Memperkokoh Ketahanan Keluarga sebagai Solusi Permasalahan Bangsa dan Peningkatan Kualitas SDM

by

Penulis: Rimalia, Ketua PD Salimah Banjarmasin

Saya bekerja di bidang perlindungan perempuan dan anak di Dinas PPPA kota Banjarmasin.  Salah satu tugas utama saya adalah melakukan pencegahan kekerasan, memberikan perlindungan dan menangani berbagai kasus kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Saya pun aktif menjadi konselor keluarga dan menjadi pembicara parenting dan pernikahan.  Hal ini  membuat saya hampir setiap hari menerima banyak curahan hati dari masyarakat terutama yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga yang acapkali menanyakan solusi dari berbagai permasalahan hidupnya, terutama terkait pengasuhan anak dan kehidupan pernikahan. Disini, saya  semakin menyelami dan sadar bahwa begitu banyak masalah yang terjadi saat keluarga tidak memiliki ketahanan dan keutuhan.  Terutama ketika ayah dan ibunya tak mampu melakukan pengasuhan dengan baik serta menegakkan peran dan fungsinya. 

Masalah semakin intens terjadi karena dampak perkembangan teknologi informasi; akibat hadirnya dan penggunaan gawai yang tidak bijaksana membuat komunikasi malah semakin menjauh antar anggota keluarga, munculnya sikap “autis” yang menumpulkan empati dan degradasi moral akibat berbagai masalah, kenakalan remaja, perselingkuhan, fenomena seks bebas, penyalahgunaan obat, LGBT dan sebagainya

Selain meningkatkan kualitas para ibu,  saya berusaha intensif menyadarkan peran para ayah.  Mengasuh dan mendidik anak bukan hanya monopoli ibu. Kebanyakan pola asuh dan pendidikan saat ini masih didominasi oleh sosok ibu. Saat Anak berusia sampai dengan 2 tahun pengasuhan pada umumnya berfokus pada ibu. Sekolah di pre-school pun didominasi oleh guru perempuan hingga Usia SD.  Anak terkondisi sejak awal kekurangan figur ayah.  Memang ayah memiliki tanggungjawab yang sangat penting sebagai kepala keluarga, sehingga memerlukan fokus yang tinggi untuk mencari nafkah. Tetapi yang perlu disadari adalah untuk menjadikan anak yang cerdas dan berkarakter memerlukan sinergi cinta ayah dan bunda.  Anak yang dibesarkan oleh ayah yang sering mengajaknya bicara, memeluk, mendampingi, dan mendukung potensi anak cenderung tidak mengalami depresi di masa dewasanya.

Kekurangan cinta dan kasih sayang ayah berdampak negatif berkepanjangan pada anak. Bahkan, anak yang sudah dewasa masih merasakan dampak atas kurangnya peran ayah di dalam hidupnya. Miskinnya cinta ayah,  membuat remaja wanita terlalu berlebihan dalam menjalin hubungan terhadap lawan jenisnya. Mereka pun tumbuh menjadi pribadi yang posesif kepada orang yang memberinya perhatian.  Hal ini saya dapatkan pada beberapa kasus kekerasan pada perempuan yang saya tangani. Saya pernah berhadapan dengan seorang remaja wanita yang  merindukan sosok figur ayah, karena ayah dan ibunya bercerai saat dia balita.  Krisis figur ayah membuat remaja putri yang miskin cinta tersebut mudah terbujuk rayuan laki-laki paruh baya dan dalam waktu singkat berkenan menyerahkan kehormatannya.

Pada anak lelaki, ketiadaan ayah membuatnya, mengalami disorientasi di masa remaja. Mereka sering  mempunyai emosi negative, yang akan berdampak pada sikapnya yang kurang bisa berempati pada orang lain. Hasil penelitian dari Konferensi Keluarga Indonesia, memperlihatkan fakta bahwa remaja yang bermasalah kebanyakan berasal dari keluarga tanpa ayah: 85% remaja masuk penjara, 63% bunuh diri, 80% pelaku pemerkosaan, dan 85% penyimpangan tingkah laku. Sedangkan Yayasan Peduli Sahabat mendapatkan bahwa dari sekian banyak kasus penyimpangan seksual terutama LGBT, jika ditelusuri lebih jauh pada diri pelaku maupun korban. Sekitar 60% ada hubungannya dengan rasa haus akan figur ayah di masa kecil.  Bahkan hasil penelitian lainnya menyebutkan 100% gay adalah disebabkan kehilangan figur ayah. Entah karena cara mendidik yang keras, ayah yang terlalu sibuk bekerja, atau justru karena pola asuh yang overprotektif. 

