<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Salimah</title>
	<atom:link href="http://www.salimah.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.salimah.or.id</link>
	<description>Salimah Peduli Perempuan, Keluarga dan Anak Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 15 May 2013 03:51:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>Hidup Sehat Ala Rasulullah</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/hidup-sehat-ala-rasulullah/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/hidup-sehat-ala-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 May 2013 03:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Salimah News]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup Sehat]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup sehat ala rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[menfaat konsumsi madu dan kurma]]></category>
		<category><![CDATA[salimah peduli kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tips menjaga kesehatan dari Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5913</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan sejarah hidup baginda Rasulullah, disebutkan bahwa beliau hanya dua kali menderita sakit, yang pertama setelah menerima wahyu di Gua Hira. Penerimaan wahyu tersebut mendadak membuat Rasulullah demam karena mengalami ketakutan. Sedang sakit kedua yang dialami Rasulullah yaitu pada saat menjelang beliau meninggal. Fakta tersebut membuktikan bahwa Rasulullah memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Sementara [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.salimah.or.id/hidup-sehat-ala-rasulullah/hidup-sehat-ala-rasulullah/" rel="attachment wp-att-5914"><img class="size-medium wp-image-5914 alignleft" alt="hidup-sehat-ala-rasulullah" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/hidup-sehat-ala-rasulullah-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a>Berdasarkan sejarah hidup baginda Rasulullah, disebutkan bahwa beliau hanya dua kali menderita sakit, yang pertama setelah menerima wahyu di Gua Hira. Penerimaan wahyu tersebut mendadak membuat Rasulullah demam karena mengalami ketakutan. Sedang sakit kedua yang dialami Rasulullah yaitu pada saat menjelang beliau meninggal. Fakta tersebut membuktikan bahwa Rasulullah memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Sementara kondisi alam di Jazirah Arab ketika itu sangat keras, tandus, panas di siang hari dan dingin di malam hari.<span id="more-5913"></span></p>
<div style="text-align: justify;">Sebagian dari kita pasti sudah sering mendengar istilah pola hidup sehat. Dalam ajaran Islam pola hidup sehat juga sudah dikenalkan oleh Rasulullah Muhamad Saw. Ajaran pola hidup yang sehat mencerminkan pribadi yang kuat. Masalah kesehatan juga tertera dalam kitab suci Al-Qur’an yaitu <em>”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman”</em> (QS:Yunus: 57).</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Ada dua pola hidup sehat yang menonjol dan relevan dengan disiplin ilmu kesehatan masyarakat yakni kesehatan individu dan masalah pengaturan gizi kesehatan. Dan berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh Rasulullah:</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>1. Makan secukupnya</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Telah termaktub dalam surat cintaNya QS. Thaha ayat 81: Artinya:<em> “Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan Barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia.”</em></div>
<div style="text-align: justify;">Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa janganlah kita berlebihan dalam makan karena akan berdampak buruk bagi kesehatan kita. Berbagai penyakit dapat muncul kalau kita sembarangan dan tidak mengatur pola makan kita dengan baik.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Makan secukupnya sesuai dengan kadar kemampuan lambung kita untuk menampungnya dan memprosesnya menjadi energi, juga tak boleh makan terlampau sedikit karena kita akan cepat kehabisan energi dan akhirnya lemas saat beraktivitas. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasul menyatakan bahwa hendaknya manusia hendaknya menjaga keseimbangan tubuhnya, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.</div>
<div style="text-align: justify;">Sebagaimana Sabda Rasul: <em>“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)”.</em></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>2. Tidur yang cukup</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Setelah seharian beraktivitas, tubuh kita perlu beristirahat. Tidur yang cukup untuk ukuran orang dewasa adalah sekitar 6-8 jam. Tidur cukup sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh kita, apalagi untuk kita yang berstatus sebagai pekerja, tidur cukup dapat meningkatkan daya konsentrasi saat bekerja. Kalau tubuh kita kekurangan tidur, maka kita akan sulit untuk berkonsentrasi, tubuh kita terasa lemas, dan sulit untuk berpikir jernih.  Rasulullah membiasakan dirinya tidur segera selesai menunaikan shalat Isya dan bangun lebih cepat di sepertiga malam terakhir (dini hari) untuk melaksanakan shalat malam hingga menjelang masuk azan Subuh.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>3. Berolahraga</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Dengan berolahraga, maka peredaran kita akan menjadi lancar, pembakaran kalori menjadi energi bisa menjadi optimal. Banyak berolahraga dapat menjauhkan kita dari berbagai macam penyakit, karena itu kita tak boleh malas dalam berolahraga. Minimal satu kali satu minggu, untuk menyeimbangkan gerak otot dan memperlancar asupan oksigen ke dalam otak sehingga meningkatkan daya konsentrasi. Rasulullah biasa berjalan kaki ke bukik-bukit dan terus berlatih meningkatkan keterampilan berkuda dan memanahnya. Dan Rasulullah menyuruh umatnya membiasakan berolahraga semenjak kanak-kanak sebagaimana sabdanya ,</div>
<div style="text-align: justify;"><em id="__mceDel"><em>“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah” </em>(Riwayat Sahih Bukhari/Muslim)  </em></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>4. Bangun pagi atau subuh</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Ketika fajar menjelang, atau ketika subuh. Udara masih bersih dari polusi, sehingga sangat bagus untuk kesehatan paru-paru. Bangunlah lebih pagi untuk mendapatkan asupan udara bersih bagi paru-paru kita. Dengan bangun lebih pagi, kita juga bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan secara lebih cermat dan tak terburu-buru. Agar bisa bangun lebih pagi, maka kita pun harus bisa tidur lebih awal.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>5. Puasa Senin-Kamis</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Selain berpahala, dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis memberikan waktu bagi lambung kita untuk beristirahat. Bayangkan, setiap hari lambung kita disuruh bekerja keras untuk mencerna makanan setiap pagi, siang dan malam. Saat berpuasa, lambung kita akan beristirahat dan memproses makanan yang belum tercerna sebelumnya, juga dapat menyaring racun yang mungkin tersimpan dalam tubuh kita karena proses pencernaan makanan yang kurang sempurna.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>6. Menjaga Kebersihan</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya dalam gaya hidup sehat adalah menjaga kebersihan. Tempat yang kotor rentan menyebabkan penyakit, maka dari itu Islam sangat menganjurkan untuk menjaga kebersihan diri, tempat tinggal, dan juga pakaian. Berwudhu minimal 5x sehari, bershiwak sebelum shalat 5 waktu , serta mandi hadats besar / junub akan menjadikan umat Islam selalu menjaga kebersihan dirinya.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Bahkan Rasulullah sendiri juga mengatakan bahwa kebersihan itu merupakan sebagian daripada iman. Maka, dengan menjaga kebersihan juga akan berdampak positif bagi kesehatan kita.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align: justify;"><strong>7. Mengkonsumsi kurma dan madu</strong></div>
<div style="text-align: justify;">Pada aspek pengendalian gizi, Rasulullah selalu menjaga makanan yang dikonsumsinya. Dalam hidupnya Rasulullah kerap mengonsumsi kurma baik kurma kering maupun kurma basah. Anjuran mengonsumsi kurma beberapa kali disebutkan dalam Al-Quran, seperti pada Surat Ar-Ra’du: 4, <em>“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman di atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”</em></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Semasa hidup Rasulullah senantiasa peduli pada kesehatan, baik kesehatan pribadinya maupun kesehatan umatnya. Ajarannya beliau pada aspek kesehatan lebih banyak menitik beratkan pada pola pencegahan daripada pengobatan. Gaya hidup sehat Rasulullah lebih mengacu pada pengendalian gizi makanan. Makanan Rasulullah terseleksi secara disiplin dan ketat, baik dari tingkat kehalalannya maupun kebaikannya. Ukuran kehalalan dinilai dari cara mendapatkanya secara halal (legal) dan berkaitan dengan urusan akhirat. Sedangkan kebaikan (thayyib) berkaitan dengan kandungan gizi pada makanan untuk dikonsumsi. Makanan yang kerap dikonsumsi Rasul selain kurma adalah madu untuk membersihkan pencernaan. Sebagaimana hadits beliau, <em>“Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yakni madu dan Al Quran” (HR Ibnu Majah dan Hakim). </em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/hidup-sehat-ala-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Orangtua Shalih</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/pelatihan-orangtua-shalih/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/pelatihan-orangtua-shalih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 May 2013 08:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salimah News]]></category>
		<category><![CDATA[Diah Sulistyorini ketua PW Salimah DIY]]></category>
		<category><![CDATA[Ihsan Baihaqi]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian parenting]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan Orangtua Shalih]]></category>
		<category><![CDATA[PW Salimah DIY]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5906</guid>
		<description><![CDATA[PW Persaudaraan Muslimah (Salimah) DIY kembali mengadakan pelatihan orangtua shalih kerjasama dengan Auladi Parenting School Bandung. Acara dengan tema &#8220;Membangun Komunikasi Anak Remaja&#8221; digelar di auditorium FE UNY pada hari sabtu, 4 Mei 2013. Ketua PW Salimah DIY Dra. Diah Sulistyorini ,MSc dalam sambutannya mengatakan bahwa agenda ini merupakan wujud perhatian salimah DIY terhadap pengokohan keluarga. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.salimah.or.id/pelatihan-orangtua-shalih/salimah-diy/" rel="attachment wp-att-5907"><img class=" wp-image-5907 alignleft" alt="SALIMAH-DIY" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/SALIMAH-DIY-300x225.jpg" width="210" height="158" /></a>PW Persaudaraan Muslimah (Salimah) DIY kembali mengadakan pelatihan orangtua shalih kerjasama dengan Auladi Parenting School Bandung. Acara dengan tema &#8220;Membangun Komunikasi Anak Remaja&#8221; digelar di auditorium FE UNY pada hari sabtu, 4 Mei 2013.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketua PW Salimah DIY Dra. Diah Sulistyorini ,MSc dalam sambutannya mengatakan bahwa agenda ini merupakan wujud perhatian salimah DIY terhadap pengokohan keluarga. Komunikasi yang baik dengan anak diyakini akan mampu menghasilkan anak yang sukses dunia akhirat dimasa depannya dan dapat tercipta keluarga yang kokoh.<span id="more-5906"></span><!--more--></p>
<p style="text-align: justify;">Ihsan Baihaqi, trainer Auladi memberikan kiat-kiat secara praktis dan aplikatif pada 168 peserta. <!--more--> “Remaja juga butuh waktu kita, orangtuanya. Menyaksikan pentas mereka, menemani mereka nonton di stadion, camping bareng, mancing bareng, dinner/lunch bareng, curhat di kasur sebelum/sesudah tidur, cooking time untuk melatih keterampilan rumah tangga mereka, dan lainnya adalah berharga yg akan jd kenangan indah mereka ketika kita meninggalkan dunia. Remaja yg dekat emosi dengan orangtuanya, akan malu dan kecewa  jika mereka berperilaku buruk karena mereka membuat kecewa orangtuanya“ ,  ujar Ihsan Baihaqi .</p>
<p style="text-align: justify;">Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini secara aktif. Menurut abah Ihsan, panggilan akrab Ihsan Baihaqi banyak orangtua saat ini merasa sudah lepas tanggungjawab ketika sudah memberikan berbagai fasilitas pada anak. Padahal sesungguhnya anak lebih membutuhkan perhatian yang yang tulus dari orangtua untuk proses pendewasaan dirinya kata Abah Ihsan.</p>
<p style="text-align: justify;"> Astri, salah satu peserta mengatakan kepuasannya mengikuti acara ini. &#8220;Luar biasa acara ini sangat menginspirasi dan mampu mengubah pola pemikiran saya dalam mendidik anak,&#8221; katanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/pelatihan-orangtua-shalih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kunjungan ke PW Salimah Kalimantan Barat</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/kunjungan-ke-pw-salimah-kalimantan-barat/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/kunjungan-ke-pw-salimah-kalimantan-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 May 2013 00:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salimah News]]></category>
		<category><![CDATA[Kunjungan ke PW Salimah Kalimantan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Mas-adah AMd Ak]]></category>
		<category><![CDATA[PC Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[PC Salimah Pontianak Utara]]></category>
		<category><![CDATA[PW Salimah Kalimantan Barat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5892</guid>
		<description><![CDATA[Ketua umum PP Salimah ibu Nurul Hidayati melaksanakan kunjungan kerja ke PW Salimah Kalimantan Barat (23/3/2013) untuk melakukan konsolidasi penguatan struktur PW dan PD Salimah seluruh Kalbar. Pada kesempatan tersebut beliau memberikan taujih bertema &#8220;Amal Khadami Muslimah&#8221; yang menambah semangat baru  pengurus Salimah Kalimantan Barat untuk meningkatkan amal pengabdian muslimah bersama masyarakat. Ibu Nurul bersama [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.salimah.or.id/kunjungan-ke-pw-salimah-kalimantan-barat/kalbar/" rel="attachment wp-att-5893"><img class="size-medium wp-image-5893 alignleft" alt="KALBAR" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/KALBAR-300x225.jpg" width="300" height="225" /></a>Ketua umum PP Salimah ibu Nurul Hidayati melaksanakan kunjungan kerja ke PW Salimah Kalimantan Barat (23/3/2013) untuk melakukan konsolidasi penguatan struktur PW dan PD Salimah seluruh Kalbar. Pada kesempatan tersebut beliau memberikan taujih bertema &#8220;Amal Khadami Muslimah&#8221; yang menambah semangat baru  pengurus Salimah Kalimantan Barat untuk meningkatkan amal pengabdian muslimah bersama masyarakat.<span id="more-5892"></span><!--more--></p>
<div id="attachment_5902" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://www.salimah.or.id/kunjungan-ke-pw-salimah-kalimantan-barat/masadah/" rel="attachment wp-att-5902"><img class="size-full wp-image-5902 " alt="Mas'adah Rahardjo, Ketua PW Salimah KalBar" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/masadah.jpg" width="300" height="227" /></a>
<p class="wp-caption-text">Mas&#8217;adah Rahardjo, Ketua PW Salimah KalBar</p>
</div>
<p style="text-align: justify;">Ibu Nurul bersama ketua PW Salimah Kalbar Mas’adah, A.Md.Ak dan jajaran pengurus berkesempatan mengunjungi Sister Lansia PC Pontianak dan kunjungan ke KRPL Mandiri yang dikelola oleh pengurus PC Salimah Pontianak Utara. Beliau sangat terkesan dengan kunjungan yang penuh nuansa ukhuwah dimana seluruh pengurus PW Salimah Kalbar mengadakan kegiatan dengan semangat tinggi dan suasana yang menyenangkan.  Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/kunjungan-ke-pw-salimah-kalimantan-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Khusyu’</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/shalat-khusyu/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/shalat-khusyu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 15:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat Khusyu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5896</guid>
		<description><![CDATA[Jika semua ibadah disampaikan pewajibannya kepada Nabi melalui malaikat Jibril. Tidak demikian halnya dengan shalat, ibadah ini disampaikan secara langsung oleh Allah melalui peristiwa besar yang dialami seorang hamba, Isra’ dan Mi’raj. Shalat adalah ibadah paling utama dalam Islam. Bahkan ia adalah amal pertama yang akan ditanyakan Allah ketika seseorang masuk ke dalam kuburnya. Begitu [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.salimah.or.id/shalat-khusyu/khusuk_by_anartlover/" rel="attachment wp-att-5897"><img class="size-medium wp-image-5897 alignleft" alt="Khusuk_by_anartlover" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/Khusuk_by_anartlover-300x177.jpg" width="300" height="177" /></a>Jika semua ibadah disampaikan pewajibannya kepada Nabi melalui malaikat Jibril. Tidak demikian halnya dengan shalat, ibadah ini disampaikan secara langsung oleh Allah melalui peristiwa besar yang dialami seorang hamba, Isra’ dan Mi’raj. Shalat adalah ibadah paling utama dalam Islam. Bahkan ia adalah amal pertama yang akan ditanyakan Allah ketika seseorang masuk ke dalam kuburnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu penting shalat di antara amal ibadah ini maka seorang muslim diwajibkan mengerjakannya lima kali sehari semalam, di tambah lagi dengan shalat-shalat sunnah. Jika pada ibadah lain kewajibannya disyaratkan adanya <em>istitha’ah</em> (kemampuan) seperti haji dan zakat. Pada ibadah puasa, kalau seseorang tidak mampu melaksanakannya karena sakit atau uzur lainnya, ia boleh mengganti puasa di hari lain atau bahkan boleh menggantinya dengan fidyah jika benar-benar tidak mampu melakukannya, seperti jika seseorang sakit parah atau berusia lanjut. Maka dalam shalat uzur yang membuat uzur fisik yang menjadikan seseorang boleh meninggalkannya sampai ia bertemu dengan Allah.<span id="more-5896"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Urgensi Khusyu’ dalam Shalat</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li><strong>Khusyu’ dalam shalat adalah cermin kekhusyu’an seseorang di luar shalat.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Khusyu’ dalam shalat adalah sebuah ketundukan hati dalam dzikir dan konsentrasi hati untuk taat, maka ia menentukan nata’ij (hasil-hasil) di luar shalat. Olerh karena itulah Allah memberi jaminan kebahagiaan bagi mu’min yang khusyu’ dalam shalatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ</p>
<p style="text-align: justify;">“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam shalatnya selalu khusyu’” (Al-Mu’minun:1-3).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga iqamatush-shalah yang sebenarnya akan menjadi kendali diri sehingga jauh dari tindakan keji dan munkar. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan tegakkanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah tindakan keji dan munkar” (Al-Ankabut:45).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, orang yang melaksanakan shalat sekedar untuk menanggalkan kewajiban dari dirinya dan tidak memperhatikan kualitas shalatnya, apalagi waktunya, maka Allah dan Rasul-Nya mengecam pelaksanaan shalat yang semacam itu. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka celakalah orang-orang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya” (Al-Maun: 4-5)</p>
<p style="text-align: justify;">Shalat yang tidak khusyu’ merupakan ciri shalatnya orang-orang munafik. Seperti yang Allah firmankan,</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Sessungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah (balas) menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri malas-malasan, mereka memamerkan ibadahnya kepada banyak orang dan tidak mengingat Allah kecuali sangat sedikit” (An-Nisa’:142).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Itulah shalat orang munafiq, ia duduk-duduk menunggu matahari sampai ketika berada di antara dua tanduk syetan, ia berdiri kemudian mematok empat kali, ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (Diriwayatkan Al-Jama’ah kecuali Imam Bukhari).<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Hilangnya kekhusyu’an adalah bencana bagi seorang mukmin.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hilangnya kekhusyu’an dalam shalat adalah musibah (bencana) besar bagi seorang mukmin. Ini bisa memberi pengaruh buruk terhadap pelaksanaan agamanya, karena shalat adalah tiang penyangga tegaknya agama. Maka Rasulullah saw. berlindung kepada Allah, “Ya, Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak puas, mata yang tidak menangis, dan do’a yang tidak diijabahi”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Khusyu’ adalah puncak mujahadah seorang mukmin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Khusyu’ adalah puncak mujahadah dalam beribadah, hanya dimiliki oleh mukmin yang selalu bersungguh-sungguh dalam muraqabatullah. Khusyu’ bersumber dari dalam hati yang memiliki iman kuat dan sehat. Maka khusyu’ tidak dapat dibuat-buat atau direkayasa oleh orang yang imannya lemah. Pernah ada seorang laki-laki berpura-pura shalat dengan khusyu’ di hadapan umar bin Khatthab ra. dan ia menegurnya, “Hai pemilik leher. Angkatlah lehermu! Khusyu; itu tidak berada di leher namun berada di hati.