat manusia yang umumnya suka mengeluh, sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya, “Sungguh, manusia diciptakan bersikap suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19-21).

Namun Alquran mengajarkan kepada kaum muslimin untuk mempertahankan posisi normal dalam keadaan apa pun baik suka maupun duka, baik tertimpa musibah ataupun dianugerahi kebahagiaan. Hal tersebut karena posisi normal mengisyaratkan ketenangan dan kerelaan seseorang atas takdir yang ditentukan Allah, yang menunjukkan pula kuatnya iman. Lebih dari itu, posisi normal menjadikan seseorang dapat tetap berpikir logis dan pengendalian diri dengan baik.

Adalah merupakan kewajiban kaum muslimin untuk bersikap sabar dalam menghadapi musibah dan bersyukur saat mendapat anugerah. Hal tersebut karena seorang Muslim yakin bahwa kejadian apapun di bumi dan langit tidak akan terlepas dari takdir Allah SWT serta apa pun bentuk kejadiannya bagi Allah SWT merupakan suatu hal yang amat mudah. Sehingga seorang Muslim harus senantiasa berbaik sangka terhadap Allah, sedangkan yang dilakukannya tidak lebih sekedar berikhtiar atas apa yang dapat dilakukan. (QS. Al-Hadid: 22).

Sikap seorang Muslim tersebut merupakan respons positif dalam mengatasi sifat alamiah manusia yang umumnya mengeluh pada saat susah dan kikir saat mendapat anugerah. Sikap tersebut merupakan modifikasi dari sifat alamiah-negatif menjadi progresif-positif dengan tujuan agar kaum muslimin tidak sampai bersedih hati dalam menghadapi masalah hingga berujung pada sikap putus asa. Sebaliknya, jika anugerah yang diberikan oleh Allah, maka seorang mukmin tidak boleh pula terlalu gembira yang berujung pada sikap sombong dan lupa diri. (QS. Al-Hadid: 23).

Sikap moderat inilah yang ditekankan Alquran dalam banyak kesempatan sehingga dengan kemoderatannya seorang muslim tetap dalam kondisi normal. Sikap moderat tersebut sekaligus sebagai bentuk antitesa terhadap sikap orang-orang munafik yang sering berada pada satu titik ekstrem, yaitu berjanji beriman kepada Allah sebelum mendapat anugerah dan bersikap kikir saat mendapatkannya. (QS. At-taubah: 75-77).

Dengan demikian seorang Muslim hendaknya senantiasa memiliki keyakinan kuat bahwa nasib dari perjalanan hidupnya adalah takdir Allah dan kewajiban dirinya adalah berikhtiar dengan sekuat tenaga dan sebaik-baiknya usaha (QS. Al Mulk: 2).

Kedua, memiliki prasangka baik terhadap Allah SWT atas takdir apapun pada dirinya.

Ketiga, berusaha untuk bersikap moderat dalam keadaan apa pun dan terus berusaha menjadi lebih baik, sehingga tetap mampu berpikir normal dan kritis serta tidak terbawa oleh penderitaa atau terlena oleh kenikmatan.

Keempat, memiliki visi untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah dan bersabar kala menerima cobaan serta yakin bahwa nikmat yang diberikan Allah jauh lebih banyak dari cobaan yang diterima. Wallahu a’lam.

Sumber Republika Online, penulis : Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA