Pendampingan Perempuan Sadar Gizi

Salimah sebagai ormas perempuan yang memiliki visi menjadi ormas yang dinamis, terus berupaya berkontribusi menjadi problem solver bagi permasalahan  perempuan, keluarga dan anak di Indonesia. Salah satu  permasalahan yang menjadi perhatian Salimah dan sangat dekat dengan kehidupan perempuan  adalah permasalahan gizi yang sangat terkait erat dengan kualitas fisik generasi penerus bangsa di masa depan. Dibutuhkan ketulusan, kesungguhan dan kerjasama masyarakat dengan ormas, LSM dan institusi lainnya, sebagai upaya  mendukung kerja pemerintah mensejahterakan rakyat serta mencapai target pembangunan milenium.

Permasalahan gizi buruk masih sering dijumpai di masyarakat Indonesia. Upaya mengatasi gizi buruk telah dilakukan, terlihat dari penurunan prevalensi gizi buruk dari 9,7% di tahun 2005 menjadi 4,9% di tahun 2010. Namun pemerintah dan masyarakat Indonesia masih harus bersungguh-sungguh melakukan aksi nyata untuk mencapai penurunan di tahun 2015 menjadi 3,6%. Saat ini masih terdapat ibu hamil sebanyak 4 juta per tahun, 2 juta diantaranya mengalami anemi gizi dan 1 juta mengalami KEK (Kekurangan Energi Kronis). Permasalahan pokoknya terdapat pada 6 faktor berikut, yaitu pengetahuan ibu tentang gizi yang rendah, pendapatan keluarga yang rendah, persediaan pangan tingkat rumah tangga yang rendah, perilaku pengasuhan yang belum sehat, konsumsi makanan yang tidak mengikuti kaidah gizi dan kesehatan, dan kondisi kesehatan ibu atau pun anak.

Penanganan terhadap masalah gizi kurang & gizi buruk di masyarakat melalui posyandu belum berjalan optimal. Di Posyandu, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada balita masih sekedar untuk mengisi kegiatan posyandunya, belum sampai pada substansi PMT itu sendiri, yakni meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita mengalami tumbuh kembang yang sehat.

Sisi yang lain, pola perbaikan gizi sangat tergantung pada perilaku kaum perempuan dalam melihat bagaimana memperbaiki gizi keluarga. Dalam kenyataannya masih banyak perempuan yang belum mengerti arti pentingnya gizi khususnya bagi anak dan ibu. Untuk itu, pola pendampingan gizi secara langsung, terprogram dan berkelanjutan merupakan langkah kebijakan gizi yang harus kita jalankan. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa perilaku gizi merupakan perilaku sosial yang akan lebih mudah diubah dengan adanya dukungan sosial melalui pendampingan tersebut.

Dari sinilah Salima mengambil perannya dalam penanganan masalah gizi, yaitu dengan melakukan pendampingan kelompok perempuan agar mereka menjadi sadar untuk mengenali dan mengatasi masalah gizi dengan upaya pemanfaatan potensi-potensi lokal untuk meningkatkan status gizi. Sebagai langkah aplikasinya, Salimah merumuskan konsep  program Perempuan Sadar Gizi dan berkesempatan mensosialisasikan program tersebut dalam  Seminar Nasional Pencegahan Gizi Buruk di peringatan hari Ibu nasional (10/12/’10) yang menampilkan Ketua Umum PP Salimah sebagai salah satu narasumbernya, bertempat di Gedung PTIK Jakarta.

Program Perempuan Sadar Gizi memiliki tujuan menurunkan prevalensi gizi kurang yang sangat terkait dengan  menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Secara khusus bertujuan untuk membuat kaum perempuan memiliki pengetahuan dasar yang diperlukan untuk mengelola gizi keluarga (misalnya gizi seimbang, keanekaragaman makanan dan pola pengasuhan terkait dengan perilaku gizi) serta memiliki kemampuan untuk mengenali, mencegah dan mengatasi masalah gizi. Strategi yang digunakan adalah pendampingan kelompok perempuan dengan memberikan perhatian, menyampaikan pesan, menyemangati, mengajak, memberikan pemikiran/solusi, menyampaikan layanan/bantuan, memberikan nasehat, menggerakkan dan bekerjasama.

Adapun rencana dan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh sebagian Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) Salimah adalah :
1. Penyadaran pencegahan gizi buruk melalui seminar, talkshow, ceramah majelis taklim serta kelas terbuka di masyarakat. Diantaranya seperti yang dilakukan oleh PW NTB dengan mengadakan seminar Inisiasi Menyusui Dini (IMD), ditindaklanjuti kegiatan hotline service untuk memberi kesempatan masyarakat mendiskusikan permasalahannya.

2. Pengumpulan dan pengolahan data dasar gizi bayi, balita, bumil dan busui.
3. Melakukan Focus Grup Discussion (FDG) dengan kelompok perempuan setempat untuk mengidentifikasi: kelompok rawan gizi , penyebab rawan gizi , potensi lokal untuk mengantisipasi kerawanan gizi, rumusan aktivitas antisipasi kerawanan gizi setempat. Kegiatan ini telah dilakukan oleh PD Boyolali  bekerjasama dengan PKPU dan Puskesmas Teras (2/6/’10) memfasilitasi FDG kader kesehatan dari 13 desa untuk membantu para kader mengidentifikasi penyebab permasalahan gizi setempat.

4. Melakukan pendampingan kelompok perempuan dalam melaksanakan rumusan aktivitas yang telah disepakati. Diantaranya dengan melakukan pelayanan edukasi gizi dan asi eksklusif, pemberian makanan tambahan (PMT), pendampingan penyelenggaraan Posyandu, pemberian bibit untuk kebun keluarga, serta pendampingan penanganan gizi kurang dan gizi buruk dan bumil resiko tinggi (resti), bekerja sama dengan puskesmas setempat melalui home visit. Kerja nyata telah dilakukan Pimpinan Cabang (PC) Gunungpati, Semarang bekerjasama dengan pihak Puskesmas Gunungpati melakukan pendampingan pemberian F100 untuk 3 balita gizi buruk selama 90 hari. Para anggota Salimah melakukan home visit setiap 2 hari ke rumah balita gizi buruk tersebut untuk  memastikan bahwa formula tersebut benar-benar dikonsumsi oleh yang bersangkutan.

5. Salimah berupaya pula merumuskan program tanggap darurat dan pemulihan masalah gizi di daerah bencana. Sebuah prestasi yang dibanggakan telah dilakukan oleh PW Jateng yang berupaya merealisasikan kegiatan perempuan sadar gizi di daerah bencana di posko-posko maupun di desa-desa yang telah dihuni kembali oleh para pengungsi. Sebagai penghargaan prestasi kerja Salimah, masyarakat di desa Samiran Kecamatan Selo, Boyolali (5km dari puncak Merapi) adalah, permohonan yang tulus dari ibu kades kepada Salimah untuk menangani 72 posyandu yang tidak berjalan paska bencana merapi. Hal ini menunjukkan interaksi yang baik antara para motivator Salimah dengan berbagai pihak di masyarakat dalam menanggulangi permasalahan bersama.

Penulis :Nurul Hidayati,S,S. M.Ba, Ketua Umum PP Salimah

Copyright © 2009 - 2013 Salimah | Developed by Ibrahim Vatih