Category Archives: Kajian Wanita

KESETARAAN GENDER DAN DESAKRALISASI AGAMA

KESETARAAN GENDER DAN DESAKRALISASI AGAMA

Dr. Saiful Bahri, M.A.([1])

Pendahuluan

Tak sedikit orang mengklaim dirinya sebagai pembela kaum perempuan, atau sebagai pejuang penyetaraan gender. Sebagian lain meyakini bahwa pembelaan terhadap kaum perempuan merupakan hal yang baru yang belum pernah dilakukan oleh siapapun. Praduga dan perasaan seperti inilah yang kemudian menggerakkan sekelompok orang untuk –dengan berani- mengritisi nash-nash Al-Quran dan hadis, karena keduanya dianggap belum memberikan porsi yang cukup dalam memberikan pembelaan terhadap kaum perempuan. Di antara ayat-ayat yang dianggap dan diklaim misoginis itu adalah:

 Artinya, ”dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan…” (QS. Ali Imran [3]: 36) Continue reading

Pelajaran Dari Ketegaran Seorang Wanita (Tafsir QS Al Mujadilah: ayat 1)

          Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (Al-Mujadilah: 1)

Ayat diatas yang mengawali surah Al-Mujadilah yang berarti wanita yang mengajukan gugatan dapat dibaca dari dua sudut pandang; sisi keperihan hati seorang isteri atau sisi ketegaran serta keberaniannya menghadapi perilaku suami. Surah ini termasuk surah yang unik dilihat dari segi pemaparan hukum zihar yang diawali dengan pengungkapan sebab turun dan peristiwa yang melatarbelakangi berlakunya hukum hakam seputar zihar. Continue reading

Peran Publik Dan Sosial Perempuan Bagi Kaumnya

Selain peran domestik sebagai ibu dan istri , seorang perempuan mempunyai tugas yang tidak kalah pentingnya yaitu peran publik , dimana kiprah dan sepak terjang kewanitaannya selalu ditunggu oleh masyarakat yang selalu butuh sosok perempuan.

Namun perempuan tidak akan mampu berperan di sektor publik dan sosial dengan optimal manakala tidak mendapat dukungan, ikhlas dan sokongan dari suami khususnya dan kaum laki-laki pada umumnya ,  inilah prinsip “Tolong Menolong Dalam Islam “ sebagaimana firman Allah di Al Qur’an Surat At-Taubah: 71

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka meryuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zatat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”.

Ada yang Khas dari sosok perempuan yang membedakan peran publik perempuan dan laki-laki dan tidak tergantikan , di antaranya :

  1. Perempuan adalah managerial yang handal dan penuh perhatian (care); kebanyakan posisi sekretaris lebih banyak diisi oleh perempuan.
  2. Perasaan yang lebih peka terhadap suatu hal sehingga dalam memandang persoalan bisa melihat jauh ke dalam akar masalah yang sebenarnya; perasaan yang lebih mendominasinya.
  3. Multitasking kemampuan perempuan untuk menjangkau banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

Dari beberapa hal di atas bisa diambil sedikit kesimpulan bahwa sayang sekali kalau peran publik perempuan tidak di optimalkan untuk kemajuan bangsa pada umumnya dan khususnya bagi peningkatan mutu kaumnya .

Walaupun dari sebagian kelebihan kewanitaannya itu seringkali disalahgunakan. Seperti kata ibu Nila Moeloek, presiden MDG’s Indonesia, dalam kesempatan audiensi PP Salimah dengan beliau di kantornya,“Sangat sedikit peran-peran perempuan yang ter-blow up media dari sekian banyaknya kiprah yang sebenarnya sudah dilakukan dengan nyata, kadang terkubur dengan kasus-kasus dengan perempuan sebagai aktor intelaktualnya. “

Masalah yang sekarang banyak dihadapi kaum perempuan adalah:

1. Tingkat pendidikan yg rendah.
Berdasarkan apa yang tertulis dalam Surat Presiden tertanggal 2 Oktober 2010 di Indonesia, perempuan sudah menikmati akses dan kualitas pendidikan yang lebih baik. Perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki yang masuk sekolah dasar dan menengah adalah 93,3 persen pada tahun 1991 dan naik menjadi 97,9 persen pada kurun 2006-2007. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan berumur 7 sampai 12 tahun dalam pendidikan mencapai 97,7 persen pada tahun 2006. Namun, tingkat buta aksara di kalangan perempuan berumur di atas 15 tahun mencapai 11,61 persen dibandingkan hanya 5,44 persen di kalangan laki-laki. Angka-angka tersebut menunjukkan pada kita bahwa pendidikan perempuan di Indonesia masih memiliki masalah. Secara persentase, tingkat jumlah perempuan yang masuk sekolah tampak tinggi. Namun, sedikitnya kenaikan persentase melek aksara menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang menyelesaikan sekolah belum cukup tinggi.

2. Tingkat kemiskinan yang tinggi
Semua itu berdampak pada buruknya tingkat kematian ibu dan bayi pada saat melahirkan, sedikitnya perempuan yang mampu berkiprah untuk keluarganya, Masalah trafficking, KDRT dan lain sebagainya.