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ayat-ayat tentang khusyu’ dalam shalat:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. </em><em>D</em><em>an </em><em>s</em><em>esungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”</em> (Al-Baqarah: 45-46).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.”</em> (Al-Mukminun: 1-2).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” </em>(Al-Baqarah: 238).</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mujahid berkata, “Di antara bentuk qunut adalah tunduk, khusyu’, menundukkan pandangan, dan merendah karena takut kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” </em>(Al-Insyirah: 7-8)</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Mujahid berkata, “Kalau kamu selesai dari urusan dunia segeralah malakukan shalat, jadikan niat dan keinginganmu hanya kepada Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hadits-hadits dan atsar anjuran tentang shalat khusyu’</strong></p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ أَنسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْْهِ وَسَلَّمَ ” َاْذُكُرِ الْمَوْتَ فِى صَلاَتِكَ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِى صَلاَتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلاَتَهُ وَصَلَّى صَلاَةَ رَجُلٍ لاَ يَظُنُّ أَنَّهُ يُصَلِّى صَلاَةً غَيْرَهَا وَإِيَّاكَ وَكُلُّ أَمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْهُ ” رواه الديلمي فى مسند الفردوس وحسنه الحافظ ابن حجر و تابعه الألباني</p>
<p style="text-align: justify;">Anas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah akan kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat kematian dalam shalatnya tentu lebih mungkin bisa memperbagus shalatnya dan shalatlah sebagaimana shalatnya seseorang yang mengira bahwa bisa shalat selain shalat itu. Hati-hatilah kamu dari apa yang membutmu meminta ampunan darinya.” (Diriwayatkan Ad-Dailami di Musnad Firdaus, Al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya hasan lalu diikuti Albani.</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِظْنِي وَأَوْجِزْ فَقَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا وَاجْمَعْ الْإِيَاسَ مِمَّا فِي يَدَيْ النَّاسِ رواه أحمد وحسنه الألباني</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Ayyub Al-Anshari ra berkata, seseorang datang kepada Nabi saw. lalu berkata, “Nasihati aku dengan singkat.” Beliau bersabda, “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatnya seperti shalat terakhir dan janganlah mengatakan sesuatu yang membuatmu minta dimaafkan karenanya dan berputus asalah terhadap apa yang ada di angan manusia.” (Diriwayatkan Ahmad dan dinilai hasan oleh Albani).</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنْ الْبُكَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رواه أبو داود و الترمذي</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Mutharif dari ayahnya berkata, “Aku melihat Rasulullah saw shalat dan di dadanya ada suara gemuruh bagai gemuruhnya penggilingan akibat tangisan.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ “مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْمُ فِى صَلاَتِهِ فَيَعْلَمُ مَا يَقُوْلُ إِلاَّ انْتَفَلَ وَهُوَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ رواه الحاكم وصححه الألباني</p>
<p style="text-align: justify;">Utbah bin Amir meriyatkan dari Nabi yang bersabda, “Tidaklah seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya lalua melaksakan shalat dan mengetahuai apa yang dibacanya (dalam shalat) kecuali ia terbebas (dari dosa) seperti di hari ia dilahirkan ibunya.” (Diriwayatkan Al-Hakim dan dinilai shahih oleh Albani).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Khusyu’nya para Salafus Shalih</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Abu Bakar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ahmad meriwatkan dari Mujahid bahwa Abdullah bin Zubair ketika shalat, seolah-olah ia sebatang kayu karena kyusyu’nya. Abu Bakar juga demikian.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Umar bin Khathab</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Juga diriwayatkan ketika Umar melewati satu ayat (dalam shalat). Ia seolah tercekik oleh ayat itu dan diam di rumah hingga beberapa hari. Orang-orang menjenguknya karenanya mengiranya sedang sakit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Utsman bin Affan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Sirin meriwayatkan, istri Utsman berkata bahwa ketika Utsman terbunuh, malam itu ia menghidupkan seluruh malamnya dengan Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ali bin Abi Thalib</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dan adalah Ali bin Abi Thalib, ketika waktu shalat tiba ia begitu terguncang dan wajahnya pucat. Ada yang bertanya, “Ada apa dengan dirimu wahai Amirul Mukminin?” ia menjawab, “Karena waktu amanah telah datang. Amanah yang disampaikan kepada langit, bumi, dan gunung, lalu mereka sanggup memikulnya dan aku sanggup.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Zainal Abidin bin Ali bin Husain</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Diriwayatkan pula ketika Zainal Abidin bin Ali bin Husain berwudhu, wajahnya berubah dan menjadi pucat. Dan ketika shalat, ia menjadi ketakutan. Ketika ditanya tentang hal itu ia menjawab, “Tahukan anda di hadapan siapa anda berdiri?”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hatim Al-Asham</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang melihat Hatim Al-Asham berdiri memberi nasihat kepada orang lain. Orang itu berkata, “Hatim, aku melihatmu memberi nasihat orang lain. Apakah kamu bisa shalat dengan baik?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana kamu shalat?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku berdiri karena perintah Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berjalan dengan tenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku masuk masjid dengan penuh wibawa.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertakbir dengan mangagungkan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membaca ayat dengan tartil.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku duduk tasyahud dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengucapkan salam karena sunnah dan memasrahkan shalatku kepada Rabbku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian aku memelihara shalat di hari-hari sepanjang hidupku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali sambil mencaci diriku sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku takut kiranya shalatku tidak diterima.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berharap kiranya shalatku diterima.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, aku berada di antara harap dan takut.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku berterima kasih kepada orang yang mengajarkanku dan mengajarkan kepada orang yang bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan aku memuji Tuhanku yang memberi hidayah kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad bin Yusuf berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">“Orang seperti kamu ini berhak untuk memberi nasihat.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kecaman Bagi yang Meninggalkan Kekhusyukan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sifat seorang mukmin adalah khusyu’ dalam shalat, sementara orang yang lalai dan tidak bisa khusyu’ dalam shalatnya seperti sifat orang-orang munafik.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, padahal Allah yang (membalas) menipu mereka. Apabila hendak shalat, mereka melaksanakannya dengan malas dan ingin dilihat manusia serta tidak berzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan Ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.”</em> (An-Nisa’ : 142-143).</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah sifat orang-orang munafik dalam amal yang sangat mulia, shalat. Ini disebabkan pada diri mereka tidak ada niat, rasa takut, dan keimanan kepada Allah. Sifat lahiriyah mereka adalah malas dan sifat batiniyah lebih buruk lagi, agar dilihat oleh orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti firman Allah yang lain,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” </em>(At-Taubah: 54).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kondisi apapun mereka tidak melakukan shalat selain bermalas-malasan. Karena tidak ada pahala yang mereka harapkan dan tidak ada yang mereka takutkan. Maka dengan shalat itu mereka hanya ingin menampakkan sebagai orang Islam dan demi kepentingan dunia semata.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah pernah mengingatkan orang yang nampak tidak khusyu’ dalam shalatnya bahkan menyusuh orang itu untuk mengulanginya. Abu Hurairah meriwatkan,</p>
<p style="text-align: justify;">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا</p>
<p style="text-align: justify;">Bahwa Nabi masuk masjid kemudian masuk pula seseorang ke dalam masjid lalu ia shalat dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi saw menjawab salamnya dan bersabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belu shalat.” Serta merta orang itu pun shalat lalu mengucapkan salam kepada Nabi saw dan beliau besabda, “Kembalilah dan shalatlah lagi, sebab kamu belu shalat,” tiga kali. Orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa lebih baik dari itu, maka ajarilah aku.” Beliau bersabda, “Apabila kamu hendak shalat beratkbirlah lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an (Al-Fatihah). Lalu ruku’lah sampai kamu benar-benar tenang dalam ruku’, kemudian angkatlah sampai tegak berdiri, lalu sujudlah sampai tenang dalam sujud, kemudian bangunlah sampai kamu tenang dalam duduk, kemudian sujudlah sampai kamu tenang dalam sujud. Lakukan hal itu dalam semua shalatmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Darda’ meriwatkan dari Nabi saw. yang bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (Thabrani dengan sanad baik dan dinilai shahih oleh Albani).</p>
<p style="text-align: justify;">Thalq bin Ali Al-Hanafi ra berkata, Rasulullah saw bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">لاَ يَنْظُرُ اللهُ صَلاَة َعَبْدٍ لاَ يُقيْمُ فِيْهَا صُْلْبَهُ بَيْنَ ركُوْعِهَا وَ  سُجُوْدِهَا</p>
