Acara ini merupakan kolaborasi antara PW Salimah DIY dan LMI, dengan pelaksanaan di wilayah PD Salimah Sleman. Kegiatan turut didukung oleh Anugraha Catering, BSN, Pocari Sweat, Kangen Water, dan Pizza Gaza.
Hadir sebagai narasumber, novelis dan dai nasional, Habiburrahman El Shirazy, serta hafiz muda internasional, Kamil Ramadhan.
Pesan Keilmuan dan Spirit Peradaban
Dalam tausiyahnya, Habiburrahman El Shirazy menekankan pentingnya meneladani sirah nabawiyah serta menguatkan budaya literasi dan keilmuan sebagaimana pesan dalam Surat Al-Qalam. Ia menegaskan bahwa Islam memuliakan ilmu sebagai fondasi peradaban dan kunci kebangkitan umat.
Tiga Segmen Perjalanan Hidup Kamil Ramadhan
Dalam sesi motivasi, Kamil Ramadhan membagi kisah hidupnya ke dalam tiga segmen reflektif.
Segmen Pertama: Masa Lalu yang Menguatkan
Sejak bayi ia telah menjadi yatim dan mengalami masa kecil yang penuh ujian. Ia tumbuh dalam keterbatasan ekonomi dan berbagai pengalaman sulit yang membentuk kedewasaannya lebih cepat. Al-Qur’an menjadi self-healing sekaligus cahaya yang menuntunnya bangkit. Mulai belajar Iqra pada usia 8 tahun, ia kemudian mondok dan, atas izin Allah, mampu menghafal 30 juz dalam waktu 6,5 bulan. Motivasi terbesarnya adalah keinginan untuk dapat berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya di surga.
Segmen Kedua: Ujian dan Keteguhan di Pesantren
Kamil juga mengisahkan fase ketika ia mengalami perundungan (bullying) saat mondok. Ia pernah dipukul bahkan di hadapan ibunya. Namun, ujian tersebut tidak memadamkan semangatnya. Ia memilih menjadikan rasa sakit sebagai energi untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an dan memperbaiki diri. Dari fase ini, ia belajar bahwa kemuliaan bukan diukur dari perlakuan manusia, melainkan dari keteguhan hati dalam menjaga iman dan akhlak.
Dalam kesempatan itu ia menegaskan, “Kasih sayang Allah itu tidak terbatas. Seberat apa pun ujian hidup, selalu ada pertolongan dan jalan keluar bagi hamba yang kembali kepada-Nya.”
Segmen Ketiga: Masa Depan dan Misi Kehidupan
Pada bagian akhir, Kamil mengajak peserta merenungkan tujuan hidup manusia di dunia, yaitu sebagai khalifah yang membawa kebaikan. Ia menekankan bahwa perintah pertama Allah kepada manusia adalah belajar. Untuk menjadi lebih mulia dari makhluk lainnya, manusia harus berilmu.
Ia merumuskan tiga karakter yang perlu dimiliki generasi Qur’ani. Pertama berilmu, sebagai fondasi kemuliaan. Kedua progresif dan produktif, mampu berkarya dan memberi kontribusi nyata. Terakhir, protektif, yaitu menjaga diri, keluarga, dan nilai-nilai kebaikan dari pengaruh negatif.
Wujud Nyata: Santunan Yatim dan Dhuafa
Sebagai implementasi tema “ngaji jadi aksi”, kegiatan ini juga diisi dengan penyerahan santunan kepada 24 anak yatim dan 34 dhuafa di wilayah PD Salimah Sleman. Momentum tersebut menjadi simbol bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus diwujudkan dalam kepedulian sosial yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, panitia berharap semangat Al-Qur’an tidak berhenti pada kajian dan hafalan, melainkan menjadi energi perubahan yang menghadirkan maslahat tiada henti bagi umat.