Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi

by

Penulis:Pengurus PC Salimah Taman-Sidoarjo
dr.Nadia Ayukrisna
Zufra Inayah, S.KM.,M.Kes
Sholikha Oktavi Khalifaturofi’ah, SE.,MM

Pengertian Ketahanan Keluarga

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat dari perkawinan yang sah yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan Anaknya, atau ayah dan Anaknya, atau ibu dan – 3 – Anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. Keluarga adalah elemen penting terutama dalam menghadapi pandemi COVID-19. Bagi Salimah, menjaga ketahanan keluarga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan terhadap NKRI. Karena keluarga merupakan komponen terkecil masyarakat yang melahirkan generasi selanjutnya dan juga menentukan ketahanan bangsa.

Ketahanan Keluarga adalah kondisi dinamik keluarga dalam mengelola sumber daya fisik maupun non fisik dan mengelola masalah yang dihadapi, untuk mencapai tujuan yaitu keluarga berkualitas dan tangguh sebagai pondasi utama dalam mewujudkan Ketahanan Nasional. Ketahanan keluarga adalah kemampuan suatu keluarga dalam mengelola keluarganya pada berbagai aspek. Pada UU RI No.10 tahun 1992 disebutkan bahwa ketahanan keluarga adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta berkemampuan fisik-materiil dan psikis-mental spiritual agar dapat hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. Artinya, sebuah keluarga harus ulet dan tangguh, mampu dalam berbagai aspek, serta dapat hidup mandiri dan berkembang agar sejahtera lahir dan batin.

Dalam QS.Ali Imran : 14 dijelaskan bahwa keluarga adalah kesenangan untuk hidup di dunia.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS Ali ‘Imran:14).

Pentingnya ketahanan keluarga

Pandemi covid saat ini jelas berdampak pada ketahanan keluarga di Indonesia. Perubahan yang harus dialami sekitar 270 juta penduduk dan 80.844.126 keluarga Indonesia (estimasi BPS 2020) belum ada kepastian kapan akan berakhir. Adanya pandemic mengharuskan keluarga menghadapi masa transisi dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ke kehidupan new normal dan berharap segera masuk ke kehidupan normal kembali.

Ketahanan keluarga sangat penting untuk ditingkatkan mengingat keluarga adalah pondasi dan lingkungan utama seseorang tinggal. Apalagi dalam masa pandemic ini, kebersamaan keluarga cenderung meningkat. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2019 mencatat 96,32% kepala rumah tangga tinggal bersama keluarganya di satu rumah, naik jika dibandingkan dengan 2015 (95,28%). Akan tetapi, masalah dalam keluarga juga ikut naik. keluarga saat ini dihadapkan pada masalah seperti disorientasi fungsi keluarga, pengalihan pengasuhan anak kepada pihak lain, hambatan interaksi dan komunikasi, serta kegagalan memenuhi hak-hak anak. Akibatnya, sangat disayangkan bahwa terjadi peningkatan kasus perceraian. Di beberapa negara bahkan terdapat peningkatan kasus KDRT, seperti di Australia, Italia, dan Amerika Serikat serta Indonesia yang mengalami peningkatan 50% dari tahun 2019. Hal ini karena adanya pengelolaan ketahanan keluarga yang kurang sehingga adanya penurunan ekonomi dalam masa pandemic membawa dampak pada keharmonisan keluarga.

Kebersamaan dalam keluarga yang meningkat membawa dampak pada tidak adanya variasi kegiatan, bertemu terus menerus, sehingga timbul jenuh dan stress dalam keluarga. Pada akhirnya masing-masing sibuk sendiri dengan perangkat teknologinya. Oleh karena itu, benteng pertahanan keluarga saat pandemi haruslah kuat. Ketahanan keluarga akan melahirkan generasi yang Tangguh.

Aspek Ketahanan Keluarga

Keluarga yang memiliki ketahanan yang baik, ketika mengalami situasi atau permasalahan, maka akan cepat menyesuaikan dengan keadaan. Menurut Cahyadi Takariawan, ada 7 cara membangun ketahanan keluarga :

  1. Mengatur emosi
  2. Mengendalikan keinginan, serta tekanan dalam diri
  3. Bersikap optimis
  4. Mampu mengidentifikasi masalah
  5. Menempatkan diri pada posisi orang lain (empati)
  6. Menyugesti diri dan keluarga bahwa kita akan mampu keluar dari krisis
  7. Membentuk suatu hubungan positif dengan orang lain.

Salah satu bentuk sederhana ketahanan keluarga berdasarkan aspek kesehatan adalah penerapan protokol kesehatan dalam keluarga seperti 3M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak / menghindari kerumunan). Dengan komitmen 3M yang kuat di keluarga akan memutuskan rantai penyebaran dan menurunkan angka kejadian covid 19. Sedangkan salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan keluarga menurut aspek ekonomi adalah tidak adanya rasa saling menonjol antara suami maupun istri. Semuanya harus saling mendukung karena masing-masing pihak mempunyai peran yang sangat besar dalam ketahanan keluarga. Pandemi membuat adanya penurunan ekonomi karena hampir semua aspek kegiatan dilakukan melalui online. Oleh karena itu, menurut BKKBN (2017) terdapat empat Langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga yaitu mampu mengatur keuangan keluarga, memiliki pola hidup sederhana, memiliki sumber penghasilan tambahan, dan memiliki beberapa aset keluarga.

Islam juga mengajarkan nilai komitmen keluarga yang tinggi melalui sikap saling menjaga dan melindungi.

أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS. At-Tahrim : 6)

InsyaAllah dengan pandemi covid ini, semakin terbuka kesempatan bagi keluarga untuk menciptakan ketahanan keluarga dalam mewujudkan keluarga berkualitas seperti optimalisasi waktu luang (WFH), intensitas komunikasi dengan anggota keluarga dan peningkatan ibadah kita kepada Allah SWT.