<p style="text-align: justify;">“Allah tidak akan melihat shalat seseorang hamba yang tidak tegak tulang sulbinya antara tuku’ dan sujudnya.” (Diriwayatkan Thabrani dan dishahihkan Albani).</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ الأَشْعَرِي أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله ِعَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَأى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَينْقِرُ فِى سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : “لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ  هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ  مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ” مَثَلُ الَّذِي لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَ  يَنْقِرُ فِى سُجُوْدِهِ مَثلُ الْجَاِئع ، يَأكُلُ التَّمْرَ ةَ أَوِ التَّمْرَتَيْنِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Abdullah Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematok dalam sujudnya dalam shalatnya. Rasulullah saw bersabda, “Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti ini tentu ia mati di luar agama Muhammad saw.” Lalu beliau bersabda lagi, “Perumpamaan orang yang tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematok dalam sujudnya bagai orang lapar lalu ia makan satu atau dua biji kurma namun tidak merasa kenyang sedikit pun.” (Diriwayatkan Thabrani di Al-Kabir, Abu Ya’la, dan Khuzaimah. Albani menilainya hasan).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Atsar tentang ancaman bagi mereka yang mengabaikan khusyu’ dalam shalat.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Umar bin Khatthab</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khatthab ra pernah melihat seseorang yang mengangguk-anggukkan kepalanya dalam shalat lalu ia berkata, “Hai pemilik leher. Angkatlah lehermu! Khusyu; itu tidak berada di leher namun berada di hati.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibnu Abbas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu tidak mendapatkan apa-apa dari shalatmu selain apa yang kamu mengerti  darinya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dua rakaat sederhana yang penuh penghayatan lebih baik daripada qiyamul-lail namun hatinya lalai.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Salman</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Shalat adalah takaran. Barangsiapa memenuhi takaran itu akan dipenuhi (pahalanya) dan barangsiapa curang ia akan kehilangan (pahalanya). Kalian telah tahu apa yang Allah katakan tentang orang-orang yang curang terhadap takaran.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hudzaifah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">“Hati-hatilah kalian terhadap kekhusyu’an munafik.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kekhusyu’an munafik itu?” Ia menjawab, “Yaitu orang yang kamu lihat jasadnya khusyu’ namun hatinya tidak khusyu’.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Said bin Musayyib</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia melihat seseorang yang main-main dalam shalatnya lalu berkata, “Kalau hati orang ini khusyu’ tentu raganya juga khusyu’.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ibul Qayyim</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lima tingkatan manusia dalam shalat:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama</strong>: Tingkatan orang yang mendzalimi dan sia-sia. Orang yang selalu kurang dalam hal wudhu’nya, waktu-waktu shalatnya, batasan-batasannya, dan rukun-rukunnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua</strong>: Orang yang memelihara waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukun lahiriyahnya, dan wudhu’nya. Akan tetapi ia tidak bermujahadah terhadap bisikan-bisikan di saat shalat akhirnya ia larut dalam bisikan itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga</strong>: Orang yang memelihara waktu-waktunya, batasan-batasannya, rukun-rukun lahiriyahnya, dan wudhu’nya. Ia juga bermujahadah melawan bisikan-bisikan dalam shalatnya agar tidak kecolongan dengan shalatnya. Maka ia senantiasa dalam shalat dan dalam jihad.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat</strong>: Orang yang ketika melaksanakan shalat ia tunaikan hak-haknya, rukun-rukunnya, dan batasan-batasannya. Haitnya tenggelam dalam upaya memelihara batasan-batasannya dan rukun-rukunnya agar tidak ada yang menyia-nyiakannya sedikitpun. Seluruh perhatiannya terpusat kepada upaya memenuhi sebagaimana mestinya, secara sempurna dan utuh. Hatinya benar-benar larut dalam urusan shalat dan penyembahann kepada Tuhannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima</strong>: Orang yang menunaikan shalat seperti di atas (keempat) di samping itu ia telah meletakkan hatinya di haribaan Tuhannya. Dengan hatinya ia melihat Tuhannya, merasa diawasi-Nya, penuh dengan cinta dan mengagungkan-Nya. Seoalah-olah ia melihat da menyaksikan-Nya secara kasat mata. Seluruh bisikan itu menjadi kecil dan tidak berarti da ada hijad yang begitu tinggi antaranya dengan Tuhannya dalam shalatnya. Hijab yang lebih kuat daripada hijab antara langit dan bumi. Maka dalam shalatnya ia sibuk bersama Tuhannya yang telah menjadi penyejuk matanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkatan pertama <em>Mu’aqab</em> (disiksa karena kelalaiannya), yang kedua <em>Muhasab</em> (dihisab), yang ketiga <em>Mukaffar ‘Anhu</em> (dihaspus kesalahannya), yang ketiga <em>Mutsab</em> (mendapatkan pahala), dan yang kelima <em>Muqarrab min Rabbihi</em> (yang didekatkan kepada Tuhannya) karena ia mendapatkan bagian dalam hal dijadikannya shalat sebagai penyejuk mata. Barangsiapa yang dijadikan kesenangannya pada shalatnya di dunia ia akan didekatkan kepada Tuhannya di akhirat dan di dunia ia diberi kesenangan. Lalu barangsiapa yang kesenangannya ada pada Allah dijadikan semua orang senang kepadanya dan barangsiapa yang kesenangannya bukan pada Allah ia akan mendapatkan kegelisahan di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Contoh Kekhusyu’an Salafus Shalih</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mujahid berkata, “Jika Ibnu Zubair shalat, ia seperti kayu.” Tsabit Al-Banani juga berkata, “Aku pernah melihat Ibnu Zubair sedang shalat di belakang Maqam, ia seperti kayu yang disandarkan, tidak bergerak sama sekali.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ma’mar, muazzinnya Salman At-Tamimi berkata, “Salman shalat Isya’ di sampingku lalu aku mendengarnya membaca <em>Tabaraka al-ladzi bi yadihi al-Mulku</em>, ketika sampai pada ayat ini, <em>fa lamma raawhu zulfatan siiat wajuhul ladzina kafaru</em>… Ia mengulang-ulang ayat tersebut samapai orang-orang yang berada di masjid ketakutan dan mereka pun bubar. Aku juga keluar meninggalkannya.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kiat-kiat Khusyu’ dalam Shalat</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>A. Mempersiapkan kondisi batin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Menghadirkan hati dalam shalat sejak mulai hingga akhir shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Berusaha tafahhum (memahami) dan tadabbur (menghayati) ayat dan do’a yang dibacanya sehingga timbul respon positif secara langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung perintah: bertekad untuk melaksanakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung larangan: bertekad untuk menjauhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung ancaman: muncul rasa tajut dan berlindung kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung kabar gembira: muncul harapan dan memohon kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung pertanyaan: memberi jawaban yang tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang mengandung nasihat: mengambil pelajaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang menjelaskan nikmat: bersyukur dan bertahmid</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat yang menjelaskan peristiwa bersejarah: mengambil ibrah dan pelajarannya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Selalu mengingat Allah dan betapa sedikitnya kadar syukur kita.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Merasakan <em>haibah</em> (keagungan) Allah ketika berada di hadapan-Nya, terutama saat sujud. Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Huirairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sedekat-dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia bersujud, maka perbanyaklah doa.” (Riwayat Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">5. Menggabungkan rasa raja’ (harap) dan khauf (takut) dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Merasakan haya’ (malu) kepada Allah dengan sebenar-benar haya’.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ</p>
<p style="text-align: justify;">“Rasa malu tidak akan mendatangkan selain kebaikan” (Muttafaq ‘alaih).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan para ulama berkata, “Hakikat haya’ adalah satu akhlak yang bangkit untuk meninggalkan tindakan yang buruk dan mencegah munculnya taqshir (penyia-nyiaan) hak orang lain dan hak Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>B. Mempersiapkan kondisi lahiriyah:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Menjauhi yang haram dan maksiat lalu banyak bertaubah kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Memperhatikan dan menunggu waktu-waktu shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">لَا يَزَالُ الْعَبْدُ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَ فِي الْمَسْجِدِ يَنْتَظِرُ الصَّلَاةَ مَا لَمْ يُحْدِثْ</p>
<p style="text-align: justify;">“Seorang hamba senantiasa dalam keadaan shalat selama ia berada di dalam masjid menunggu (waktu) shalat selama tidak batal.” (Bukhari Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berwudlu’ sebelum datangnya waktu shalat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ خَرَجَ عَامِدًا إِلَى الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ وَإِنَّهُ يُكْتَبُ لَهُ بِإِحْدَى خُطْوَتَيْهِ حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِالْأُخْرَى سَيِّئَةٌ فَإِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ الْإِقَامَةَ فَلَا يَسْعَ فَإِنَّ أَعْظَمَكُمْ أَجْرًا أَبْعَدُكُمْ دَارًا قَالُوا لِمَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ مِنْ أَجْلِ كَثْرَةِ الْخُطَا</p>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa berwudhu dengan baik kemudian keluar untuk tujuan shalat. Maka orang  itu berada dalam shalat selama ia bertujuan menuju shalat. Setiap satu langkahnya ditulis kebaikan dan langkah lainnya dihapus kesalahan.” (Riwayat Imam Malik).</p>
<p style="text-align: justify;">4. Berjalan ke masjid dengan tenang sambil membaca do’a dan dzikirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَلاَ تَأْتُوْهَا وَأنْتُمْ تَسْعَوْنَ فَمَا أدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا</p>
