Pituitari adalah nama tumor. Tumor pituitari adalah pertumbuhan abnormal pada kelenjar pituitari, yaitu kelenjar kecil di dasar otak yang mengatur berbagai hormon penting dalam tubuh.
Terletak di dasar otak, di belakang hidung dan di bawah otak besar. Kelenjar ini sering disebut sebagai “master gland” karena mengontrol banyak kelenjar hormon lain, seperti tiroid, adrenal, dan organ reproduksi.
Hal tersebut dijelaskan oleh dr. Selfy Oswari, spesialis bedah syaraf, pada sesi edukasi di kegiatan Empowerment Walk Season 2, yang diselenggarakan oleh Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), pada Ahad (21/12/2025) di kantor Kowani, Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat.
“Gejala umumnya adalah sakit kepala, gangguan penglihatan (karena tekanan pada saraf optik), gangguan menstruasi atau infertilitas, kelelahan, perubahan berat badan, atau perubahan suasana hati dan produksi ASI yang tidak normal (pada pria atau wanita yang tidak menyusui),” jelas Selfy.
Kegiatan edukasi ini diadakan setelah jalan pagi bersama mengitari bundaran HI dan sempat mengikuti senam bersama di tengah ramainya warga di area Car Free Day. Diikuti oleh Salimah dan berbagai organisasi wanita anggota KOWANI, peserta mengenakan kaos merah muda dan ulos, sebagai dukungan kepada korban banjir Sumatra, sebagai bagian dari peringatan Hari Ibu 2025.
Seorang penyintas tumor pituitari menceritakan testimoni saat ia dahulu terkena. Setelah melakukan suatu kegiatan yang cukup melelahkan, tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap. Dikira karena efek kelelahan, ia menganggap remeh dan berharap setelah tidur, penglihatannya akan pulih, seperti biasanya.
Ternyata dokter menyatakan kalau kepalanya terkena tumor otak pituitari, bahkan sudah ada gejalanya sejak dua tahun lalu. Menjalani pengobatan dengan operasi di kepala dan juga melalui hidung, kini ia tetap bisa melihat dan bertahan walau pandangan matanya kini terbatas.
Pasien termuda tumor pituitari berusia belasan tahun, siswa SMP. Ini mengingatkan kita, terutama kaum ibu, agar lebih perduli kepada kesehatan diri sendiri. Juga sebagai himbauan kepada orang-orang di sekitar ibu, karena kita sering merasa ibu baik-baik saja. Padahal mungkin ibu hanya pandai menyembunyikan lelahnya. Diam-diam menahan nyeri, menunda periksa, karena merasa harus selalu kuat.
Karena ibu sudah terlalu lama mendahulukan semua orang, mari kali ini saatnya kita mendahulukan ibu. [Emy]