Home

Peran Publik Dan Sosial Perempuan Bagi Kaumnya

Selain peran domestik sebagai ibu dan istri , seorang perempuan mempunyai tugas yang tidak kalah pentingnya yaitu peran publik , dimana kiprah dan sepak terjang kewanitaannya selalu ditunggu oleh masyarakat yang selalu butuh sosok perempuan.

Namun perempuan tidak akan mampu berperan di sektor publik dan sosial dengan optimal manakala tidak mendapat dukungan, ikhlas dan sokongan dari suami khususnya dan kaum laki-laki pada umumnya ,  inilah prinsip “Tolong Menolong Dalam Islam “ sebagaimana firman Allah di Al Qur’an Surat At-Taubah: 71

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka meryuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zatat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya…”.

Ada yang Khas dari sosok perempuan yang membedakan peran publik perempuan dan laki-laki dan tidak tergantikan , di antaranya :

  1. Perempuan adalah managerial yang handal dan penuh perhatian (care); kebanyakan posisi sekretaris lebih banyak diisi oleh perempuan.
  2. Perasaan yang lebih peka terhadap suatu hal sehingga dalam memandang persoalan bisa melihat jauh ke dalam akar masalah yang sebenarnya; perasaan yang lebih mendominasinya.
  3. Multitasking kemampuan perempuan untuk menjangkau banyak hal dalam waktu yang bersamaan.

Dari beberapa hal di atas bisa diambil sedikit kesimpulan bahwa sayang sekali kalau peran publik perempuan tidak di optimalkan untuk kemajuan bangsa pada umumnya dan khususnya bagi peningkatan mutu kaumnya .

Walaupun dari sebagian kelebihan kewanitaannya itu seringkali disalahgunakan. Seperti kata ibu Nila Moeloek, presiden MDG’s Indonesia, dalam kesempatan audiensi PP Salimah dengan beliau di kantornya,“Sangat sedikit peran-peran perempuan yang ter-blow up media dari sekian banyaknya kiprah yang sebenarnya sudah dilakukan dengan nyata, kadang terkubur dengan kasus-kasus dengan perempuan sebagai aktor intelaktualnya. “

Masalah yang sekarang banyak dihadapi kaum perempuan adalah:

1. Tingkat pendidikan yg rendah.
Berdasarkan apa yang tertulis dalam Surat Presiden tertanggal 2 Oktober 2010 di Indonesia, perempuan sudah menikmati akses dan kualitas pendidikan yang lebih baik. Perbandingan jumlah perempuan dan laki-laki yang masuk sekolah dasar dan menengah adalah 93,3 persen pada tahun 1991 dan naik menjadi 97,9 persen pada kurun 2006-2007. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan berumur 7 sampai 12 tahun dalam pendidikan mencapai 97,7 persen pada tahun 2006. Namun, tingkat buta aksara di kalangan perempuan berumur di atas 15 tahun mencapai 11,61 persen dibandingkan hanya 5,44 persen di kalangan laki-laki. Angka-angka tersebut menunjukkan pada kita bahwa pendidikan perempuan di Indonesia masih memiliki masalah. Secara persentase, tingkat jumlah perempuan yang masuk sekolah tampak tinggi. Namun, sedikitnya kenaikan persentase melek aksara menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang menyelesaikan sekolah belum cukup tinggi.

2. Tingkat kemiskinan yang tinggi
Semua itu berdampak pada buruknya tingkat kematian ibu dan bayi pada saat melahirkan, sedikitnya perempuan yang mampu berkiprah untuk keluarganya, Masalah trafficking, KDRT dan lain sebagainya.

Di luar daripada berbagai profesi yang sudah diperankan perempuan sesuai bidang akademiknya seperti dokter, polisi wanita, dll ada pula peran sosial yang harus dimainkan dalam panggung kehidupannya yaitu :

1. Menjadi motivator untuk kaumnya sendiri;
Permasalahan parenting yang kompleks dengan masalah lingkungan sosial sekitar saat ini ex: pornografi, narkoba, rokok; harus disikapi dengan kemampuan sosok motivator perempuan untuk menerangkan serta menggugah kaumnya dalam memerangi permasalahan lingkungan sosial tersebut.
Dengan bertambahnya pengetahuan perempuan terhadap masalah sekitar dan motivasi yang di dapat maka bisa dibayangkan gelombang perubahan perbaikan bangsa yang dapat diciptakan oleh motivator perempuan.

2. Menjadi enterpreuneur yang melibatkan ibu rumah tangga dalam rangka menambah penghasilan rumah tangga. Selain itu juga untuk mengarahkan kebanyakan ibu rumah tangga yang banyak meluangkan waktunya untuk hal2 yang kurang berguna. Begitu banyak hasil2 kerajinan rumahan yang bisa diolah menjadi kekuatan ekonomi kemasyarakatan saat ini. Ex kekuatan bank gremen yang kebanyakan dimotori oleh perempuan.

3. Menjadi bagian dari penentu kebijakan. Masuk ke dalam lingkaran kekuasaan agar dapat menjadi sebagian dari pembuat kebijakan yang bisa lebih banyak berperan untuk masalah perempuan dan anak-anak.

Di sini bukan berarti kaum laki-laki tidak lebih tahu dari perempuan dan malah kadang-kadang mereka yang bisa lebih mendukung UU untuk kemajuan anak-anak dan perempuan. Akan tetapi urusan perempuan dan anak-anak  lebih didengar ketika disuarakan oleh perempuan itu sendiri.

Di tulis oleh : Fianti Widuri, ST,
Ketua Kelompok Kajian Salimah (KKS)

Copyright © 2009 - 2014 Salimah | Developed by Ibrahim Vatih