<p style="text-align: justify;">“Jika kalian berangkat shalat hendaklah dengan tenang janganlah kalian berangkat shalat tergesa-gesa, jika kalian mendapatinya shalatlah dan jika ketinggalan maka sempurnakan.” (Bukhari, Muslim, dan Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">5. Menempatkan diri pada shaf depan.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Melakukan shalat sunnah sebelum shalat wajib sebagai pemanasan.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Shalat dengan menjaga sunnahnya dan menghindari makruhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allahu a’lam.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p>Sumber: http://www.dakwatuna.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/shalat-khusyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DEKLARASI SALIMAH TAIWAN</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/deklarasi-salimah-taiwan/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/deklarasi-salimah-taiwan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 May 2013 14:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salimah News]]></category>
		<category><![CDATA[deklarasi salimah taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Etty Pratiknyowati pengurus PP Salimah]]></category>
		<category><![CDATA[Memulai Usaha Mandiri Dengan Jiwa Wirausaha]]></category>
		<category><![CDATA[pengurus salimah taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Salimah dan TKI]]></category>
		<category><![CDATA[Salimah support perempuan mandiri]]></category>
		<category><![CDATA[Talkshow Keluargaku Syurgaku]]></category>
		<category><![CDATA[talkshow salimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5886</guid>
		<description><![CDATA[Sambutlah seruan kami Para muslimah cinta negeri Kami berjuang menempa diri ‘Tuk membangun peradaban Islami Anggun dinamis dan bersahaja Meretas dan memupuk persaudaraan Membangun masa depan nan gemilang Dalam terangnya cahaya Islam Sebait lagu yang menyiratkan profil muslimah produktif ini terdengar merdu di suatu sudut kota Taipei hari Ahad, 14 April lalu. Terlihat suasana bahagia [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.salimah.or.id/deklarasi-salimah-taiwan/salimah-taiwan/" rel="attachment wp-att-5887"><img class=" wp-image-5887 alignleft" alt="Salimah-Taiwan" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/05/Salimah-Taiwan.jpg" width="384" height="288" /></a>Sambutlah seruan kami</em><br />
<em>Para muslimah cinta negeri</em><br />
<em>Kami berjuang menempa diri</em><br />
<em>‘Tuk membangun peradaban Islami</em><br />
<em>Anggun dinamis dan bersahaja</em><br />
<em>Meretas dan memupuk persaudaraan</em><br />
<em>Membangun masa depan nan gemilang</em><br />
<em>Dalam terangnya cahaya Islam</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebait lagu yang menyiratkan profil muslimah produktif ini terdengar merdu di suatu sudut kota Taipei hari Ahad, 14 April lalu. Terlihat suasana bahagia dari para undangan saat sekelompok mahasiswi Aceh (Hualien Voice) yang tengah menuntut studi di National Dong Hwa University (NDHU) membawakan lagu Mars SALIMAH di acara Deklarasi SALIMAH (Persaudaraan Muslimah) Taiwan.<span id="more-5886"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari itu, para muslimah Indonesia di Taiwan menyelenggarakan acara Deklarasi SALIMAH cabang Taiwan. Pada acara ini, dilakukan pelantikan terhadap 15 pengurus SALIMAH Taiwan yang terdiri dari komponen mahasiswi dan pekerja muslimah di Taiwan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah rangkaian acara Talkshow “Keluargaku, Syurgaku” dan Pelatihan Enterpreneurship yang diisi langsung oleh Ketua Umum SALIMAH Pusat, Ibu Hj. Nurul Hidayati, SS, MBA dan Ibu Ir. Etty Pratiknyowati. Acara yang dilaksanakan di aula Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei ini dimulai pukul 09.30 Waktu Taiwan. Acara yang dihadiri oleh para ibu-ibu muslimah Indonesia yang menikah dengan Taiwanese, pekerja wanita serta para mahasiswi Indonesia di Taiwan. Sekitar 40 undangan terlihat memenuhi ruang aula KDEI meski pagi itu kota Taipei diguyur hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah, Organisasi masyarakat (Ormas) yang bergerak dalam bidang pemberdayaan muslimah, pengokohan institusi keluarga serta perlindungan memadai bagi anak ini disambut baik sekali oleh semua pihak. Berdasarkan data terkini sekitar 193.000 warga Indonesia di Taiwan dan 80% nya adalah pekerja wanita dengan segala permasalahannya, sehingga kehadiran organisasi khusus muslimah ini dirasa perlu untuk mengisi ruang amal bagi wanita Indonesia di Taiwan yang jauh dari keluarga untuk saling berbagi dan meningkatkan kapasitas diri lewat berbagai kegiatan di dalamnya, demikian ungkapan Bapak Ahmad Syafrie, ketua Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) yang turut hadir membuka acara ini.</p>
<p>Di acara Talkshow “Keluargaku, Syurgaku” yang membahas tentang bagaimana membangun hubungan positif dalam keluarga, Bu Nurul memberikan paparan tentang pentingnya menuntut ilmu dan terus belajar untuk mengembangkan kemampuan diri muslimah, karena ibu adalah sekolah pertama bagi anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai muslimah, kita juga dianjurkan untuk senantiasa melakukan amal-amal kebaikan dalam lingkup keluarga dan masyarakat serta bergabung dalam kegiatan kelompok untuk mengorganisir dan mengumpulkan kebaikan-kebaikan dalam masyarakat karena kebaikan yang tidak terorganisir akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik. Lalu mengapa harus terus melakukan amalan? Karena manusia tidak pernah luput dari dosa dan salah satu cara menghapus kelemahan manusia adalah dengan tetap melakukan kebaikan, sekecil apapun itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sesi ini, ada diskusi menarik dari para ibu yang memiliki anak-anak yang sudah bersekolah dan sangat fasih berbahasa Mandarin, sehingga kadang orangtua sulit mengontrol buku bacaan anak dan mereka juga kurang suka diberikan buku bacaan berbahasa Indonesia yang dianggap bagus oleh orangtua karena anak-anak lebih mahir berbahasa Mandarin.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini Ibu Nurul memberi tips komunikasi efektif pada anak dan mengajarkan para ibu tentang kerendahan hati untuk saling belajar bahasa dan tidak sekedar memprotes anak. Kemampuan berbahasa ini dirasa cukup penting disini, dengan melihat karakter positif dari masyarakat Taiwan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang 2 hari Ibu Nurul tiba di Taiwan, beliau mengungkapkan betapa secara umum warga Taiwan memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan fitrah manusia, seperti senang pada kebersihan, ramah, fair (jujur), suka menolong dan tidak merendahkan orang lain. Menurut beliau, ini adalah karakter potensial yang memungkinkan mereka untuk bisa diarahkan ke arah yang lebih baik dan ini tentu saja dilakukan lewat komunikasi dengan bahasa yang mereka pahami.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sesi istirahat untuk makan siang dan sholat Zuhur, acara dilanjutkan dengan pelatihan entrepreneurship yang mengusung tema “Memulai Usaha Mandiri Dengan Jiwa Wirausaha”. Dalam sesi ini, Ketua Bidang Ekonomi, Sosial dan Kesehatan Lingkungan SALIMAH Pusat yang juga lulusan Teknik Pangan UGM, Ibu Ir. Etty Pratiknyowati menyatakan bahwa wirausaha adalah bentuk tradisi kebaikan lain yang perlu diupayakan untuk membawa keberkahan bagi kehidupan bermasyarakat melalui indikasi kemakmuran. Sosiolog David Mc Clelland menyatakan bahwa suatu negara dikatakan makmur bila jumlah pengusahanya mencapai 2% dari total penduduknya, sementara Indonesia masih sangat sedikit jumlah enterpreneurnya, yaitu 0,18% dari jumlah penduduk, bila dibandingkan dengan Singapura (7,12% adalah pengusaha) dan US (12,5% adalah pengusaha).</p>
<p style="text-align: justify;">Berbicara tentang kemakmuran, Bu Etty bercerita bahwa setibanya mereka di Taiwan, ketika menumpang taksi mereka melihat betapa ramahnya sang supir taksi. Sepanjang perjalanan ia bertanya, berbicara dan tak lupa memuji bila ada sesuatu yang dianggapnya baik. Ini dapat menjadi suatu ukuran kemakmuran, bahwa ketika seseorang makmur, ia akan dengan bahagia menjalankan aktivitasnya dan tenang dalam mencari rezeki.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sesi diskusi pun para peserta terlihat antusias bertanya tentang kiat-kiat sukses bisnis muslimah pada Bu Etty yang saat ini tengah mengembangkan perusahaan pangan PT SALIMAH Prima Cita yang merintis usaha pengolahan pangan sehat seperti Bakso Ikan dan Frozen Food dengan konsep komunitas untuk meningkatkan ekonomi organisasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau berpesan, sangat penting bagi para muslimah untuk membekali diri semaksimal mungkin dengan berbagai ilmu sebelum terjun ke dunia praktik wirausaha. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat juga dengan ilmu dan barangsiapa ingin keduanya, maka harus dengan ilmu. Demikianlah sifat ilmu yang terus meninggikan derajat para pencarinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, semoga kehadiran ormas ini dapat menjadi wadah bagi perempuan Indonesia di Taiwan untuk terus belajar, mengembangkan diri sehingga dapat membangun keluarga dan peradaban yang baik meski berada jauh dari tanah air. Acara pun ditutup pada pukul 16.30 Waktu Taiwan.</p>
<p><em>SALIMAH kami pendukung citamu</em><br />
<em>SALIMAH kami bangga padamu</em><br />
<em>SALIMAH jalan panjang dan berliku</em><br />
<em>Tak menjadikan gentar dan ragu</em><br />
<em>Karna Allah menyertai slalu 2 x</em></p>
<p>Kontributor: dr. Novi Maulina</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/deklarasi-salimah-taiwan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>40 Tahun, Usia Istimewa Dalam Islam</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/40-tahun-usia-istimewa-dalam-islam/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/40-tahun-usia-istimewa-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 01:42:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5880</guid>
		<description><![CDATA[Ketika Al-Qur’an menyebut sesuatu di dalam ayat-ayat-Nya, tentu ada yang sangat penting atau perlu diperhatikan terhadap sesuatu tersebut. Demikian juga ketika Al-Qur’an memberikan apresiasi tersendiri terhadap tahapan manusia kala mencapai usia 40 tahun yang disebutkan di dalam ayatnya secara eksplisit. Allah swt. berfirman, حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/04/wpid-rps20130403_084000.jpg"><img title="rps20130403_084000.jpg" class="alignnone size-full" alt="image" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/04/wpid-rps20130403_084000.jpg" /></a></p>
<p>Ketika Al-Qur’an menyebut sesuatu di dalam ayat-ayat-Nya, tentu ada yang sangat penting atau perlu diperhatikan terhadap sesuatu tersebut.</p>
