Home

Bertanyalah Kita Disini

Dengan bertanya, kita bisa sejenak menimbang. Tentang diri kita sendiri. Sejauh mana kita telah berbuat. Sebab suatu hari kita akah berhenti, di sana, di tempat segala perbuatan dihitung dan ditanyakan.

Maka di sini, selagi kita masih ada kehidupan, bertanyalah kita, tentang diri kita sendiri. Agar kemudian kita bisa mengerti, adakah kita punya amal unggulan atau tidak?

1. Apakah bekal utama kita untuk kehidupan setelah mati?

Kematian aatang tanpa dinyana. Tanpa mengetuk pintu, tiada sinyal maupun aba-aba. Secara normal, kita semua pasti akan mati. Siklus manusia, adalah dari lemah menjadi kuat, lalu lemah kembali dan akhirnya mati. Setelah kematian, masih ada kehidupan lain yang abadi. Allah swt berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar-Ruum: 54)

Kematian pasti datang menjemput siapa saja. Al Qur’an juga menggambarkan bahwa sekalipun manusia bersembunyi dalam benteng yang paling rapat, maut pasti datang menjemput. Kita hanya bisa pasrah. Hanya saja, Allah SWT biasanya telah memberi isyarat umum, sebelum kematian itu datang. Sama saja dengan suasana langit yang mendung sebelum hujan, atau perasaan mengantuk sebelum tidur. Begitu juga, sebelum mati, Allah memberi sinyal yaitu dengan melemahnya tubuh bahkan sakit sebagai lambang kemunduran fisik, serta rambut yang mulai beruban.

Sayangnya, sinyal-sinyal seperti itu masih kurang diperhatikan oleh banyak di antara kita. Kita terjerat dengan angan-angan, lamunan, tumpukan keinginan, mimpi, yang seluruhnya bermotif dunia. Sementara kematian yang sudah pasti itu kita lalaikan. Lalu, ketika kematian betul-betul datang, kita kaget karena belum memiliki kesiapan. Hasan Al Basri, meriwayatkan suatu hadits dari Rasulullah: “Sukakah kamu masuk surga?” Para sahabat menjawab, tentu, ya Rasulullah! Rasulullah bersabda, “Pendekkan angan-anganmu, gambarkan ajalmu di depan mata, dan jagalah balk-balk sikapmu di hadapan Allah.”

Mengingat mati tentu banyak manfaatnya. Seseorang yang merasa ajalnya sudah dekat akan bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan diri, balk dengan memperbanyak beribadah, serius dalam beramal shalih, berusaha untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia, serta membuang jauh-jauh perasaan malas untuk beramal. Intinya, ia harus mempunyai amal-amal yang memadai untuk kehidupan setelah mati. Tidak rakus terhadap dunia, karena dunia baginya hanya jembatan yang mengantarkanya ke surga atau neraka.

Jauh bedanya dengan orang yang panjang angan-angan. la akan selalu menunda-nunda kebaikan, merasa bahwa masa hidupnya masih panjang, sementara berbagai kenikmatan dunia belum sempat dirasakan. Mereka ingin terus mengejar, sampai akhirnya kaget ketika malaikat maut datang untuk mengakhiri hidupnya. Imam Al Ghazali menuliskan pesannya dalam, “Hendaknya engkau senantiasa merenungkan umur yang pendek di dunia, jika dibandingkan dengan tempat tinggal di negeri akhirat yang kekal sepanjang masa, meskipun engkau merasa bisa hidup selama seratus tahun.

Renungkan bagaimana susah payahnya kita dalam mengejar dunia, sebulan atau setahun, dengan harapan kita akan hidup selama dua puluh tahun, misalnya. Tapi mengapa kita enggan bersusah payah sedikit ketika hidup di dunia, agar kita merasakan peristirahatan yang kekal di akhirat kelak? Di sela-sela kesibukan kita mengurus dunia, jangan lupa mengurus kehidupan akhirat. Jika kita rela mengurus dunia dengan susah payah hanya sekadar untuk waktu yang sangat singkat, kenapa kita tidak bersungguh¬sungguh menyiapkan bekal amal-amal besar untuk kehidupan yang kekal?

2. Apakah hari-hari kita sudah lebih baik dari hari-hari kemarin?

Pilihlah waktu terbaik bagi kita untuk bertanya kepada diri sendiri, adakah peningkatan kualitas ibadah kita pada saat ini dibanding sebelumnya? Atau adakah kita dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun “jalan di tempat” alias tetap begitu-begitu saja?

