Departmen Diklat PW Salimah DKI Jakarta
Membaca tulisan tentang kesehatan mental dari sudut pandang anak remaja perempuan saya kemarin benar-benar menjadi pengingat: menjadi orang tua di zaman sekarang menuntut kita untuk jauh lebih serius memperhatikan kesehatan mental anak.
Saat ini, tantangannya bukan lagi sekadar memilih gaya parenting “jadul” atau “gentle parenting“. Kita sedang berhadapan dengan gempuran media sosial yang luar biasa dahsyat. Secara teori, anak-anak sekarang mungkin jauh lebih pintar dibanding kita di usia yang sama. Namun, yang mereka butuhkan dari kita bukanlah adu kecerdasan, melainkan validasi emosi.
Mengapa “Nasihat Instan” Bisa Berbahaya?
Saya sering menemukan kasus remaja yang sedang kalut, kecewa, atau buntu pikirannya. Ketika mereka mencoba berdiskusi dengan orang tuanya, mereka seringkali langsung dihujani ayat-ayat, hadis, atau wejangan panjang lebar tanpa sempat mengutarakan luka mereka.
Niat orang tua mungkin baik. Tapi tanpa memvalidasi perasaan anak terlebih dahulu, anak justru merasa tidak didengar. Akhirnya? Mereka mencari validasi di luar sana dengan cara-cara yang sering kali berisiko.
Belajar dari Kasus yang Sedang Viral
Baru-baru ini viral chat seorang ibu yang menasihati anaknya yang sedang protes keras kepada ayahnya. Sang anak merasa ayahnya zalim karena meninggalkan keluarga demi orang lain. Banyak orang memuji kesabaran sang ibu, tapi kita perlu juga melihat dari sisi lain kenapa anak tersebut tetap kemudian menyerang ayahnya dan tidak mau mendengarkan ibunya?
Anak tersebut kemungkinan besar sudah “kenyang” dengan teori agama di sekolah atau pondok. Di saat hatinya hancur, yang ia butuhkan bukan sekadar pengingat untuk sabar, tapi pengakuan bahwa “Iya, nak, apa yang kamu rasakan itu wajar. Ibu paham kamu sakit hati.” Tanpa validasi ini, anak akan terus memberontak karena merasa emosinya tidak dianggap sah.
Pesan untuk Sesama ibu
Yuk, Ibu-ibu yang memiliki anak remaja, mari kita dampingi mereka dengan lebih serius :
1. Jadilah teman diskusi: tempat mereka pulang untuk menumpahkan lelahnya tekanan dunia luar.
2. Dengarkan tanpa menghakimi: terkadang mereka hanya butuh telinga, bukan ceramah.
3. Validasi sebelum edukasi: pastikan mereka merasa dipahami perasaannya sebelum kita masuk dengan nasihat-nasihat bijak.
Pendampingan emosional seperti inilah yang jauh lebih mereka butuhkan saat ini daripada sekadar deretan wejangan yang sudah mereka dapatkan di sekolah.
What do you think?
The idea of validating first, advising later, resonates with me. It’s easy to jump straight into guidance, but taking a moment to understand your child’s perspective really fosters a deeper connection and helps in their emotional growth.