Lewat Sekolah Lansia, Salimah Tulungagung Ajak Masyarakat Kenali Gejala Demensia Sejak Dini

Tulungagung (17/5/2026) — Setiap tiga detik, satu orang di dunia mengalami demensia. Penyakit yang kerap dianggap sekadar “pikun biasa” itu ternyata menjadi ancaman serius kesehatan lansia dan diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Fakta inilah yang menjadi sorotan utama dalam kegiatan Sekolah Lansia Salimah (Salsa) angkatan ke-5 yang digelar Ahad (17/5) di SIMA Lab Tulungagung.

 

Dalam kegiatan tersebut, dokter spesialis saraf RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Joko Rudyono, memaparkan secara mendalam tentang demensia, mulai dari penyebab, gejala, faktor risiko, hingga upaya pencegahannya.

Menurut dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 1992 ini, demensia bukan bagian normal dari proses penuaan. Ia menegaskan bahwa banyak orang lanjut usia tetap mampu hidup produktif dan aktif meski telah berusia di atas 60 tahun.

“Sering lupa memang bisa menjadi gejala awal demensia, tetapi tidak semua lupa berarti demensia. Bisa juga dipicu stres, kelelahan, atau faktor lain,” jelas dokter yang mengambil Fellowship Manajemen Intervensi Nyeri di Universitas Brawijaya tahun 2023.

Ia menjelaskan, demensia merupakan kumpulan gejala akibat penurunan fungsi kognitif otak yang memengaruhi daya ingat, kemampuan berpikir, komunikasi, pengendalian emosi, hingga kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.

Secara global, lebih dari 55 juta orang hidup dengan demensia. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi 78 juta pada 2030 dan melonjak hingga 139 juta pada 2050. Sementara di Indonesia, jumlah orang dengan demensia diperkirakan mencapai 1,2 juta pada 2016 dan diprediksi naik menjadi 4 juta orang pada 2050.

“Demensia kini menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan ketergantungan pada lansia, bahkan termasuk penyebab kematian ketujuh tertinggi di dunia,” ujarnya.

Dalam paparannya, dr. Joko menyebut demensia Alzheimer sebagai jenis yang paling banyak ditemukan, yakni sekitar 60–70 persen kasus. Kondisi ini ditandai penurunan daya ingat progresif, terutama memori jangka pendek.

Selain Alzheimer, terdapat pula demensia vaskular akibat gangguan pembuluh darah otak, demensia Lewy body yang disertai halusinasi dan gejala mirip Parkinson, demensia frontotemporal yang memengaruhi perilaku dan bahasa, hingga demensia campuran.

Ia mengingatkan lansia agar mengenali gejala demensia sejak dini. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain penurunan daya ingat, kesulitan berkomunikasi, disorientasi waktu dan tempat, perubahan perilaku, sulit melakukan aktivitas harian, hingga kerap salah mengambil keputusan.

“Pasien juga bisa mengalami gangguan visuospasial, misalnya sulit memahami jarak sehingga mudah jatuh atau kesulitan menuang air ke gelas,” katanya.

Tak hanya itu, penderita demensia sering menaruh barang sembarangan lalu menuduh orang lain mencuri. Mereka juga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial serta menjadi lebih sensitif dan mudah curiga.

Dr. Joko menjelaskan bahwa faktor risiko demensia terbagi menjadi dua, yakni yang tidak dapat diubah dan yang dapat dikendalikan. Faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia lanjut, riwayat keluarga, serta kelainan tertentu seperti Down Syndrome.

Sementara faktor yang bisa dikendalikan antara lain kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol berlebih, obesitas, diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, depresi, isolasi sosial, hingga gangguan pendengaran dan penglihatan.

“Pendidikan yang rendah juga dapat meningkatkan risiko demensia karena otak kurang mendapatkan stimulasi,” terang dokter berusia 52 tahun ini.

Untuk memastikan diagnosis demensia, diperlukan evaluasi medis menyeluruh, pemeriksaan kemampuan kognitif, pemeriksaan laboratorium, hingga pencitraan otak seperti CT scan atau MRI.

Meski hingga kini belum ditemukan obat yang mampu menyembuhkan demensia, penanganan dini dinilai dapat memperlambat perburukan penyakit dan membantu pasien menjalani hidup lebih baik.

Pengobatan dilakukan melalui terapi farmakologi menggunakan obat tertentu untuk membantu fungsi memori, serta terapi nonfarmakologis seperti terapi kognitif, terapi okupasi, dan dukungan psikososial bagi pasien maupun keluarga.

Dalam kesempatan itu, dr. Joko juga menekankan pentingnya pencegahan melalui pola hidup sehat. Ia mengajak masyarakat rutin berolahraga, menjaga aktivitas mental dengan membaca atau memecahkan teka-teki, mengonsumsi makanan bergizi, berhenti merokok, serta menjaga kesehatan secara berkala.

“Interaksi sosial juga sangat penting. Lansia perlu tetap aktif berkomunitas, berinteraksi dengan keluarga, teman, dan lingkungan agar kesehatan otak tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, demensia bukan hanya berdampak pada penderita, tetapi juga keluarga yang merawatnya. Karena itu, dukungan lingkungan dan komunitas sangat diperlukan agar kualitas hidup orang dengan demensia tetap terjaga.

Pertemuan ketiga kelas Salsa angkatan ke-5 ini diikuti oleh 50-an orang lansia. Sebelum kelas dimulai, peserta mengikuti Senam Ayu Salimah di halaman SIMA Lab. [fat]

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news