Pertanyaan seperti itu tentu saja penting dan hanya bisa dijawab bila kita mempunyai target-target tertulis untuk dievaluasi. Apa yang sudah meningkat dari diri kita? Tentu memprihatinkan, bila usia terus bertambah tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pengabdian kita terhadap Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan, “Barangsiapa hari ini lebih buruk dibanding kemarin, maka ia celaka. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, maka dia merugi. Sedangkan barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung.”

Tentu saja kita menginginkan agar kualitas ibadah kita lebih balk dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga mudah-mudahan, sebagaimana dikemukakan oleh Rasulullah SAW, kita termasuk mereka yang beruntung. Jangan sampai terjadi, kualitas ibadah kita justru tetap “jalan di tempat”, apalagi sampai menurun yang berarti celaka. Untuk meraih keberuntungan itulah, betapa pun diperlukan ilmu.

3. Apakah kita sudah bergeser dari cita-cita hidup yang sudah kita tanamkan sebelumnya?

Hidup kita sudah tentu menyimpan banyak ujian. Ada banyak halangan dan rintangan yang, jika kita tidak waspada, kita akan terjatuh. Tapi bagaimanapun, semangat untuk memperbanyak kebaikan tak boleh berkurang. Apalagi berhenti. Kita pasti mempunyai rencana untuk mencapai sesuatu. Tapi setelah melewati rentang hidup tertentu, banyak di antara kita yang kehilangan fokus dalam mencapai target dan tujuan hidup semula. Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang membuat kita bisa kehilangan arah dari tujuan kita semula. Halangan dari lingkungan sekitar, orang-orang yang dekat dengan kita mengatakan kita tidak akan bisa dan yang paling umum hambatan terbesar adalah dari diri kita sendiri

Menjadi orang berhasil dan berprestasi itu sulit. Tapi sebenarnya, menjadi orang yang gagal, tidak mempunyai amalan unggulan, tanpa prestasi, itu lebih sulit lagi. Dan menetapkan tujuan kemudian selalu berpegang serta kembali pada tujuan hidup, adalah salah satu jalan awal agar hidup kita berprestasi dan mempunyai amal unggulan. Bayangkanlah bila hidup kita seperti seseorang yang pergi ke stasiun kereta dan ditanya oleh petugas kereta, “Saudara mau pergi kemana?” Kemudian kita menjawab, “Sebenarnya saya belum memikirkan akan pergi kemana, tapi saya akan naik kereta dan memikirkannya di perjalanan.” Hidup kita tidak bisa seperti itu. Jika hidup kita adalah kereta, maka kita harus mempunyai tujuan dahulu sebelum berangkat ke berbagai arah hidup yang ada di depan mata kita. Yang tidak kalah pentingnya, adalah segera kembali pada arah dan tujuan yang benar, jika ternyata kita keliru memilih tujuan.

Ibaratnya, segera berhenti dan turun dari kereta, jika kita mengetahui bahwa kereta itu tidak membawa kita pada tujuan yang kita inginkan. Kita harus segera turun, dan naik kereta yang menuju ke arah impian kita. Tidak perlu menunggu sampai berhenti di stasiun berikutnya. Seringkali dalam perjalanan ini kita lupa pada tujuan kita semula. Salah satu caranya adalah, kita perlu menuliskan tujuan itu. Jika kita ingin mempunyai kehidupan yang layak, apa definisi layak itu? Jadikan tujuan itu sangat-sangat spesifik. Misal, untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan hidup di akhirat, kita membuat target pada tahun depan sudah mampu menghafal sekian juz Al Qur’an. Atau, kita akan memilih saluran potensi kita di bidang tertentu, dalam target penguasaan tertentu, di tempat tertentu.

4. Apakah kita sudah menggunakan seluruh nikmat-Nya untuk keridhaan-Nya?

Seluruh potensi hidup yang kita punyai, adalah kenikmatan sekaligus ujian Kenikmatan yang harus disyukuri, dan ujian yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya. Untuk bisa lebih mensyukuri nikmat Allah, kita harus lebih banyak mengenal tentang potensi, kemampuan, kelebihan yang kita miliki.

