KPIQP GELAR MUNASOROH PALESTINA

by

Jakarta (9/5) – Minggu, 9 Mei 2021 atau bertepatan dengan 27 Ramadhan 1442 H, Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina (KPIQP) menggelar acara Munasoroh Palestina sebagai bentuk dukungan umat untuk membela Al Quds dan salah satu upaya untuk menghentikan serbuan zionis Israel terhadap masjid Al Aqsha pada 28 Ramadhan.

KPIQP adalah koalisi 10 organisasi perempuan Indonesia, dimana Salimah ada didalamnya. Acara dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting dan live streaming di channel Youtube KPIQP, dan berhasil menyedot perhatian umum dengan hadirnya hampir 190 partisipan di zoom meeting dan lebih dari 600 penonton di live streamingYoutube, sertasudah diakses/ditonton sebanyak 281 kali penayangan.

Acara berlangsung selama kurang lebih 2 jam, dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 waktu setempat, dan mengusung tema “Umat Bela Al Quds”. Selaku moderator, Putri Rizki Ardhina mengajak seluruh umat muslim untuk selalu cepat tanggap dan memberikan kontribusi terbaik atas permasalahan yang terjadi di Al Quds saat ini. “Al Quds dengan segala dinamikanya, saat ini kembali menghadapi gempuran. Ramadhan, terlebih di 10 hari terakhir ini yang idealnya bersuasana damai, kini harus dilalui dengan serangan. Setidaknya 178 orang sudah menjadi korban akibat kebiadaban teror zionis.” tuturnya. Dalam pengantarnya ia juga menyampaikan bahwa acara Munasoroh ini adalah momentum kita sebagai sesama muslim untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Alloh bagi saudara-saudara kita di Palestina, agar mereka dilindungi dari segenap kejahatan dan kezoliman.

Sinta Santi selaku Ketua 1 PP Salimah sekaligus ketua penyelenggara acara menyampaikan, “Munasoroh ini merupakan acara puncak dari berbagai kegiatan yang mendahului, yakni aksi virtual, gerakan twibbon serta doa bersama yang dilakukan oleh ormas-ormas yang peduli dengan Palestina.” terangnya. “Di akhir-akhir Ramadhan, apa yang terjadi di sana tentunya menjadi perjuangan kita bersama. Dukungan dalam bentuk apapun akan sangat berarti bagi mereka. Setidaknya apa yang kita lakukan hari ini kelak akan menjadi saksi di sisi Alloh SWT atas keberpihakan kita yang terus memperjuangkan kebebasan Baitul Maqdis. Siapa yang cinta kepada Alloh pastilah cinta pada Al Aqsa, dengan demikian Insya Alloh kita akan diberikan nikmat hikmah hidayah tiada henti dariNya.” lanjutnya mengakhiri sambutan.

Senada dengan hal itu, Nurjanah Hulwani selaku Ketua KPIQP juga menyampaikan penghormatan kepada para pejuang serangan ekstrimis Yahudi dan tentara Israel di Al Quds. Ia juga mengajak para peserta yang hadir untuk turut mendoakan salah satu narasumber dari kalangan jurnalis yang sedianya direncanakan hadir, namun berhalangan karena turut menjadi korban serangan. “Meski jumlah penduduk Al Quds dan tepi barat mencapai jutaan, namun yang boleh memasuki Baitul Maqdis jumlahnya dibatasi. Amunisi mereka pun seadanya, bergantung pada handphone untuk mendokumentasikan apa yang terjadi dan membagikannya ke dunia luar.” timpalnya.

Dalam pemaparannya, ia juga menyampaikan bahwa seluruh umat Islam sudah sepatutnya merespon panggilan umat Muslim di sana. Sebab apa yang terjadi di Al Quds adalah yang terjadi juga pada umat Islam dunia. Adalah di sana kiblat pertama kita, bumi para anbiya bahkan dimuliakan kembali dengan Gaza sebagai bumi para hafidz, juga tempat mi’rajnya Rasulullah yang memimpin sholat 300 Nabi dan 124 Rasul di sana. Maka pembebasan Al Aqso sebagai puncak perjuangan, menjadi tanggung jawab 1,5 milyar umat Muslim dunia. Empat langkah yang setidaknya dapat kita lakukan dalam hal ini menurut Nurjanah yaitu memahami terlebih dahulu persoalan palestina, kemudian kita memahamkan orang lain dengan pemahaman yang benar, berikan kontribusi serta disempurnakan dengan gerakan doa bersama untuk saudara kita disana.

Munasoroh ini juga menghadirkan Zenah Said Amr yang merupakan guru majlis taklim Masjidil Aqsa. Bersama penerjemahnya, Hasanah, Zenah berbagi cerita kepada peserta terkait situasi yang terjadi disana. “Tepatnya di malam 27 Ramadhan, serangan awal mulai terlihat sore hari sampai sebelum fajar. Suara keributan, sirine ambulan hingga bau gas yang dilemparkan tentara Israel tercium dari halaman hingga dalam masjid. Sebetulnya yang terjadi bukanlah bentrokan, namun aksi pembelaan dari para pemuda yang membela diri.” Ujar Zenah.

Dalam kesempatan ini juga ia mengaku selalu mengupayakan penyebaran berita terkait kondisi Al Quds, baik ketika berada di masjid maupun di rumahnya sendiri. Hal ini karena keterbatasan media serta banyak dari kalangan akademis Al Quds menolak untuk menyuarakan kondisi disana, karena ketika mereka tampil maka mereka juga harus siap menghadapi ancaman penangkapan dari tentara zionis.

Menjawab pertanyaan terkait kondisi perempuan dan anak-anak di Al Quds saat ini, ia mengatakan, “Tentara zionis juga menjadikan tindakan penghancuran rumah menjadi siasat, agar para perempuan tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang Ibu, juga anak-anak dapat terampas hak-haknya. Tentunya golongan ini yang cukup banyak mengalami penderitaan. Mereka terlantar, tertindas, terdiskriminasi dan tak bisa hidup aman. Tentara zionis juga menahan para pemuda bahkan yang usianya lebih muda. Tak sedikit dari mereka yang menjadi syahid di pos pemeriksaan dan tempat penahanan”. Ia juga berpesan untuk saudara Muslim di Indonesia khususnya para Ibu, untuk menyiapkan generasi, agar nantinya setiap anak di masa datang punya peran dalam pembebasan Al Aqsa.

Pada akhir acara dilakukan penggalangan dana sejumah Rp 407.167.000 untuk membantu perjuangan perempuan dan anak Palestina. Barakallah, semoga dapat sedikit membantu saudara-saudara kita yang tengah berjuang.

(Oleh: Ana Mukhlisin & Farandiza Rosalia- Humas PC Salimah Bojonggede, Chomsatun- Ketua Departemen Humas PD Salimah Kab Bogor)