Dalam pemaparannya, Novianita menekankan bahwa kesalimahan bukan sekadar identitas, tetapi merupakan pemahaman mendalam tentang peran, fungsi, dan tanggung jawab sebagai bagian dari organisasi Salimah. Materi ini bertujuan membentuk pribadi pengurus yang tidak hanya memahami tugas organisasi, tetapi juga memiliki kemampuan dasar berorganisasi secara efektif.
Ia juga menegaskan bahwa menjadi pengurus Salimah adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara organisasi maupun spiritual. Oleh karena itu, setiap anggota dituntut untuk aktif, berkontribusi, dan menjalankan perannya secara optimal.
Lebih lanjut, Novianita memaparkan sejarah berdirinya Salimah pada tahun 2000 yang diprakarsai oleh empat tokoh muslimah. Seiring perjalanan waktu, Salimah berkembang menjadi organisasi perempuan dengan struktur yang lengkap, sistem kerja yang tertata rapi, serta jaringan yang luas hingga tingkat nasional dan internasional.
Dalam sesi tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai berbagai aspek penting organisasi, antara lain makna lambang Salimah yang sarat nilai keanggunan, keteladanan, dan ukhuwah Islamiyah; struktur organisasi dari pusat hingga ranting; tugas pokok dan fungsi setiap lini kepengurusan; sistem kerja dan mekanisme koordinasi; serta peran lembaga kelengkapan sebagai penunjang program.
Novianita menegaskan bahwa Salimah merupakan organisasi dakwah yang tidak hanya berfokus pada kegiatan formal, tetapi juga menjadi wadah kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas perempuan, keluarga, dan anak di Indonesia.
Menutup sesi, ia mengajak seluruh peserta untuk bersungguh-sungguh dalam berproses di Salimah, menjaga keikhlasan, serta menjadikan aktivitas organisasi sebagai ladang amal jariyah. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan peran dalam keluarga, sehingga kehadiran di Salimah dapat membawa keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.