Menuju Mahligai Cinta (1)

by

Ada lubang di dalam hati yang tidak bisa ditutupi kecuali dengan menikah. Jika hari-hari ini canda tawa rekan kerja, perhatian sanak keluarga, dan obrolan ringan bersama sahabat tidak mampu mengusir kesepian kita, mungkin sudah waktunya memenuhi panggilan jiwa untuk berpasangan.

Bukankah Allah SWT menciptakan Hawa sebagai teman hidup Adam? Inilah fitrah yang ada di benak muda-mudi. Sebagaimana Allah SWT menanamkan kecenderungan terhadap lawan jenis di hati setiap insan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

Jauh sekali sebelum kita lahir ke dunia, Allah SWT telah menuliskan jalan hidup kita. Tinta telah kering dan pena sudah diangkat. Takdir Allah SWT pasti berjalan.

Seperti disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu , di saat manusia masih berada dalam perut ibunya, “Kemudian diperintahkan malaikat untuk menuliskan rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, kebahagiaan atau kesengsaraannya…”

Jodoh termasuk salah satu rezeki yang Allah SWT tetapkan. Kita hanya perlu berikhtiar mencari dan memasrahkan hasilnya pada Allah SWT semata.

Menuju Mahligai Cinta

Ta’aruf Sarana Mencari Jodoh

Nahas maksud hati ingin mendapat jodoh justru bertemu tukang tipu. Sebut saja gadis itu R, dia berkenalan dengan seorang pria di dunia maya. Tak butuh waktu lama R langsung jatuh hati.

Rupanya pria yang berusia 29 tahun itu tidak punya niat baik sedari awal, dia berjanji akan menikahi korban setelah mentrasfer sejumlah uang. Kecurigaan muncul, korban melapor ke polisi. Tersangka berhasil dibekuk Polres Pekalongan.

Lain kisah gadis itu dengan seorang wanita muda dari kalangan Anshar. Dia sangat beruntung karena dicarikan jodohnya oleh Rasulullah SAW. Suatu ketika Rasulullah SAW datang ke rumah menemui orang tuanya.

“Aku ingin meminang puterimu,” kata Rasulullah.

Kebahagiaan memenuhi hati mereka. Jika anaknya dinikahi Rasulullah SAW pasti kehidupannya mendapat berkah Allah SWT. Tapi ternyata jawaban Rasulullah di luar dugaan.

“Bukan untukku. Tapi untuk Julaibib,” kata Nabi.

“Namun aku harus bermusyawarah dulu dengan ibunya,” lanjutnya.

Julaibib? mendengar nama itu tersentak hati ibu sang gadis. Terbayang di benaknya Julaibib yang miskin, pendek, hitam, dan tidak menarik penampilannya.

Hampir saja sang ibu menolak pinangan yang datang untuk putrinya. Lalu dari balik kamar wanita muda itu berkata,  “Ayah, ibu, bagaimana mungkin engkau menolak pilihan Rasulullah? Bukankah Allah berfirman, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka?” jelas gadis itu. “Ayah, ibu, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan Nabi.”

Keberkahan meliputi pernikahan Julaibib. Rasulullah SAW mendoakannya, “Ya Allah, limpahkanlah kepadanya kebaikan demi kebaikan, dan jangan jadikan kehidupannya kesusahan demi kesusahan.”

Doa itu terekam dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Sejak saat itu tidak ada wanita Anshar yang mampu menyaingi kedermawanan istri Julaibib dalam berinfak.

Ada pelajaran yang bisa kita petik. Bahwa proses menuju pernikahan perlu dijaga kebersihannya dari berbagai penyimpangan yang tidak sesuai dengan aturan Islam.

Betapa pentingnya shidqun niyah (benar dalam berniat). Bahwa menikah merupakan bagian dari ibadah dan bentuk ketundukan pada Allah.

Bukan demi pujian atau gengsi. Jika wanita Anshar tersebut mementingkan nafsunya, di tidak akan mau menikah dengan Julaibib.

Begitu pula dengan shidqul amaal (benar dalam proses kerja). Usaha dalam mencari jodoh haruslah mengikuti kaidah-kaidah Ilahi yang telah mengatur adab dalam berinteraksi dengan lawan jenis.

Saat ini pacaran sudah menjadi fenomena umum yang merebak di kalangan muda-mudi muslim. Sebuah peristiwa yang sejatinya jauh dari nilai Islam. Pacaran merupakan pintu awal zina.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ”(QS. Al Isro’ [17] : 32)

Jangankan melakukan, mendekatinya saja dilarang. Menurut Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”

Ada sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh peneliti dari University of St. Andrews, Inggris. Riset berjudul “The Touch of Man Makes Women Hot” itu menunjukkan hasil bahwa ketika wanita disentuh pria, suhu tubuh wanita akan meningkat, terutama di bagian wajah dan dada. Sentuhan pria memancing gairah seks wanita.

Dalam sebuah eksperimen, peneliti membagi dua kelompok. Kelompok pertama diberi sentuhan secara tidak langsung dengan sinar probe pada lengan, telapak tangan, wajah, dan dada.

Hasilnya suhu kulit meningkat 0,1 derajat celcius. Tidak cukup signifikan. Sementara kelompok dua diberi sentuhan langsung oleh pria sebagai eksperimenter pada bagian tubuh sama, hasilnya suhu melonjak 0,3 derajat celcius, terutama saat disentuh bagian wajah dan dada.

Penelitian ini membuktikan bahwa sentuhan dari lawan jenis dapat menimbulkan rangsangan seksual. Kita bisa membayangkan kondisi orang yang sedang berpacaran saat sedang bersentuhan.

Sebagian remaja beralasan tidak ingin membeli kucing dalam karung. Bagi mereka pacaran salah satu cara mengenal calon pasangan.

Faktanya pacaran tidak menjamin seseorang benar-benar mengenal karakter calon pasangan. Saat membaca rubrik konsultasi kita mendapati beberapa kasus rumah tangga. Ada pasangan yang sudah pacaran bertahun-tahun terkejut melihat sifat pasangan yang berubah 180 derajat setelah menikah. Sangat berbeda saat sedang pacaran. Dan masih banyak contoh kasus lainnya.

Lalu bagaimana cara mengenal calon pasangan sebelum menikah? Ta’aruf jawabannya.

bersambung …