Ibu Bahagia, Keluarga Berdaya

by

Penulis: Ita Maulidha, PD Salimah Lebak, Banten

Pada saat waktu seperti berhenti berputar dan aktivitas manusia terpusat di rumah, tidak sedikit yang gagap dan sulit beradaptasi dengan orang-orang terdekat dalam keluarga. Ibunya kesal dengan anak yang susah diatur, anak marah kepada ibu yang sering mengomel, suami terganggu dengan keributan kecil anggota keluarga, dan rumah menjadi tempat yang tidak menyenangkan sehingga masing-masing menghindar berinteraksi fisik dan tidak saling berbicara serta akhirnya asyik dengan gawai masing-masing.

Saya ingin berbagi tips menjadikan diri kita sebagai ibu bahagia di masa pandemi. Mengapa ibu? Karena ibu adalah pusat kebahagiaan itu sendiri di dalam rumah; dia akan mengalirkan kebahagiaan itu kepada seluruh anggota keluarga sehingga keluarga ‘tahan banting’ dapat terwujud.

Pertama, bismillah ucapkan asma-Nya dan niatkan semua ucap dan laku kita lillah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, bahwa setiap amalan tergantung kepada niatnya. Niat yang buruk walaupun amalan terlihat baik pastilah bernilai buruk dan keliru. Tentu saja hal ini tidak berbuah pahala di hadapan Allah SWT. Perbaharui terus niat ini secara konsisten di sepertiga malam atau di awal pagi karena energi sesungguhnya bersumber dari-Nya. Ungkapkan maksud, harapan dan aktivitas yang akan kita kerjakan di hari itu. Curhatkan kelemahan dan permasalahan yang ada, mintalah kekuatan dan kemampuan dari-Nya.

Kedua, berbagi peran dan tugas. Susunlah rencana-rencana aktivitas seluruh anggota keluarga dan saling mengingatkan. Bicarakan secara terbuka untuk melakukan aktivitas tertentu dan menjalankan peran serta tugas masing-masing dalam keluarga lalu sepakati. Rencana aktivitas adalah terdiri dari target pribadi dan pekerjaan rumah. Bukan hanya anak yang dituntut memiliki aktivitas tertentu, orangtuapun harus mengungkapkannya. Misalnya, ketika anak merencanakan aktivitas menghapal ayat-ayat Al-Qur’an, maka orangtuapun hendaknya memiliki rencana aktivitas tersebut. Atau misalnya, ketika anak bertugas menyapu rumah, maka orangtua menyapu halaman. Orangtua harus tetap menjadi qudwah dalam pembagian peran dan tugas serta beraktivitas lainnya.

Ketiga, saling memahami dan menutupi kekurangan. Seluruh anggota keluarga terlebih anak-anak masing memiliki karater yang berbeda dan kesenangan yang bermacam-macam. Untuk itu, masing-masing anggota keluarga harus saling memahami dan menutupi kekurangan. Setiap perbedaaan dan kekurangan tidaklah harus menjadi perdebatan dan menjadi hal yang membuat perselisihan. Tidak ada manusia yang sempurna dan tidak ada pula kehidupan keluarga yang pasti paling bahagia atau paling sempurna. Semua yang ada di dunia ini pasti memiliki kekurangan atau cacatnya, karena hanya Allah lah yang Maha Sempurna. Untuk itu, satu-satunya jalan untuk dapat bahagia adalah saling memahami dan menutupi kekurangan dengan kelebihan yang ada. Ayah dan ibu memiliki peran yang paling strategis dalam memahamkan proses saling memahami dan menutupi kekurangan dalam keluarga.

Inilah tiga tips agar keluarga mendapatkan kebahagiaan. Tentunya membutuhkan proses dan pembelajaran hingga tercapainya keluarga bahagia dan berdaya sesuai harapan terutama di masa pandemi ini. Komunikasi dan saling pengertian merupakan kunci dari kebersamaan dan kebahagiaan keluarga terutama saat seluruh anggota keluarga berkumpul di rumah dalam jangka waktu yang lama.

Kesatuan dalam keluarga tentu sangat diperlukan dan harus disiapkan sehingga tercipta ketahanan dalam keluarga. Kesatuan ini berkaitan dengan bagaimana arah dan dengan apa keluarga ini akan dijalani bersama. Tips di atas merupakan hikmah yang akan membuat keluarga kita menjadi satu kesatuan yang utuh karena dibangun oleh pondasi iman dan aktivitas yang disepakati. Selamat Menjadi Ibu Bahagia, Keluarga Berdaya…