Pintu Ketahanan Keluarga itu Bernama Ibu

by

Penulis: Farandiza, PC Salimah Bojonggede

“Jika ingin merusak sebuah keluarga, maka rusaklah terlebih dahulu Ibunya. Beri Ia perasaan lelah. Jika sudah lelah ambil rasa syukurnya. Biarkan Ia merasa hidupnya habis untuk mengurus keluarga. Setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah Ia tidak percaya diri ketika melihat dan membandingkan kebahagiaan orang lain dengan miliknya. Jika itu sudah terjadi, ambil juga rasa sabarnya. Buat Ia merasa ada banyak hal berantakan dan masalah yang terjadi dalam rumahnya, yang timbul dari anak-anak dan suaminya. Goda lisannya untuk berkata kasar, hingga anak-anaknya mencontoh dan tidak menghargainya lagi. Hingga bertambahlah kemarahan demi kemarahan dan hilanglah aura surga dalam rumah. Dan perlahan akan kau dapati rumah itu rusak, dari pintu seorang Ibu.”

Begitulah kurang lebih ilustrasi percakapan antara Iblis dengan Syaitan. Sungguh mereka adalah musuh nyata bagi kita umat manusia. Maka perkokohlah benteng-benteng keimanan untuk mengagalkan misi penghancuran itu, salah satunya melalui ketahanan keluarga. Marilah kita mulai pembahasan ini dari mulai dasar.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat, terdiri dari Ayah, Ibu serta anak-anak. Meskipun menjadi lembaga sosial terkecil, namun keluarga turut menjadi modal dasar dan utama yang menunjang pembangunan nasional. Dikarenakan melalui keluargalah, pendidikan pertama kali diperkenalkan. Banyak peranan yang dijalankan oleh keluarga, baik pemenuhan kebutuhan lahiriah maupun batiniah.

Maka keluarga dapat dikatakan harmonis, bila komponen di dalamnya dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan optimal. Tersebab tiap anggota keluarga pada hakikatnya saling ketergantungan untuk bisa mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu idealnya membangun keluarga jangan hanya sebatas menjadikannya sakinah, mawaddah warahmah, tapi harus bisa bahu-membahu agar dapat sehidup – sesurga. Bahkan anjuran ini sudah dituliskan dalam ayat Al Quran yakni QS At Tahrim ayat 6 yang sebagian artinya berbunyi, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka…”

Seorang ayah / suami memang menyandang status sebagai pemimpin / kepala rumah tangga. Namun dalam segi pengelolaan urusan rumah, seorang ibu / istrilah yang mengemban tugas dan peran krusial. Karena sejatinya ada wanita hebat di belakang pria yang sukses, pun ada ibu yang hebat dibalik keberhasilan seorang anak. Ingat kembali dalil Al Ummu Madrasatul Ula, yang artinya Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak.

Tak heran isu-isu mengenai ketahanan keluarga akan lebih banyak menyoroti dari sisi perempuan. Aura seorang ibu / istri ibarat nyawa bagi sebuah rumah. Contoh sederhana saja, jika seorang Ibu / istri sakit, maka seisi rumah merasakan dampaknya. Ayah / suami terabaikan, anak-anak terlantar, keadaan rumah pun bisa jadi ikut berantakan. Maka tak sedikit Ibu / istri yang tak bahagia menjadi awal rapuhnya ketahanan keluarga.

Ketidakharmonisan, saling lepas tanggung jawab, miscommunication, KDRT hingga berujung perceraian, menjadi faktor pemicunya. Disamping ancaman faktor eksternal seperti kemiskinan, kurang terjaminnya akses pendidikan dan kesehatan, lunturnya integrasi sosial, hingga yang tengah menjadi momok saat ini, yaitu pandemi Covid 19. Disamping dampak positif yaitu berkembangnya ilmu pengetahuan dari segi riset dan teknologi serta adaptasi kebiasaan baru yang positif, ternyata pandemi ini punya dampak negatif yang jauh lebih besar kita rasakan.