Di luar daripada berbagai profesi yang sudah diperankan perempuan sesuai bidang akademiknya seperti dokter, polisi wanita, dll ada pula peran sosial yang harus dimainkan dalam panggung kehidupannya yaitu :

1. Menjadi motivator untuk kaumnya sendiri;
Permasalahan parenting yang kompleks dengan masalah lingkungan sosial sekitar saat ini ex: pornografi, narkoba, rokok; harus disikapi dengan kemampuan sosok motivator perempuan untuk menerangkan serta menggugah kaumnya dalam memerangi permasalahan lingkungan sosial tersebut.
Dengan bertambahnya pengetahuan perempuan terhadap masalah sekitar dan motivasi yang di dapat maka bisa dibayangkan gelombang perubahan perbaikan bangsa yang dapat diciptakan oleh motivator perempuan.

2. Menjadi enterpreuneur yang melibatkan ibu rumah tangga dalam rangka menambah penghasilan rumah tangga. Selain itu juga untuk mengarahkan kebanyakan ibu rumah tangga yang banyak meluangkan waktunya untuk hal2 yang kurang berguna. Begitu banyak hasil2 kerajinan rumahan yang bisa diolah menjadi kekuatan ekonomi kemasyarakatan saat ini. Ex kekuatan bank gremen yang kebanyakan dimotori oleh perempuan.

3. Menjadi bagian dari penentu kebijakan. Masuk ke dalam lingkaran kekuasaan agar dapat menjadi sebagian dari pembuat kebijakan yang bisa lebih banyak berperan untuk masalah perempuan dan anak-anak.

Di sini bukan berarti kaum laki-laki tidak lebih tahu dari perempuan dan malah kadang-kadang mereka yang bisa lebih mendukung UU untuk kemajuan anak-anak dan perempuan. Akan tetapi urusan perempuan dan anak-anak  lebih didengar ketika disuarakan oleh perempuan itu sendiri.

Di tulis oleh : Fianti Widuri, ST,
Ketua Kelompok Kajian Salimah (KKS)

Wanita Berkalung Peradaban

Peradaban adalah kekuatan manusia untuk mendirikan hubungan yang seimbang dengan Tuhannya, sesama mahluk hidup dan lingkungannya. Keseimbangan menjadikan  manusia  produktif dan bahagia.

Krisis multidimensial yang sekarang melanda dunia serta otomatis meng-imbas negeri ini adalah krisis persepsi yang semakin tajam. Telah terjadi jurang yang tajam antara keadaan yang sebenarnya dengan solusi yang sangat jauh dari masalah sebenarnya bahkan mungkin tak sampai  menyentuh masalah yang ada. Apalagi ditinjau dari akar masalahnya juga, bagaimana kita telah jauh dari pemahaman akan sejarah yang telah ada. Dan akhirnya terulanglah sejarah kegelapan pada umat manusia sekarang ini. Continue reading

Karena Wanita Begitu Berharga

“Sesungguhnya orang yang hidup untuk dirinya sendiri, ia akan hidup kecil dan mati sebagai orang kecil. Sedangkan orang yang hidup untuk umatnya, ia akan hidup mulia dan besar, serta tidak akan pernah mati”. (Sayyid Qutbh).

Keberadaan makhluk diciptakan Allah adalah untuk membangun peradaban yang baik di dunia ini dan sekaligus untuk beribadah kepadaNya. Selama semua makhluk itu selalu berpijak pada pedoman hidup yang telah dikirimkan kepada utusanNya yang mulia maka semua proses akan berjalan dengan maksimal. Dan pencapaian itu tentu dengan kapasitas yang sudah ditunjuk pada masing-masing individu tentunya. Tidak ada saling lebih di antara yang lainnya kecuali tingkat ketaqwaannya. Continue reading

gANDER

Forum Kajian Isu Perempuan, Anak dan Keluarga

Berkumpul dalam sebuah forum membicarakan isu-isu kekinian, memberi solusi dan membuat aksi sangat di minati oleh masyarakat masa kini.  Maka diluncurkanlah oleh Ormas Salimah “Kelompok Kajian Salimah (KKS)” sebagai sebuah wadah untuk mengkaji isu-isu yang terkait perempuan, keluarga dan anak Indonesia pada Kamis, 8 Februari 2012 di Aula DPR Kalibata, Jakarta.

ketua KKS, Hj.Fiatri Widuri, ST

Program kerja Kelompok kajian Salimah secara rutin akan menyelenggarakan Kajian tematik reguler dan menghasilkan tulisan-tulisan yang bersifat responsif maupun reguler, dimana hasil kajian diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi permasalahan perempuan, keluarga dan anak Indonesia”, ujar ketua KKS, Hj.Fiatri Widuri, ST .