<p>Demikian juga ketika Al-Qur’an memberikan apresiasi tersendiri terhadap tahapan manusia kala mencapai usia 40 tahun yang disebutkan di dalam ayatnya secara eksplisit. Allah swt. berfirman,</p>
<p>حَتَّى إَذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِى فِى ذُرِّيَّتِى إِنِّى تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ</p>
<p>Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (Q.S. al-Ahqâf: 15)</p>
<p>Menurut para pakar tafsir, usia 40 tahun disebut tersendiri pada ayat ini, karena pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosional, karya, maupun spiritualnya. Orang yang berusia 40 tahun benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan beralih menapaki usia dewasa penuh. Apa yang dialami pada usia ini sifatnya stabil, mapan, kokoh. Perilaku di usia ini karenanya akan menjadi ukuran manusia pada usia-usia berikutnya.<br />
<span id="more-5880"></span></p>
<p>Doa yang terdapat dalam ayat tersebut tentu dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahunan. Apalagi mereka yang usianya di atasnya. Di dalamnya tampak terkandung uraian berbagai gejala orang yang berusia 40 tahun, yaitu:</p>
<p>    nikmat yang sempurna telah diterimanya dan diterima oleh orang tuanya,<br />
    kecenderungan diri untuk beramal yang positif,<br />
    rumah tangga yang beranjak harmonis,<br />
    kecenderungan diri bertaubat dan kembali kepada Sang Pencipta, dan<br />
    ketegasannya mendeklarasikan diri sebagai pemeluk agama Islam.</p>
<p>Pada ayat yang lain, Allah swt. berfirman,</p>
<p>أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيْرُ</p>
<p>Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam tempo yang cukup untuk berpikir bagi orang-orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan? (Q.S. Fâthir: 37)</p>
<p>Menurut Ibnu Abbas, Hasan al-Bashri, al-Kalbi, Wahab bin Munabbih, dan Masruq, yang dimaksud dengan “umur panjang dalam tempo (tenggang waktu) yang cukup untuk berpikir” dalam ayat tersebut tidak lain adalah kala berusia 40 tahun.</p>
<p><strong>Mengapa umur 40 tahun begitu penting?</strong></p>
<p>Dalam tradisi Islam, usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu<br />
1) periode kanak-kanak atau thufuliyah,<br />
2) periode muda atau syabab,<br />
3) periode dewasa atau kuhulah, dan<br />
4) periode tua atau syaikhukhah. </p>
<p>Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menyebut periode kanak-kanak itu mulai lahir hingga baligh, muda mulai dari usiabaligh sampai 40 tahun, dewasa usia 40 tahun sampai 60 tahun, dan usia tua dari 60-70 tahun.</p>
<p>Usia 40 tahun dengan demikian adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih menapaki masa dewasa penuh yang disebut dengan usia dewasa madya (paruh baya) atau kuhulah. Hal ini sesuai dengan pendapat pakar psikologi seperti Elizabet B. Hurlock, penulis “Developmental Psychology”. Katanya, “masa dewasa awal” atau “early adulthood” terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia 40 tahun. Selanjutnya adalah masa setengah baya atau “middle age”, yang umumnya dimulai pada usia 40 tahun dan berakhir pada usia 60 tahun. Dan akhirnya, masa tua atau “old age” dimulai sejak berakhirnya masa setengah baya sampai seseorang meninggal dunia. Nuansa kejiwaan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agama (religiusitas dan spiritualisme) setelah pada masa-masa sebelumnya minat terhadap agama itu boleh jadi kecil sebagaimana diungkapkan oleh banyak pakar psikologi sebagai “least religious period of life”.</p>
<p>Oleh karena itu, dengan berbagai keistimewaannya, maka patutlah jika usia 40 tahun disebut tersendiri di dalam al-Qur’an. Dan karenanya, tidaklah heran jika para Nabi diutus pada usia 40 tahun. Nabi Muhammad saw. diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa as. dan Nabi Yahya as., mereka diutus menjadi nabi ketika usia mereka genap 40 tahun.</p>
<p>Di banyak negara ditetapkan, untuk menduduki jabatan-jabatan elit yang strategis, seperti kepala negara, disyaratkan bakal calon harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat sendiri tampak cenderung baru mengakui prestasi seseorang secara mantap tatkala orang itu telah berusia 40 tahun. Soekarno menjadi presiden pada usia 44 tahun. Soeharto menjadi presiden pada umur 46 tahun. J.F. Kennedy 44 tahun. Bill Clinton 46 tahun. Paul Keating 47 tahun. Sementara Tony Blair 44 tahun.</p>
<p><strong>Apa keistimewaan usia 40 tahun?</strong></p>
<p>Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah saw.,</p>
<p>العَبْدُ الْمُسْلِمُ إِذَا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً خَفَّفَ اللهُ تَعَالَى حِسَابَهُ ، وَإِذَا بَلَغَ سِتِّيْنَ سَنَةً رَزَقَهُ اللهُ تَعَالَى الْإِنَابَةَ إِلَيْهِ ، وَإِذَا بَلَغَ سَبْعِيْنَ سَنَةً أَحَبَّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ، وَإِذَا بَلَغَ ثَمَانِيْنَ سَنَةً ثَبَّتَ اللهُ تَعَالَى حَسَنَاتِهِ وَمَحَا سَيِّئَاتِهِ ، وَإِذَا بَلَغَ تِسْعِيْنَ سَنَةً غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ وَشَفَّعَهُ اللهُ تَعَالَى فِى أَهْلِ بَيْتِهِ ، وَكَتَبَ فِى السَّمَاءِ أَسِيْرَ اللهِ فِى أَرْضِهِ – رواه الإمام أحمد</p>
<p>Seorang hamba muslim bila usianya mencapai empat puluh tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya). Jika usianya mencapai enam puluh tahun, Allah akan memberikan anugerah berupa kemampuan kembali (bertaubat) kepada-Nya. Bila usianya mencapai tujuh puluh tahun, para penduduk langit (malaikat) akan mencintainya. Jika usianya mencapai delapan puluh tahun, Allah akan menetapkan amal kebaikannya dan menghapus amal keburukannya. Dan bila usianya mencapai sembilan puluh tahun, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dosa-dosanya yang belakangan, Allah juga akan memberikan pertolongan kepada anggota keluarganya, serta Allah akan mencatatnya sebagai “tawanan Allah” di bumi. (H.R. Ahmad)</p>
<p>Hadits ini menyebut usia 40 tahun paling awal, dimana isinya bermakna bahwa orang yang mencapai usia 40 tahun dan ia tetap memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah swt. sekaligus memiliki konsistensi terhadap Islam sebagai pilihan keberagamaannya, maka Allah swt. akan meringankan hisabnya. Perhitungan amalnya akan dimudahkan oleh Allah swt. Ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri, karena dihisab, diteliti secara detail, diinterogasi secara berbelit-belit, merupakan suatu tahapan di akhirat yang sangat sulit, pahit, lama, dan mencekam tak ubahnya disiksa, betapa pun siksa yang sebenarnya belum dilaksanakan.</p>
<p>Orang yang usianya mencapai 40 tahun mendapatkan keistimewaan berupa hisabnya diringankan. Boleh jadi ini karena untuk mencapai usia 40 tahun dengan tingkat penghambaan dan keberagamaan yang konsisten tentulah membutuhkan proses perjuangan yang melelahkan.</p>
<p>Tetapi, umur 40 tahun merupakan saat harus waspada juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk ashar. Senja. Sebentar lagi maghrib. Sahabat Qotadah, tokoh generasi tabiin, berkata, “Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun, maka hendaklah dia mengambil kehati-hatian dari Allah ‘azza wa jalla.”</p>
<p>Bahkan, sahabat Abdullah bin Abbas ra. dalam suatu riwayat berkata, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak unggul mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”</p>
<p>Nasihat yang diungkap oleh dua sahabat besar tersebut memberikan pengertian bahwa manusia harus mulai bersikap waspada, hati-hati, dan mawas diri dalam aktivitas pengabdiannya kepada Allah swt. manakala usianya telah mencapai 40 tahun. Ia ditekankan untuk meningkatkan atau setidak-tidaknya mempertahankan amal kebajikan yang telah dibiasakannya pada usia-usia sebelumnya. Tidak justru “tua-tua keladi”, makin tua dosanya makin menjadi-jadi. Secara keras, Ibnu Abbas ra. mengingatkan manusia yang berumur 40 tahun dan amal kebajikannya masih kalah dibanding dengan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.</p>
<p>Atas dasar ini, penduduk Madinah dahulu yang didominasi oleh para sahabat Nabi Saw. ketika usia mereka telah mencapi 40 tahun, mereka konsentrasi beribadah. Mereka mulai memprioritaskan hari-harinya untuk aktivitas ibadah. Kesibukan mencari materi mereka kurangi dan beralih memfokuskan diri pada kegiatan yang bersifat non-materi, dalam rangka memobilisasi bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan setelah mati. Hal yang sama dilakukan oleh penduduk Andalusia, Spanyol.</p>
<p>Imam asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan seraya memakai tongkat. Jika ditanya, jawab beliau, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syara’ lazim bagiku. Di antara aku dan dia ada Allah.”</p>
<p>Syeikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab “al-Bahr al-Maurûd” menyatakan, “Kita memiliki keterikatan janji manakala umur kita telah mencapai 40 tahun, bahwa kita harus melipat alas tidur kecuali bila terkuasai (yakni, kantuk berat datang dan tak bisa dihindari), kita tidak boleh alpa dari keberadaan kita sebagai para musafir ke negeri akhirat di setiap detak nafas, sehingga kita tidak merasa memiliki kenyamanan sedikit pun di dunia. Kita harus melihat sedetik nafas dari umur kita setelah usia 40 tahun sebanding dengan 100 tahun dari umur sebelumnya. Begitulah. Pasca usia 40 tahun, tidak ada rehat bagi kita, tidak lagi berebutan atas suatu jabatan (kursi), tidak juga merasa senang dengan sedikit pun dari dunia. Semua itu karena sempitnya usia pasca 40 tahun. Tidaklah pantas orang yang berada di ujung kematian berlaku lalai, lupa, santai, dan bermain-main.”</p>
<p>Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika menginjak usia 40 tahun? Beberapa yang disebutkan Ahmad Syarifuddin dalam bukunya ini adalah:<br />
1. Meneguhkan tujuan hidup<br />
2. Meningkatkan daya spiritualisme<br />
3. Menjadikan uban sebagai peringatan<br />
4. Memperbanyak bersyukur<br />
5. Menjaga makan dan tidur<br />
6. Menjaga konsistensi dan kontinuitas</p>
<p>Jika ada yang mengatakan bahwa: Life began at forty, saya cenderung berpendapat bahwa kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan religius, kehidupan yang berfokus dan konsentrasi untuk persiapan menuju negeri akhirat. Karena bagaimanapun, statemen Helen Rowland itu belum selesai. Lanjutnya, … but so do fallen arches, rheumatism, faulty eyesight, and the tendency to tell a story to the same person, three or four times. Kehidupan memang dimulai umur 40 tahun, tetapi pada saat itu kita juga mulai cekot-cekot, reumatik, rabun, dan kecenderungan pikun.</p>
<p>Karena itu, agaknya syair Ali bin Abi Thalib ra. ini bisa dijadikan renungan,</p>
<p>إِذَا عَاشَ الْفَتَى سِتِّيْنَ عَامًا # فَنِصْفُ الْعُمْرِ تَمْحَقُهُ اللَّيَالِي<br />
وَرُبْعُ الْعُمْرِ يَمْضِى لَيْسَ يُدْرَى # أَيُقْضَى فِى يَمِيْنٍ أَوْ شِمَالِ<br />
