Membangun Komunikasi Pasutri bersama Salimah Tulungagung

Tulungagung (12/7/2026) — Hampir setiap pasangan suami istri berbicara setiap hari, tetapi tidak semua benar-benar saling memahami. Sekadar bicara hanya menyampaikan kata-kata, sementara saling memahami menuntut keterbukaan, kejujuran, dan kesediaan mendengarkan hingga ke akar persoalan.

 

Inilah pesan yang disampaikan oleh Dewan Pengawas Salimah Daerah (DPSD) Tulungagung, dr. Riana Widyastuti, saat menjadi narasumber dalam Sekolah Pranikah Salimah (Serasi) Batch 3 dengan tema “Komunikasi Pasutri: Saling Paham, Saling Tenang” pada Ahad (12/7) pagi di Kantor Sekretariat Salimah Tulungagung.

Riana menyebutkan bahwa komunikasi adalah salah satu hambatan terbesar rumah tangga setelah masalah ekonomi, karena setiap pasangan membawa pola komunikasi yang dibentuk latar belakang keluarga dan lingkungan masing-masing. Karenanya, untuk mengatasi hambatan komunikasi itu, dia mengajak peserta mengenali lima elemen dasar komunikasi merujuk pada teori Laswell (1991).

Elemen pertama adalah keterbukaan. “Tanpa keterbukaan, bagaimana bisa berkomunikasi dengan melegakan? Yang terjadi hanya obrolan formalitas tanpa kehadiran jiwa yang menciptakan sakinah mawaddah warahmah,” ujar ibu empat putri ini.

Elemen kedua adalah kejujuran, sebab tanpa itu komunikasi hanya akan berisi kepura-puraan. Elemen ketiga adalah kemampuan untuk saling mempercayai; jika hilang, yang tumbuh justru rasa saling curiga dan saling menyalahkan.

Elemen keempat adalah empati terhadap pasangan, karena tanpa kepedulian, yang terjadi hanya sikap saling cuek atau bahkan saling menyerang. Terakhir, elemen kelima adalah kemampuan menjadi pendengar yang baik.

“Kalau kita tidak mau mendengarkan, yang terjadi hanya saling mendiamkan. Suami sebagai qowwam posisinya sebagai pemimpin yang harus ditaati, jadi dimohon istri jangan seenaknya sendiri,” himbau perempuan yang telah membina rumah tangga selama 27 tahun ini.

Menurutnya, kelima elemen komunikasi ini ibarat fondasi bangunan rumah tangga, hilang satu saja, komunikasi pasangan akan mudah goyah. Sebaliknya, ketika kelimanya terjaga, suami istri akan lebih mampu membicarakan hal menyenangkan maupun tidak menyenangkan dengan lebih terbuka, sabar, dan jujur.

Selanjutnya, Riana mengutip tujuh prinsip komunikasi pernikahan yang lebih aplikatif seperti yang ditulis Ustadz Cahyadi Takariawan dalam bukunya, Wonderful Marriage. Tujuh prinsip komunikasi itu adalah mengenali karakter pasangan, memelihara rasa suka dan kagum, saling mendekat saat menghadapi masalah, terbuka menerima pendapat pasangan, menyelesaikan masalah tanpa saling menyalahkan, mencari kompromi saat buntu, hingga menciptakan makna bersama termasuk lewat kebersamaan spiritual.

Sebagai penutup, Riana mengajak peserta meneladani Ustadzah Yoyoh Yusroh, seorang ibu 13 anak sekaligus pendiri pesantren tahfizh Al-Qur’an Ummu Habibah. Ustadzah Yoyoh berhasil menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu, dan daiyah. Menurutnya, sosok Ustadzah Yoyoh adalah bukti bahwa komunikasi yang baik antara suami istri, ditambah visi keluarga yang berorientasi dakwah, mampu melahirkan keluarga yang kokoh sekaligus bermanfaat luas bagi masyarakat. [dyta, fat]

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related news