Mewujudkan Keluarga yang Kokoh

by

Penulis: Hindun Setiawati, PC Salimah Rancaekek

Keluarga dalam Islam merupakan aturan Allah, petunjuk Rasulullah dan sebuah perilaku manusiawi. Berkeluarga merupakan ibadah terlengkap dan terlama yang memerlukan perhatian dan keilmuan yang berkesinambungan juga energi yang besar.

Sebuah keluarga adalah miniatur sebuah bangsa. Kuat dan kokohnya satu bangsa bersumber dari keluarga yang kokoh. Kekokohan ini bersumber pada berfungsinya fungsi keluarga diantaranya fungsi agama, pendidikan, sosial, ekonomi dan keturunan.

Beberapa persoalan keluarga yang muncul karena dua hal besar yaitu:

 1. Hubungan suami-istri yang tidak baik dengan penyebab:

– Ekonomi

Penyebab ini sering menjadi serius  apabila keuangan keluarga yang stabil tiba-tiba terjadi krisis keuangan. Solusinya hanya dua, berhemat dan atau mencari pendapatan baru

– Emosi

Penyebab kedua ini perlu diperbaiki dari awal pernikahan agar hubungan baik. Namun apabila sudah terlanjut terjadi pada pasangan maka masing2 saling mengingatkan dan bersabar.

– Perselingkuhan atau orang ketiga

Ada terjadi dalam keluarga keretakan karena orang ketiga yang merupakan faktor luar. Sebaiknya pasangan berkomunikasi dan berterus terang kalau memang poligami itu jadi solusi terbaik maka tidak salah mengambil solusi ini tetapi kalo tidak maka secepatnya meninggalkan orang ketiga ini dan meminta maaf sunggung-sungguh kepada pasangan.

– Belum diberi keturunan

Penyebab keempat ini bukan hal  tepat untuk jadi masalah tetapi  kebanyakan terjadi dimasyarakat solusinya berikhtiar dengan pengobatan media atau non medis dan berdo’a tetapi kalau belum juga hadir buah hati bisa dengan cara menyayangi anak asuh dari keluarga atau dari panti asuhan

2. Penyebab dari anak

Keberadaan anak yang bermasalah berdampak pada kekokohan keluarga. Bermula dari salah asuhan atau penggerusan karakter dari efek dari media sosial, semakin tidak mudah mendidik anak-anak.

Untuk itu perlu ilmu yang cukup dan keteladanan yang baik dari orang tua dalam hal ini dengan mencontoh dari Rosul kita, nabi Muhammad SAW tentang kasih sayangnya kepada anak kecil dengan memperlakukan dengan baik,  juga pelajaran dari Ali bin Abi Tholib Ra yang membimbing anak sesuai usia dan fasenya yaitu:

– usia 0-7 th menjadikannya seperti raja yaitu melayaninya dengan baik, memenuhi kebutuhannya yg manfaat dan aman untuknya

– Usia 7-14 tahun fase menjadikannya seoerti tawanan berupa menjalankan aturan dan sanksi tetapi ikuti penjelasan

– Usia14 tahun ke atas menjadikannya seperti kawan, banyak mendengarkan kemauannya, berdiskusi dsb

Adapun berdasarkan pada agama Islam kekokohan ini tatkala unsur keluarga, anak, ibu dan ayah melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya karena secara otomatis hak yang lainnya terpenuhi. Rasa cinta akan menjadi kekuatan untuk fokus pada kewajiban dan membahagiakan pasangan atau anak ketimbang diri tapi ini menjadi daya timbal balik untuk bagi pelaku kebaikan itu sendiri.

Yang perlu dijadikan landasan kebaikan itu adalah ibadah semata-mata karena Allah dan keingingan mendapatkan kehidupan surga bersama keluarga yang dicintai. Dalam faktanya bisa jadi keluarga tidak utuh karena qodarullah seperti ditinggal meninggal pasangan di saat anak- anak masih kecil atau malah tidak diberi keturunan. Namun agama menjadi kekuatan dalam hal ini keyakinan bahwa Allah itu maha adil dan keyakinan itu yang terbaik untuk keselamatannya di akhirat.

Seribu satu persoalan dalam keluarga namun dengan mengetahui kunci-kunci diantaranya:

– Bersyukur dengan apa yang ada meliputi kekeayaan, keberadaan anggota keluarga, situasi apapun

– Bersabar dengan kondisi yang tidak disukai karena yakin bisa jadi keadaan tersebut yang menjadikan dirinya dekat dengan Allah SWT

– Tawakal dan percaya penuh Allah sebaik-baik  penolong

– Senantiasa berbuat baik pada sesama dengan keyakinan Allah akan menolong selagi dirinya menolong sesama.