وَرُبْعُ الْعُمْرِ أَمْرَاضٌ وَشَيْبٌ # وَشُغْلٌ بِالتَّفَكُّرِ وَالْعِيَالِ</p>
<p>    Jika seorang pemuda dikaruniai usia 60 tahun, maka separuh usianya habis oleh tidur di malam hari. Sementara seperempat usianya berlalu tanpa diketahui, apakah dijalankan ke kanan atau ke kiri. Seperempat usianya yang lain dimangsa oleh sakit, uban, dan kesibukan mengurus keluarga.</p>
<p>Jika umur kita pada kenyataannya lebih banyak yang kita habiskan untuk sesuatu yang tidak berguna, maka kiranya kini saatnya untuk tidak lagi menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Sebagaimana sahabat Abdullah bin Umar r.a. pernah menceritakan hadits dari Rasulullah Saw. yang perlu dicamkan berkaitan dengan hal ini.</p>
<p>Rasulullah Saw. memegang kedua pundakku dan bersabda, “Jadilah di dunia seakan-akan kamu orang asing (perantau) atau pengembara (musafir).” Abdullah bin Umar ra. berkata, “Jika berada di waktu sore, jangan menanti waktu pagi. Jika berada di waktu pagi, jangan menanti waktu sore. Pergunakanlah (rebutlah) masa sehatmu (dengan amal-amal shaleh) untuk bekal (antisipasi) masa sakitmu dan masa hidupmu untuk bekal (antisipasi) masa matimu.” (H.R. Bukhari).</p>
<p>Semoga kita digolongkan hamba-Nya yang mampu mengisi umur kita dengan sebaik-baiknya sehingga meringankan hisab kita besok di akhirat. Amin.</p>
<p>sumber : http://bahtiarhs.net</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/40-tahun-usia-istimewa-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekal Pernikahan</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/bekal-pernikahan/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/bekal-pernikahan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Apr 2013 01:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5876</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kitab Ahkam an-Nisa`, Ibnul Jauzy berkisah, “Dahulu kala, ada seorang raja di negeri Yaman yang bernama al-Harits bin Amru al-Kindi. Ia mendengar berita bahwa ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya.&#8221; Wanita itu adalah putri Awf al-Kindi. Lalu sang raja mengutus seorang wanita yang bernama Asham, sebagai comblang, kepada keluarga Awf untuk membuktikan langsung [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/04/wpid-rps20130403_075426.jpg"><img title="rps20130403_075426.jpg" class="aligncenter size-full" alt="image" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/04/wpid-rps20130403_075426.jpg" /></a></p>
<p> Dalam kitab Ahkam an-Nisa`, Ibnul Jauzy berkisah, “Dahulu kala, ada seorang raja di negeri Yaman yang bernama al-Harits bin Amru al-Kindi. Ia mendengar berita bahwa ada seorang wanita yang terkenal dengan kecantikannya.&#8221; Wanita itu adalah putri Awf al-Kindi. </p>
<p>Lalu sang raja mengutus seorang wanita yang bernama Asham, sebagai comblang, kepada keluarga Awf untuk membuktikan langsung kebenaran berita itu. Maka berangkatlah Asham menuju rumah Awf. Sesampainya di sana, ia diterima oleh istri Awf yang bernama Umamah binti al-Harits. Asham mengabarkan maksud kedatangannya.<br />
<span id="more-5876"></span></p>
<p>Lalu Umamah menemui salah satu putrinya. Dari dalam kamarnya, Umamah berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, sesungguhnya di luar ada bibimu yang datang kepadamu untuk ‘memperhatikan’ sebagian urusanmu. Keluarlah engkau. Temui dia. Jangan kau sembunyikan apapun darinya. Berbicaralah kepadanya sesuai pembicaraan yang dimaksud olehnya.”</p>
<p> Singkat cerita, Asham kembali ke sang Raja, mengabarkan apa yang ia lihat. Ia kabarkan bahwa wanita yang ditemuinya adalah seorang wanita yang wajahnya putih bersih layaknya cermin dan untaian rambutnya tersusun indah. Sang Raja bulat hati melamar putri Awf. Lamaran diterima, dan Awf menikahkan putrinya dengan sang raja.</p>
<p> Pada malam pertama, sang ibu, mendatangi putrinya. Sang ibu memberinya nasehat berharga sebagai bekal perkawinan. Ia meminta putrinya untuk menjaga 10 hal agar dia bahagia. </p>
<p>“Pertama dan kedua, bergaullah dengannya dengan sikap merasa cukup (qanaah) dan dengarkan baik-baik ucapannya dan taatlah padanya. Sesungguhnya dalam sikap merasa cukup ada ketentraman hati, sedangkan dalam mendengar dan taat ada keridhaan Tuhan.” </p>
<p>Ketiga dan keempat, ia meminta putrinya memerhatikan tempat tatapan mata suaminya dan penciumannya. “Jangan sampai matanya tertuju kepada dirimu di saat engkau dalam keadaan jelek dan jangan sampai penciumannya tertuju kepada dirimu di saat dirimu kurang wangi.” </p>
<p>Kelima dan keenam, perhatikan waktu tidur dan makannya. Karena panasnya lapar dapat membakar perasaan dan kurangnya tidur dapat menimbulkan marah.</p>
<p>Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memerhatikan kemuliaan dan keluarganya. </p>
<p>Kesembilan dan kesepuluh, janganlah melawan perintahnya dan jangan bongkar rahasianya. “Jika engkau melawan perintahnya, berarti engkau membuat dadanya cemburu.&#8221; &#8221;Jika engkau bongkar rahasianya, maka engkau tidak akan aman dari tipu dayanya. Janganlah engkau bergembira di hadapannya di saat ia sedang bersusah hati, dan jangan pula engkau bermuram durja di saat ia sedang bahagia.” </p>
<p>Nasehat Umamah binti al-Harits dalam kisah di atas merupakan nasehat yang berharga bagi setiap istri. Khidmatnya seorang isteri pada suami akan membuahkan kebahagiaan hidup berumah tangga dan jalan meraih surga. Untuk itu, mari kita realisasikan nasehat itu untuk mencari ridha suami dan sebagai ketaatan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, maka aku akan menyuruh seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR Tirmidzi).</p>
<p>Sumber Republika, Oleh Yuliasih</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/bekal-pernikahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Orangtua Bijaksana</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/menjadi-orangtua-bijaksana/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/menjadi-orangtua-bijaksana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 12:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Media Salimah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Salimah News]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Orangtua Bijaksana (KOB) Salimah]]></category>
		<category><![CDATA[Menjadi Orangtua Bijaksana]]></category>
		<category><![CDATA[nurul hidayati ketua umum pp salimah]]></category>
		<category><![CDATA[Parenting Skill]]></category>
		<category><![CDATA[Pelatihan paerentin skill gratis dari Salimah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5838</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi Orangtua yang dapat memahami anak dengan baik serta dapat bersikap bijaksana adalah sebuah kebutuhan. Banyak ahli pendidikan anak mengatakan bahwa ketika anak mendapatkan perlakuan baik dari orangtuanya, hal tersebut akan menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupannya kelak. Namun disayangkan, banyak forum untuk mempelajari keterampilan menjadi orangtua yang baik kerap sulit terjangkau oleh masyarakat umum. [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.salimah.or.id/menjadi-orangtua-bijaksana/kob-3/" rel="attachment wp-att-5840"><img class=" wp-image-5840 alignleft" alt="KOB-3" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/03/KOB-3-300x207.jpg" width="300" height="207" /></a>Menjadi Orangtua yang dapat memahami anak dengan baik serta dapat bersikap bijaksana adalah sebuah kebutuhan. Banyak ahli pendidikan anak mengatakan bahwa ketika anak mendapatkan perlakuan baik dari orangtuanya, hal tersebut akan menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupannya kelak.<span id="more-5838"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun disayangkan, banyak forum untuk mempelajari keterampilan menjadi orangtua yang baik kerap sulit terjangkau oleh masyarakat umum. Sering forum-forum bermanfaat tersebut harus &#8220;ditebus&#8221; dengan biaya yang mahal. Sehingga banyak kalangan akhirnya tidak mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar lebih dalam tentang parenting skills. Salimah sebagai sahabat kaum ibu yang peduli pada peningkatan kualitas perempuan, keluarga dan anak Indonesia mencoba hadir memberikan solusi. Salimah menghadirkan Komunitas Orangtua Bijaksana (KOB) sebagai sarana orangtua mengembangkan diri menjadi orangtua yang lebih memahami dunia anak dan dapat bersikap bijaksana dalam menghadapinya. Sehingga potensi-potensi yang ada pada  diri anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kegiatan-kegiatan komunitas yang terjangkau oleh masyarakat umum, Salimah berharap untuk berkontribusi nyata mendampingi para orangtua, khususnya para ibu menjalankan tugas mulia mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantaranya kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Komunitas Orangtua Bijaksana (KOB) Salimah adalah Pelatihan Parenting skill pada Kamis, 21 Maret 2013 di Aula Kalibata Jakarta Selatan dengan menghadirkan nara sumber ibu Dra. Ery Soekresno, Psi, M.Sc dan ibu Nurul Hidayati.S.S, MBA</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir 500 perempuan yang peduli pada pengasuhan anak menghadiri acara Pelatihan Parenting skill tersebut. Kehadiran mereka membuktikan para perempuan khususnya kaum ibu sangat peduli pengasuhan anak  dan mereka haus ilmu untuk menjadikan dirinya orangtua yang memahami pertumbuhan perkembangan anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu Dra. Ery Soekresno, Psi, M.Sc  memaparkan tentang  &#8221;Lebih Jauh Memahami Perkembangan Anak Anda&#8221;. Peserta sangat antusias karena ibu Ery bukan hanya memaparkan teori namun juga aplikasinya  berupa contoh-contoh tingkah polah anak sesuai tahap perkembangannya serta keterampilan emosi yang harus dimiliki anak sesuai usianya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap keterampilan berkembang sesual dengan waktunya, tapi satu keterampilan dibangun dari keterampilan sebelumnya. Misalnya anak pernah belajar memahami dan mengenali perasaannya sendiri, dan secara bertahap belajar untuk menghubungkan dan mengasosiasikan nama perasaan dengan perasaannya, belajar  bahwa orang lain juga punya perasaan dan mulai berempati dengan perasaan orang lain. Dengan bertambahnya usia, anak belajar memanajemeni perasaannya, mengatasi rasa cemas, takut, sedih atau frustrasi dan belajar menunda pemuasan segera dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orangtua yang memahami tahapan perkembangan anak akan menjadi orangtua yang bijaksana yang mampu mengoptimalkan perkembangan karakter dan kecerdasan anaknya. Materi lengkapnya dapat lihat di sini .</p>
