Kereta Para Shalihin

by

kereta-paraBetapa senang dan bahagia saat menemukan makna yang lebih jelas, bermutu dan menggugah semangat. Entah kenapa, makna itu ditemukan saat berlangsung rakaat-rakaat shalat yang sungguh terasa lebih dapat bermesraan dengan Yang Maha Penyayang dan Mahalembut. Bacaan yang sudah 40 tahun dibaca selama hidup ini, baru bisa dirasakan hakekat maknanya yang ternyata memang sangat indah dan menyenangkan hati. Pikiran ini melambung tinggi, mengingatkan dan membayangkan betapa kalimat itu memang bukan sembarang kalimat. Tapi tutur kalimat indah yang hadir dari Yang Maha Indah. Sehingga kalimat itu tidak pernah kehilangan makna sampai kapanpun dan betapa jalinan kasih sayang itu dibuat untuk menunjukkan lapisan rahmat Yang Maha Abadi.

Harapan yang muncul di hati, semoga hal ini bagian dari tanda-tanda kebaikan, buah petunjuk dari-Nya seiring dengan jatah usia yang semakin hari semakin berkurang. “Rabbi Habli Minash-shalihin,” do’a khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam yang selalu berharap keturunan yang shalih (Qs.Ash-Shoffat : 100).

Keshalihan selalu menjadi harapan orang tua yang shalih. Mereka begitu mendambakan pada dirinya dan juga keturunannya. Keshalihan bukan sekedar harapan laksana pepesan kosong, namun kalimat yang sarat makna dari manusia yang menghargai waktu hidup dengan perbuatan yang bermanfaat.

Assalamu’alainaa wa’alaa ‘ibaadillaahish-shoolihiin,” konon kalimat ini memang dipasangkan atas permintaan manusia terbaik dan pilihan-Nya, Muhammad Saw. Karena ia dibaca setelah membaca “Assalaamu’aaika ayyuhan Nabiyyu wa Rahmatullohi wa barakaatuh.” Terasa bahwa permintaan tersebut diinginkan oleh manusia unggulan yang sangat lihai berterimakasih terhadap sesama, telah menorehkan perasaan cinta dan sayang begitu mendalam terhadap umatnya. Ya Allah, jadikan hamba bagian dari orang-orang yang shalih itu. Karena keshalihan itulah yang akan menyatukan hati dan diri yang tidak berbekal apa-apa untuk menghadap-Mu, sekedar berharap bahwa do’a itu Engkau terima sebagai bekal di keabadian, agar Engkau sudi mengumpulkan hamba yang tak pantas memasuki surga-Mu itu, layak  mendapatkan ampunan dan keridhaan-Mu, sehingga bisa bertemu dan menyapa orang-orang shalih.

Sungguh bahagia jika bisa masuk dalam gerbong kereta orang-orang shalih itu. Karena keshalihan tidak lekang dengan waktu. Mereka senantiasa ada di setiap masa meski orang-orang jahat dan amoral mengelilingi mereka, demikian makna  pesan Rasul Saw, “akan senantiasa ada golongan yang menyeru kebaikan dari umatku disepanjang masa, maka upayakan agar kalian bersama dengan mereka.”

Bagi orang-orang shalih tidak ada kehawatiran akan kehilangan orang-orang yang selalu menumbuhkan kebahagiaan bagi mereka, meski jasad terkubur sekalipun. Karena diantara mereka sepanjang kehidupan, satu sama lain terikat dengan janji setia dan asa yang tak pernah putus. Yang hidup di masa kini merasa perlu berterima kasih terhadap yang mendahului, karena jasa kebaikan dan keshalihan merekalah bisa melampaui hidup yang terasa berat kemudian menjadi ringan karena tutur kata dan nasehat mereka. Sehingga menjadi wajar jika perasaan yang tumbuh pada generasi mendatang seakan memiliki tali ikatan hati yang sangat lekat kepada pendahulu kami, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Qs.Al Hasyr : 10).

Diantara cara Yang Maha Melindungi memberikan multi perlindungan  yang lekat selamanya. Mereka saling menaruh hati dan simpati, menjalin tali kasih dan saling menyemangati antara mereka yang telah berlalu meski tak pernah berjumpa. Mungkin sekedar mengetahui nama mereka, meski belum pernah bersua. Namun berbekal keimanan dan amal shalih, tetap mempersembahkan yang terbaik, bersemangat dan terus berharap masuk dalam catatan orang-orang shalih dan kelak bisa duduk berdampingan di satu gerbong kereta bersama mereka, seperti yang sudah dijanjikan oleh Yang Maha Kuasa dan difirmankan dalam ayat-Nya yang ke-21 surat At-Tur, “dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Siti Faizah

Ketua Umum PP Salimah