Sebagai acara perdana di selenggarakan diskusi kajian tematik “Telaah kritis atas konsep kesetaraan gender” dengan nara sumber DR.Adian Husaini (INSISTS) , Rabu 8 Febr 2012 di Aula DPR Kalibata. Di hadiri oleh sejumlah tokoh perempuan diantaranya Dra.Wirianingsih MSc, mantan ketua umum Salimah 2005-2010, Dra.Zainab dari Dewan Pertimbangan Salimah Pusat, Dra. Amiroh Alhafidzoh ketua Lembaga Kajian ketahanan Keluarga Indonesia (LK3I), Pengurus ormas Salimah , ketua bidang perempuan PKS DKI Jakarta.

nara sumber DR.Adian Husaini (INSISTS)

Dalam kajiannya DR.Adian Husaini , dosen Pasca Sarjana Ibnu Khaldun dan peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization/ INSISTS) membuka wawasan hadirin tentang hakikat konsep Kesetaraan Gender yang kini marak di perjuangkan oleh para aktivis gender dan perspektif gender dalam Islam. Beliau menjelaskan tentang Paham ” gender equality” berasal dari budaya barat, janganlah dipaksakan penerapannya di timur. Karena masing-masing wilayah memiliki karakter dan kekhasan masing-masing,” ujar beliau.

Bagi masyarakat Barat, lanjut Adian, wanita dipandang sebagai makhluk individual, yang bebas dari keluarga. Inilah bedanya dengan Islam. Islam memandang, wanita adalah bagian dari keluarga. Karena itu, dalam pernikahan Islam, misalnya, ada konsep wali bagi wanita. Keluarga melepas tanggung jawabnya terhadap wanita, dan tanggung jawab itu kemudian beralih kepada suami. Konsep Islam seperti itu tidak dikenal di Barat. Wanita di Barat adalah makhluk bebas. Mereka boleh melakukan apa saja, dan terlepas dari keluarga.

Ia menjelaskan, sesuai dengan tuntutan pelaksanaan konsep Human Development Index (HDI), perempuan dituntut untuk berperan aktif dalam pembangunan, dengan cara terjun ke berbagai sektor publik. Seorang wanita yang dengan tekun dan serius menjalankan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga, mendidik anak-anak dengan baik, tidak dimasukkan ke dalam kategori “berpartisipasi dalam pembangunan”. Padahal, pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang sangat mulia. “Tentu, konsep ini sangatlah aneh, khususnya dipandang dari cara pandang Islam, agama terbesar yang dianut masyarakat kita,” tambahnya

Kesimpulan hasil diskusi adalah telah terjadi kerancuan pemahaman gender di masyarakat muslim dimana hal tersebut menjadi bagian dari upaya sistematis faham liberalisme untuk menghancurkan institusi keluarga muslim.

Dra. Wirianingsih MSc bersama ketua umum Salimah Nurul Hidayati,S.S, MBA

Nara sumber kedua, Dra.Wirianingsih MSc, berbagi pengalaman yang inspiratif, saat beliau bersama lembaga Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan ormas Salimah mengawal proses perjalanan hingga di tetapkannya UU Pornografi.

Selamat untuk “Kelompok Kajian Salimah (KKS)” , terus berkarya , kami tunggu hasil kajian cemerlang yang mencerahkan muslimah.

Lagi, Buruh Migran

Beberapa waktu lalu di daerah tangerang, sempat ditemukan para calon buruh migran dalam keadaan yang menyedihkan. Di rumah yang disebut mereka sebagai rumah penampungan sementara itu, tidak terdapat fasilitas yang memadai. Petugas mendapati 70 calon TKI yang sedang berada di sejumlah ruangan. Wajah calon TKI tampak lebih muda dari usia mereka. Penampungan terlihat kotor dan kurang layak. Hawa juga terasa panas karena kurangnya ventilasi serta lokasi menjemur pakaian yang sempit. Para calon TKI tidur, makan dengan tidak selayaknya. Rata-rata mereka tergiur oleh janji para sponsornya. Bahkan ada yang sudah 1,5 tahun tinggal di sana tanpa kejelasan status. Di Malaysia, belum lama ada tki yg mati kelaparan, 2 tahun bekerja berat badan turun 20 kg dari 40kg. Dan baru-baru ini seorang TKI yang dipancung di Arab Saudi, Ruyati. Padahal kasusnya sudah dari tahun 2010 yang lalu. Dan konon keberangkatan ke Arab Saudi yang terakhir kali buat almarhumah ini adalah kepergian untuk yang ke 4 kalinya.
Continue reading

Baroness Uddin, Kiprah Peran Publik Muslimah

Madam Baroness Mundzilla Uddin, seorang muslimah keturunan Bangladesh yang menetap di Inggris  di nobatkan  menjadi 10 tokoh Muslim terkemuka di Inggris dan menjadi Member of House of Lord, Inggris. Beliau telah menjadi aktifis perempuan sejak berusia 16 tahun. Pada pertengahan April 2011,  Madam Baroness Uddin berkunjung ke Indonesia dan Salimah berkesempatan berdialog dengan beliau yang sangat faham dan menguasai permasalahan pemberdayaan perempuan.

Dalam dialog tersebut,  Uddin menceritakan tentang pengalamannya selama 34 tahun berjuang dalam kancah politik di Inggris. Perempuan muslim pertama yang menjadi anggota parlemen di Inggris ini konsisten memperjuangkan tiga hal, yaitu kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan. Continue reading