<p style="text-align: justify;">Narasumber kedua adalah ketua umum PP Salimah ibu Nurul Hidayati.S.S, MBA memaparkan pentingnya menghadirkan fungsi Asah, Asih dan Asuh dalam keluarga sebagai fondasi yang kokoh bagi kehidupan anak agar anak dapat tumbuh menjadi generasi masa depan yang berkualitas .</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/menjadi-orangtua-bijaksana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak Sesuai dengan Usia. Ada Apa dengan Masa Anak-anak?</title>
		<link>http://www.salimah.or.id/mendidik-anak-sesuai-dengan-usia-ada-apa-dengan-masa-anak-anak/</link>
		<comments>http://www.salimah.or.id/mendidik-anak-sesuai-dengan-usia-ada-apa-dengan-masa-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Mar 2013 12:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Iin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anak & Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[Ery Soekresno]]></category>
		<category><![CDATA[Komunitas Orangtua Bijaksana Salimah]]></category>
		<category><![CDATA[Mendidik Anak Sesuai dengan Usia]]></category>
		<category><![CDATA[motivator parenting skill]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan yang terbaik sesuai usia anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.salimah.or.id/?p=5842</guid>
		<description><![CDATA[Obsesi pada Masa Depan Anak Seorang ibu bertanya, apakali ía perlu mendaftarkan anaknya yang berusia 3 tahun untuk ikut kursus membaca karena khawatir anaknya tidak diterima di Sekolali Dasar unggulan yang mensyaratkan calon siswa kelas I harus sudah dapat membaca. Ibu lain juga bertanya, apakah sikapnya tepat membacakan artikel kedokteran dari mulai mengandung sampai janinnya [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><b><i><a href="http://www.salimah.or.id/mendidik-anak-sesuai-dengan-usia-ada-apa-dengan-masa-anak-anak/tahap-tumbuh-anak/" rel="attachment wp-att-5843"><img class="size-medium wp-image-5843 alignleft" alt="tahap-tumbuh-anak" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/03/tahap-tumbuh-anak-300x185.jpg" width="300" height="185" /></a>Obsesi pada Masa Depan Anak</i></b><i><br />
</i>Seorang ibu bertanya, apakali ía perlu mendaftarkan anaknya yang berusia 3 tahun untuk ikut kursus membaca karena khawatir anaknya tidak diterima di Sekolali Dasar unggulan yang mensyaratkan calon siswa kelas I harus sudah dapat membaca.<br />
Ibu lain juga bertanya, apakah sikapnya tepat membacakan artikel kedokteran dari mulai mengandung sampai janinnya lahir agar anaknya menjadi dokter.<br />
Ada lagi ibu yang sudah mendaftarkan anaknya untuk mengikuti bimbel di saat anaknya masi duduk di kelas dua.<span id="more-5842"></span><!--more--><!--more--></p>
<div id="attachment_5844" class="wp-caption alignleft" style="width: 244px"><a href="http://www.salimah.or.id/mendidik-anak-sesuai-dengan-usia-ada-apa-dengan-masa-anak-anak/ery-soekresno/" rel="attachment wp-att-5844"><img class=" wp-image-5844 " alt="Ery-Soekresno" src="http://www.salimah.or.id/wp-content/uploads/2013/03/Ery-Soekresno-234x300.jpg" width="234" height="300" /></a>
<p class="wp-caption-text">Dra.Ery Soekresno, Psi.Msc</p>
</div>
<p style="text-align: justify;">Contoh di atas merupakan ekspresi kekhawatiran orang tua akan masa depan anaknya. Sibuk menyiapkan masa depan membuat anak tak lagi memiliki waktu untuk mengerjakan proyek atau kegiatan yang menyenangkan dan bermakna seperti membuat bangunan dari balok, berkebun, melukis, teater dan lain-lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitan tentang otak juga memberikan kekhawatiran baru. Simulasi sejak dini akan mempengaruhi perkembangan otak anak. Banyaknya kecemasan-kecemasan ortu dan guru yang juga dirasakan anak. Anak-anak menjadi stress. Stres sebenarnya hanya separuh cerita, anaka anak juga akhirnya tidak memiliki pengalaman yang diperlukan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Kita telah merampok kesempatan anak untuk mengembangkan kapasitasnya di tahap perkembangan yang sedang dijalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak sekolah akhirnya juga memberi tekanan baru bagi siswa-siswanya. Guru tidak punya waktu lagi untuk mengembangkan potensi sosial emosional siswa karena sibuk menyiapkan siswanya untuk dapat membaca, menulis, dan berhitung.</p>
<p style="text-align: justify;"><b><i>Berpusar </i></b><b><i>pada Anak</i></b><i><br />
</i>Untuk membantu anak berkembang, orang tua dan guru perlu memperbatikan isyarat-isyarat dan anak, memberikan perhatian khusus pada minat dan perasaan spontannya. Anak akan menunjukkan minat yang besar pada hal-hal yang membuat mereka dapat mengembangkan kekuatannya, mereka akan bekerja dengan semangat dan penuh konsentrasi. Setelah selesai, anak akan terlihat bahagia dan merasa damai, karena sudah dapat mengembangkan kemampuannya. Orang tua dan guru perlu memperhatikan ekspresi emosi anak sebagai salah satu petunjuk terhadap kegiatan yang diperlukan anak.</p>
<p style="text-align: justify;"><i><strong>Bukan Memanjakan dan Berikan Bantuan yang Pas</strong><br />
</i>Sikap orang tua untuk segera memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan anak, tidak sama dengan memanjakan. Respons yang pas dan orang tua akan memberikan nuansa “trust” yang akan membebaskan anak untuk mengeksplorasi dunia dengan kemandirian yang sesual dengan usianya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua dapat memberikan batasan tapi tetap mengembangkan kapasitas anak. Biasakan “dinding bukan untuk menggambar, gunakan kertas. lni kertasnya.” Penting bagi orang tua untuk memberikan batasan perilaku yang menyakiti atau tidak menghormati orang lain. Bantuan juga diberikan sesuai dengan kemampuan apa yang anak belum kuasai.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sekolah, gurupun menggunakan pendekatan disiplin positif Guna menghargai anak dan mencoba menyelesaikan masalah dengan berbicara. Guru konsisten dengan aturan yang telah disepakati dan sesuatu harus terjadi ketika siswa melanggar kesepakatan.</p>
<p><b><i>Peran Orang tua dan Guru, Ada dan Tiada</i></b><i><br />
</i>Orang tua dan guru memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan anak. Ada banyak cara membantu anak untuk dapat belajar sendiri, misalnya sediakan materi yang menggoda rasa ingin tahu anak dan biarkan anak melakukan eksplorasi sendiri. Sebaiknya orang tua memang tidak terlalu banyak instruksi atau masuk terlalu dalam pada kegiatan anak. Lakukan seperti induk hewan <i>“memperhatikan sepanjang waktu untuk keselamatan, tapi bertindak hanya ketika anaknya membutuhkannya..” </i></p>
<p style="text-align: justify;">Orang tua dan guru perlu sabar untuk menunggu sampai anak menguasai keterampilan yang sedang dipelajarinya. Yakinlah bahwa kegiatan apa yang dipilih anak pasti penting bagi perkembangannya — orang tua dan guru perlu belajar tidak mengganggu kemandirian anak saat bermain. Berikan kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk memegang peran mengatur cara bermainnya, kecepatan, waktunya dan juga ritme interaksinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><b><i>Orang </i></b><b><i>Tua, Guru Pertama dan Utama</i></b><i><br />
</i>Bagaimana perasaan ortu saat pertama kali anak anda memanggil anda mama atau papa? Apakah ortu terkejut ? Bangga?<br />
Pada saat inilah ortu telah menjadi seseorang yang memiliki kemampuan dan kekuatan lebih di hadapan anak anda untuk memberikan pola pengasuhan yang terbaik dan menjadi mitra belajar. Belajar bukan cuma mengisi otak anak dengan angka, bentuk-bentuk geometris atau huruf.</p>
<p>Riset menunjukkan betapa pentingnya kesiapan social emosional dalam kesuksesan anak di sekolah dasar, dan bahkan kesuksesan di dunia kerja.<br />
<strong>Anak yang siap digambarkan seperti ini:</strong><br />
o Percaya din, ramah, mampu membangun hubungan yang baik dengan teman<br />
sebayanya<br />
o Mampu berkonsentrasi dan terus bertahan untuk dapat menuntaskan tugas yang Inenantang<br />
o Mampu mengungkapkan nasa frustrasi, marah, dan kebahagiaannya secara efektif<br />
o Mampu menyiniak instruksi dan memberikan perhatian</p>
<p style="text-align: justify;"><i>Apa sebenarnya yang terjadi ketika anak-anak memiliki keterampilan sosial emosional yang rendah atau pengendalian diri yang  rendah?<br />
</i>•• Sulit diberikan pelajaran karena anak belum kompeten untuk taat pada peraturan, mendengarkan dan fokus, juga kurang mampu memahanii instruksi akibatnya guru kurang positif pada anak-anak mi<br />
•• Kurang disukai teman sebaya. Hal ml membuat anak tidak rnemiliki dukungan teman untuk belajar dan yang lebih parah lagi tidak ada dukungan emosional dan teman<br />
(• Penolakan dan teman sebaya dan juga dan guru membuat anak menjadi tidak suka sekolah dan belajar. Akibatnya, anak jarang hadir di sekolah dan prestasinya buruk. Hal liii akan wins berpengaruh sarnpai usia sekolah dasar dan selanjutnya.</p>
<p><b>Ada beberapa keterampilan sosial emosional yang perlu dilatihkan dalam rangka melejitkan potensi akademisnya, diantaranya:</b><br />
o Mengenali dan memahami perasaan orang lain<br />
o Secara tepat mampu membaca dan memahami kondisi emosi orang lain<br />
o Mengatasi emosi negatif dan dapat mengungkapkan emosi dengan eara<br />
konstruktjf<br />
o Mengendalikan perilaku diri<br />
o Mengembangkan empati<br />
o Membangun dan mempertahanican pertemanan atau persahabatan</p>
<p>Setiap keterampilan berkembang sesual dengan waktunya, tapi satu keterampilan dibangun dari keterampilan sebelumnya. Misalnya anak pernah belajar memahami dan mengenali perasaarrnya sendiri, dan secara bertahap belajar untuk menghubungkan dan mengasosiasikan nama perasaan dengan perasaannya, belajar  bahwa orang lain juga punya perasaan dan mulai berempati dengan perasaan orang lain. Dengan bertarnbahnya usia, anak belajar memanajemeni perasaannya, mengatasi rasa cemas, takut, sedih atau frustrasi dan belajar menunda pemuasan segera dalam rangka mendapatkan apa yang diinginkannya.</p>
<p>Semua keterampilan <i>ini </i>membantu anak mampu mengendalikan dirinya sehingga ketika sudah dewasa misalnya keterampilan ini dapat membantu seorang “salesman” untuk memahami pembeli potensial dan ekspresi wajah dan bahasa tubulmya, mendorong atlit untuk bertahan sampai mendapatkan medali emas, membantu istri atau suami memahami atau empati dengan perasaan pasangannya sehingga mampu menahan din untuk tidak beradu argumen atau membantu menjadi wanga Negara yang baik dan menahan diri untuk tidak melukai saat merasa terganggu dengan perilaku tetangganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam bishowab<br />
Semog Bermanfaat dan Memberikan Inspirasi<br />
Dra. Ery Soekresno.Psi.M.sc(E4u)</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.salimah.or.id/mendidik-anak-sesuai-dengan-usia-ada-apa-dengan-masa-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
