Ketua Depdiklat PP Salimah
Beberapa tahun terakhir kita sering dikejutkan berita tentang retaknya keluarga. Bukan sekadar cerita, tapi angka yang nyata. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) 2024 melalui SIMFONI PPA mencatat lebih dari 28.000 kasus kekerasan, dan sekitar 70% terjadi di ranah rumah tangga, dengan korban terbesar perempuan dan anak.
Komnas Perempuan dalam CATAHU 2024 melaporkan lebih dari 457.000 kasus kekerasan terhadap perempuan, mayoritas juga terjadi di ruang personal. Sementara KPAI 2024 mencatat ribuan kasus kekerasan terhadap anak, banyak dipicu konflik keluarga, minimnya komunikasi, dan rapuhnya kehangatan emosional di rumah.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada hati yang patah, anak yang kehilangan rasa aman, dan rumah yang perlahan kehilangan makna. Banyak keluarga tidak kekurangan materi, tetapi kekurangan teladan. Tidak kekurangan kata, tetapi kekurangan kasih sayang. Tidak kekurangan aktivitas, tetapi kekurangan doa bersama.
Allah mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).
Menjaga keluarga bukan hanya soal nafkah, tetapi menjaga iman, suasana hati, dan akhlak di dalam rumah. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari & Muslim).
Dan di tengah kondisi itu, Ramadan datang seperti cahaya yang mengetuk pelan hati setiap keluarga.
Allah berfirman:
“Diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Puasa melembutkan hati yang keras, menenangkan emosi yang panas, dan menumbuhkan empati yang lama hilang. Ramadan menghadirkan kembali kebersamaan dari hal sederhana: sahur yang hangat, berbuka penuh syukur, shalat berjamaah, doa yang saling menyebut nama, dan tadarus yang menenangkan jiwa rumah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila Ramadan datang, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup.” (HR. Bukhari & Muslim).
Artinya, suasana kebaikan sedang dimudahkan. Tinggal kita mau membuka pintu rumah dengan ibadah, atau tetap membiarkannya dingin.
Satu kunci lain yang menghidupkan rumah adalah sedekah.
Allah berfirman:
“Perumpamaan orang yang bersedekah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261).
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).
Saat orang tua mengajak anak berbagi, dari uang jajan, dari makanan berbuka, dari kepedulian kecil, anak yang tumbuh dalam budaya memberi akan tumbuh dengan hati lembut dan penuh kasih.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling lembut kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi).
Keberkahan keluarga bukan pada luas rumahnya, tetapi pada hangatnya hati di dalamnya.
Mungkin hari ini ada rumah yang terasa jauh meski berdekatan. Ada percakapan yang singkat, doa yang jarang, dan hati yang mulai lelah. Tapi Ramadan selalu datang membawa harapan, bukan untuk menyempurnakan, tapi untuk memulai kembali.
Mulailah dari yang sederhana. Sahur bersama, berbuka tanpa jarak, shalat berjamaah walau singkat, doa saling menyebut nama, dan sedekah meski kecil. Karena rumah tangga penuh berkah tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh iman yang hidup, doa yang terangkat, dan hati yang saling menguatkan.
Ramadan selalu mengetuk.
Mungkin bukan rumah kita yang kurang bahagia; mungkin hanya hatinya yang belum kembali hidup.