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya,” begitu disebutkan dalam sebuah atsar. Artinya, semakin banyak kita mengetahui seluk beluk diri kita, keadaan itu akan semakin mendorong kita untuk bersyukur dan hati-hati menjalaninya. Lihatlah penggambaran yang difirmankan Allah swt tentang kehidupan dan potensi kehidupan kita yang akan musnah. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah permainan

dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegahan antara kamu dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak,

seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat

warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. ltulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Hadid: 20-21)

Mengarahkan semua nikmat untuk keridhaan Allah, harus menjadi acuan yang tak bisa dilalaikan. Karena siklus hidup yang begitu berliku, penuh misteri dan tidak stabil, maka kenikmatan pada saat ini, harus dimaksimalkan

untuk kondisi yang bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda, “Bergembiralah kamu dan berharaplah dengan yang menyenangkan

kamu. Demi Allah, aku tidak menghawatirkan kemiskinan yang akan menimpa kamu. Yang aku khawatirkan ialah bila dunia dilapangkan untukmu sebagaimana telah dilapangkan untuk kaum sebelum kamu, lalu kamu berlomba-lomba meraihnya sebagaimana dahulu mereka berlomba-lomba dan dunia pun membinasakan kamu, sebagaimana ia telah membinasakan mereka.” (HR Bukhar! Muslim dan Tirmidzi)

5. Apa yang kita tinggalkan di dunia setelah kematian?

Berpikirlah tentang apa peninggalan kita sesudah mati. Bukan peninggalan dalam bentuk materi, jaminan kesejahteraan, polls asuransi dan semacamnya. Tapi peninggalan dalam bentuk peran dan kontribusi yang bisa dikenang kebaikannya oleh orang banyak. Atau amal-amal shalih apa yang terekam dalam benak orang yang kita tinggalkan. Bagaimana kesan orang-orang yang masih hidup sepeninggal kita? Ada banyak orang yang telah mendahului kita, pergi dari dunia, dan meninggalkan catatan hidup bagi orang-orang yang masih hidup. Merekalah cermin kita untuk dijadikan pelajaran.

Apakah nikmat kehidupan telah ditunaikan hak-haknya? Atau justru membawa kehinaan seperti yang dikatakan Imam Ghazali, “Beruntunglah orang- orang yang dosa-dosanya berhenti bersamanya saat kehidupannya di dunia berakhir.”

lbnu Qudamah rahimahullah pernah mengatakan, ” Jangan menunda-nunda tanpa melakukan persiapan untuk kematian. Umur kita terlalu singkat. jadikanlah setiap tarikan nafas itu adalah udara terakhir yang kita hirup, setelah itu kematian menjemputmu. Kematian seseorang terjadi dalam keadaan ia biasa melakukan sesuatu dalam hidupnya. Dan ketika dibangkitkan di akhirat nanti, ia juga akan dibangkitkan dalam situasi akhir hidupnya juga.”

5. Sudahkah kita berpikir tentang surga?

Salah satu hal yang memotivasi kita untuk bekerja keras dan berjuang mencapai sesuatu adalah soal imbalan yang akan kita terima dari kerja keras dan perjuangan itu. Surga adalah tempat yang segala kebahagiaan yang tidak ada di dunia ini. Allah memang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga manusia merindukan surga dan berjuang keras untuk mencapainya.

Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang beriman. Di sinilah kita perlu berpikir tentang surga. Karena, dengan memikirkan janji Allah itu, jiwa kita bisa tetap tersulut semangat melakukan amal-amal yang besar. ltulah sebabnya, Allah banyak mengilustrasikan keindahan surga, di samping kengerian neraka, di dalam Al Qur’an.

Kita akan disusupi rasa gembira tatakala memikirkan betapa indahnya surga yang jauh lebih indah dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia. Allah telah menjelaskan bahwa surga menyimpan banyak keindahan dan karunia yang selama ini diinginkan manusia. Cakrawala pandang manusia di dunia terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi di surga. Sungguh, surga dipenuhi dengan karunia-karunia mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan ini saja akan membuat kita sangat berbahagia.

Bahkan sejak sekarang pun kita telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran dari Al Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.

Bagaimana mencapai seluruh kenikmatan itu? “Surga itu mahal” kata Rasulullah. Memperolehnya tentu harus dengan usaha keras dan amal-amal unggulan yang dipersembahkan lewat cucuran keringat, keseriusan, hingga persembahan nyawa.

Sumber : Majalah Tarbawi

Posted by Ade Perrmana

Copyright © 2009 - 2014 Salimah | Developed by Ibrahim Vatih