Saya rutin diminta BNN Propinsi maupun Kabupaten/Kota untuk melakukan family therapy dan rehabilitasi kepada para penyalahguna narkoba. Saya sering bertanya kepada anak-anak bermasalah tersebut bagaimana hubungannya dengan kedua orangtua terutama ayahnya.  Maka jawaban mereka selain memperlihatkan adanya pengasuhan yang salah juga minimnya peran ayah.  Sehingga  ikut membenarkan hasil dari berbagai penelitian diatas.

Terkait kekerasan seksual, merupakan salah satu jenis kekerasan yang paling banyak menyisakan kegetiran. Pelakunyapun bahkan sudah menyasar anak remaja awal.  Suatu hari saya berkunjung ke sebuah Lembaga Pembinaan Khusus Anak. Saya menyaksikan banyak anak berusia 13 sampai dengan 18 tahun harus mendekam ditempat yang pengap.  Sungguh menyedihkan, ternyata  kasus paling banyak menjerat mereka adalah kekerasan seksual. Angkanya sungguh fantastis, hampir mencapai 60% dari keseluruhan kasus yang ada.   Saya bisa membayangkan bagaimana marah dan kecewanya para korban dan keluarganya dan berharap sang pelaku dihukum seberat-beratnya.  Tetapi saat saya menemui para remaja yang tampak lugu tersebut dan melapangkan mata saya menikmati berbagai fasilitas yang sangat jauh dari kenyamanan. Jiwa keibuan saya justru menjadi tersentuh. Kemurkaan saya sirna. Kemana para orangtua narapidana remaja tersebut? Apa yang telah mereka tanamkan dan pola asuh seperti apa yang telah menjadikan para remaja tersebut mampu melakukan berbagai kekerasan yang sangat mengerikan, membunuh, merampok, bahkan memperkosa? Jika seorang anak mampu melakukan kemaksiatan tanpa ragu dan malu, tanpa memikirkan bagaimana perasaan kedua orangtuanya.  Maka dipastikan cinta orangtua begitu minim dijiwa anak-anak tersebut.

Jika sudah demikian keadaannya, dari mana kita harus memulai perbaikan? Masihkah kita mampu berharap dengan anak yang sudah berlangganan perbuatan maksiat?  Mampukah kita bersahabat dengan para remaja yang sudah sedemikian aktif otak reptilnya? Mampukah kita menautkan sepucuk asa pada anak pecandu zat adiktif? Masihkah kita mampu merengkuh anak yang telah melakukan berbagai kenakalan mulai dari kenakalan ringan sampai dengan kenakalan ekstrem dan kemudian mengembalikan fitrahnya sebagai pemuda harapan bangsa?

Disinilah peran kedua orangtua dalam menghadirkan cinta, memperbaiki pengasuhan dan terus berikhtiar menyempurnakan ketahanan keluarganya.  Sesungguhnya ada perbedaan yang nyata antara struktur otak antara orang yang terbiasa melakukan kebaikan dengan kemaksiatan.  Saat otak neokorteks anak tumbuh dengan baik karena pola asuh yang benar dan mendapatkan pengalaman sebagai keluarga yang kokoh, maka kondisi ideal inilah yang akan meningkatkan daya tahan terbesar bagi setiap anak. Sehingga mereka mampu mengatakan “No” pada setiap tawaran maksiat dan sukses menjalani kehidupan. Sukses dalam arti sesungguhnya. Menjadi versi terbaik dari setiap peran yang dijalani di muka bumi ini.  Sehingga lahirlah tokoh–tokoh yang akan menguatkan peradaban bangsa ini. Menjadi pilar yang kokoh dari bangsa.

Keluarga berkualitas yang memiliki unsur ketahanan dan keutuhanlah yang akan mampu menghasilkan generasi yang berkualitas.  Kualitas keluarga akan menentukan kualitas masyarakat. Pada akhirnya kualitas masyarakat akan menentukan kualitas suatu Negara.  Peningkatan kualitas keluarga adalah upaya yang paling jitu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di dalam keluarga, dan lebih jauh berbagai permasalahan negeri ini, yang bermula dari keroposnya ketahanan keluarga.