Di dalam UU Tentang Ketahanan Keluarga Pasal 5 ayat 2, dituliskan mengenai 4 komponen ketahanan keluarga, yakni ketahanan mental-spiritual, ketahanan fisik-ekonomi, ketahanan sosial (berkaitan dengan komunikasi dan komitmen) serta ketahanan psikologis (berkaitan dengan pengelolaan emosi). Keempat pilar ini nyatanya di masa pandemi Covid 19 mulai tergerus sedikit demi sedikit. Itulah mengapa isu ketahanan keluarga menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Ketika anak-anak mulai terbatas untuk bersekolah, sulitnya beribadah maksimal, ancaman pengangguran, maraknya perceraian, rentannya kesehatan mental hingga kematian mulai menyambangi teras depan rumah kita. Lantas langkah apa yang harus kita ambil ?

Modal pertama dan utama yaitu tentu saja perdalam ilmu. Anugerah sempurna Alloh berupa akal pikiran haruslah diarahkan dengan ilmu, agar selaras setiap pikiran dan tindakan kita untuk tetap di lajur yang benar, apapun kondisinya. Terlebih seorang perempuan, sang pengukir peradaban. Apa yang bisa diharapkan kelak dari seorang Ibu yang kurang ilmu? Melihat urgensi peran Ibu dalam keluarga, maka para perempuan negeri kini mulai banyak membentuk komunitas hingga organisasi pendampingan dan pemberdayaan wanita, baik dari segi ilmu pemahaman hingga aplikasinya.

Namun janganlah kita menutup mata dari paham liberalisme yang menyusup halus ke dalam pergerakan mulia ini. Isu tentang kesetaraan gender meski bukan hal baru namun eksistensinya masih − bahkan makin tinggi saat ini. Tujuan yang awalnya mulia menjadi bias dan para perempuan negeri kini mulai meninggalkan fitrahnya, sebagai Ibu juga istri. Kita juga tak bisa menampik bahwa tak sedikit keberhasilan peran para perempuan di ranah publik, tapi yang kita harapkan adalah jangan sampai peluang ini justru malah menerabas kodrat perempuan itu sendiri.

Peran pengasuhan anak misalnya, banyak Ibu yang memilih mengalihbebankan tugas ini pada orangtuanya bahkan babysitter. Bagaimana mungkin para perempuan ini rela melepas begitu saja jalan jihadnya pada oranglain ? Membantu suami atau investasi masa depan anak kan tidak harus bekerja bagai kuda, hingga hak anak terkesampingkan. Sulit memang berpikiran idealis, terlebih dimasa sulit seperti saat ini. Tapi sulit bukan berarti tak bisa. Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma. Meski belum banyak, namun ada organisasi yang mendukung penuh pendampingan dan pemberdayaan perempuan,untuk menjalankan fungsi dan peran yang sesuai dengan kodratnya sebagai muslimah.

Salimah (Persaudaraan Muslimah) bukan lagi organisasi pendatang baru. Di usianya yang sudah hampir menyentuh angka 21 tahun, kini telah tersebar di 33 provinsi, 346 kota/kabupaten, 1.183 kecamatan dan 1 perwakilan luar negeri di Taiwan. Dengan mottonya peduli perempuan, anak dan keluarga Indonesia, Salimah hadir menjadi support system dalam upaya penyelesaian berbagai problematika berkaitan dengan perempuan. Program-program unggulannya bervariasi dan menjangkau perempuan dari berbagai kalangan usia, dalam rangka peningkatan ilmu keIslaman, memberdayakan muslimah, perlindungan anak-anak serta memperkokoh fungsi keluarga.

Organisasi layaknya Salimah ini diharapkan dapat menjadi angin segar bagi keluarga-keluarga Indonesia, di tengah ancaman goyahnya ketahanan keluarga. Karena bersama Salimah para perempuan didik serta dibina untuk menjadi pribadi yang berwawasan, melek agama, terampil, produktif, peduli lingkungan, kuat segi akhlak, fisik juga mental, bermanfaat untuk sesama dan tentunya menjadi sebaik-baiknya perhiasan yakni wanita shalihah yang menjaga kehormatan diri dan keluarganya. InsyaAlloh.

Salimah juga gencar mengangkat isu-isu tersebut, karena ketahanan keluarga tak hanya harus diupayakan mandiri namun juga perlu difasilitasi pemerintah. Hal ini disebabkan ketahanan keluarga adalah tolak ukur ketahanan nasional, dan ketahanan keluarga merupakan fondasi ketahanan nasional. Semoga Alloh mempermudah langkah kita menuju perubahan yang lebih baik. Aamiin Ya Rabbal Alamin.