Belajar dari Para Tokoh yang membentuk Musa AS

by
Saat Firaun menjadi pemimpin yang sangat zalim, Allah memerintahkan Nabi Musa as langsung berbicara kepada Firaun. Namum Nabi Musa as tidak sanggup berbicara sendirian kepada Firaun karena bicaranya tidak fasih. Saat kecil Nabi Musa pernah memakan bara api sewaktu diuji oleh Firaun. Nabi Musa diperintahkan memilih antara makanan atau bara api untuk mengetahui apakah bayi Musa berbahaya atau tidak. Dengan tuntunan Jibril, Nabi Musa memilih dan memakan bara api sehingga selamat dari pembunuhan Firaun.
Karena merasa tidak fasih, saat hendak berbicara dengan Firaun, Nabi Musa berdoa kepada Allah swt agar Harun menjadi juru bicara Nabi Musa as. “Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku].” (QS. Thoha: 25-28).
 Di balik sosok hebat Nabi Musa as ada peran orang-orang di sekelilingnya, yang membentuk  karakter Nabi Musa as. Kisah dan tokoh-tokoh dalam kehidupan zaman Nabi Musa as akan terus hadir sepanjang masa di zaman berbeda dalam bentuk yang sama. Hal ini dikisahkan dalam al-Qur’an dan perlu kita ambil hikmahnya sebagai pelajaran.
 Diantatanya tokoh-tokoh antagonis semisal: Firaun (penguasa zalim), Haman (penjilat penguasa), Samiri (provokator), Qarun (bangsawan cinta dunia), Bani Israil (yahudi, nasrani, hawariyun), kaum Qibti (provokator eksternal dan informan). Kisah ini termaktub di dalam Al-Qur’an, QS. 28:15 / 28:20.
 Sewaktu Bani Israil meminta bertemu Allah, maka Nabi Musa as bersama 12 pemimpin Bani Israil naik ke Gunung Sinai sementara Bani Israil menunggu di Padang Pasir Tiih. Saat Allah swt menampakkan diri maka Gunung Sinai bersujud pada Allah swt dan Nabi Musa beserta pemimpin Bani Israil terjatuh meninggal dunia. Allah swt menghidupkan mereka kembali sebagai tanda-tanda kekuasaannya. Namun saat mereka kembali kepada kaumnya di Padang Pasir Tiih, seorang Samiri (provokator dari tubuh Bani Israil sendiri) menyihir tanah bekas Jibril berpijak yang dicampur dengan logam menjadi anak sapi betina untuk disembah sebagai Tuhan. Samiri ini akan selalu ada untuk menghancurkan akidah kaum muslimin.
 Kemudian tipe Qarun, pencinta harta dan dunia juga akan selalu ada dimana-mana di setiap masa. Selain tokoh-tokoh antagonis, ada tokoh protagonis yang dihadirkan Allah swt untuk mengalahkan Firaun, antara lain: Nabi Musa as (QS.28:29-33), Nabi Harun as (pendukung dan jubir) -QS.20:25-35, Nabi Syuaib as (mertua dan guru sebelum Musa menjadi Nabi) – QS.28:22-25, Nabi Khidr as (guru setelah Musa menjadi Nabi) – QS. 18:65, pemuda asisten (QS. 18:60-63), penyihir (QS.20:70).
 Nabi Musa as berguru dengan Nabi Syuaib as selama 10 tahun. Ketika Musa lari dari Mesir sebelum menjadi Nabi, beliau bertemu dengan 2 putri Nabi Syuaib dan ditawari menikah dengan salah satu putrinya dengan mahar 8 tahun bekerja dan belajar dan tambahan 2 tahun dianggap hibah/seserahannya.
Setelah menjadi nabi, Nabi Musa as merasa paling sabar dan paling berilmu dalam menghadapi Bani Israil sehingga diperintah Allah swt berguru pada Nabi Khidr as. Saat itu pemuda yang menjadi asisten Nabi Musa as selalu mengikuti dan membantu membawa perlengkapan dakwah nabi Musa as. Dalam surat al Kahfi dijelaskan bahwa ikan yang dimakan separuh oleh Nabi Musa as tiba-tiba hidup dan lompat di perbatasan Sungai Nil dan Laut Tengah. Seharusnya fenomena ini dikabarkan oleh asisten Nabi Musa as tapi syaitan membuatnya lengah.
 Kemudian tokoh penyihir merupakan kelompok yang objektif dalam melihat kebenaran. Sewaktu ular-ular penyihir menyerang Nabi Musa as dan tongkat Nabi Musa as dilemparkan menjadi ular besar yang memakan ular-ular penyihir, maka penyihir-penyihir itu menyatakan beriman kepada Tuhan Nabi Musa dan Nabi Harun. Hal ini menyebabkan para penyihir disalib dan dibakar oleh Firaun. Inilah perbedaan orang yang bisa melihat kebenaran dengan orang yg benar-benar zalim sehingga tidak bisa melihat kebenaran.
 Ada bagian menarik dalam kisah Nabi Musa, yaitu kontribusi wanita dalam membentuk karakter Nabi Musa as: ibu kandung, kakak kandung, ibu asuh, dan putri Syuaib.
 Ibu kandung Nabi Musa as memiliki kekuatan dan keyakinan pada Allah swt. Melalui mimpi diberitahu bahwa bayi Musa akan diselamatkan dan dikembalikan oleh Allah swt. Walau sudah dijamin Allah swt, ibu kandung Nabi Musa as tetap berkontribusi menyelamatkan Musa. Dia menyiapkan peti terbaik yg aman dan nyaman saat Musa dihanyutkan di sungai nil. Selain itu, kakak kandung Musa diminta mengikuti petinya dengan diam-diam. Kakak kandung Musa juga sangat cerdas dalam mengikuti peti bayi Musa serta menjadi informan bagi ibu kandung Musa saat peti Musa ditemukan dan diadakan sayembara sehingga kemudian Musa dikembalikan pada ibunya.
 Musa kecil diasuh istri Firaun, Asiyah, dia merayu suaminya agar tidak membunuh Musa yang dikatakan dapat menjadi quratta a’yun. Musa kemudian tinggal di istana, ibu kandungnya mengajarkan tentang akidah dan akhlak sementara ibu asuhnya mengajarkan cara menjadi negarawan.
Beranjak dewasa Nabi Musa bertemu dua putri Syuaib, mereka bertemu tetapi tidak bercampur baur, bersikap malu dan sopan. Putri Nabi Syuaib juga merupakan informan kebaikan bagi ayahnya, menyampaikan potensi kebaikan Musa kepada ayahnya sehingga ayahnya yakin Musa adalah lelaki baik dan ditawarkan menikah dengan salah satu putrinya.
 Kita bisa meneladani tokoh-tokoh protagonis, dan mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh antagonis dalam kisah Nabi Musa. Tanda-tanda munculnya Dajjal telah banyak terlihat-salah satunya kekacauan di megeri syam – suriah dan palestina-. Namun, akhir zaman mungkin tidak datang pada masa kita tetapi bisa jadi pada masa anak-anak kita. Untuk itu penting mempersiapkan anak-anak kita supaya bisa menjadi ‘Musa’ kontemporer yang berani menyampaikan kebenaran. Kita sebagai ibu juga harus berkontribusi dan berperan semaksimal mungkin.
 Ayo, jangan lewatkan dalam setiap proyek kebaikan yang Allah SWT desain dan persiapkan, harus ada peran dan kontribusi kita walau sekecil apapun.
Oleh: Ustazah Nurhamidah, Lc