Ketua II PP Salimah
(disampaikan pada Rapat Pleno PP Salimah
Kamis, 7/5/2026)
Kekuatan utama sebuah organisasi terletak pada SDMnya. Mereka merupakan basis operasional seluruh aktivitas organisasi.
SDM sebuah organisasi harus memiliki:
• Keunggulan atau keistimewaan dalam akhlaq, karakter, dan keikhlasan
• Daya tarik, sehingga orang mau dekat dengan kita
• Pengaruh; Salimah memberi pengaruh baik di lingkungan masyarakat dan mewarnai masyarakat dengan nilai-nilai kebaikan.
Kepemimpinan dalam dakwah Salimah adalah kepemimpinan berbasis nilai bukan figuritas. Di Salimah pergantian ketua umum dilaksanakan 5 tahun sekali (1 periode). Tujuannya agar tidak terjadi figuritas dan mempercepat proses regenerasi kepemimpinan.
Bekalan AlQuran untuk pemimpin:
1. Taqwa (التقوى )
• Taqwa adalah sebaik-baiknya bekal sebagaimana firman Allah dalam QS 2:197
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.
• Taqwa menghadirkan banyak kemudahan dan pertolongan. Allah berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya
(Aṭ-Ṭalāq [65]:2).
• Taqwa memudahkan setiap urusan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. (Aṭ-Ṭalāq [65]:4)
2. Ilmu (العلم)
Dengan bekal Ilmu, kita dapat menjadi rujukan di masyarakat. Masyarakat memuliakan orang karena ilmu. Masyarakat bertanya kepada kita baik urusan agama maupun yang lain, seperti dlm hal Sekolah Lansia, UMKM, keorganisasian, dll. Salimah menjadi rujukan bagi masyarakat atau organisasi yang lain.
Ini yang dicontohkan oleh Nabi Yusuf
قَالَ اجۡعَلۡنِىۡ عَلٰى خَزَآٮِٕنِ الۡاَرۡضِۚ اِنِّىۡ حَفِيۡظٌ عَلِيۡمٌ
Dia (Yusuf) berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negeri (Mesir); karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, dan berpengetahuan.” (QS:Yusuf: 55)
Demikian pula Thalut
قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصۡطَفٰٮهُ عَلَيۡکُمۡ وَزَادَهٗ بَسۡطَةً فِى الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِؕ.
Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” (2 : 247).
Sedangkan Nabi Isa memberi teladan berikut:
وَّجَعَلَنِىۡ مُبٰـرَكًا اَيۡنَ مَا كُنۡتُۖ
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada,(QS 19:31)
Jadi, di manapun kita memberikan dampak positif.
3. Benar dan Amanah (اَلصِّدْقُ وَالأَمَانَةْ )
Jika kita benar dan amanah masyarakat akan percaya kepada kita.
Benar di sini meliputi:
• Benar dalam niat (صِدْقُ الِيْيَّةْ )
• Benar dalam lisan ( صِدْقُ الّلِسان )
• Benar dalam perbuatan ( صِدْقُ الْعَمَل )
Benar juga bermakna amanah (terpercaya). Para Nabi adalah orang terpercaya
إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,(QS:26 : 107,125,143,162,178)
Pembuktian bahwa seseorang mempunyai sifat amanah membutuhkan waktu yang lama. Sekali tidak amanah, orang tidak akan percaya kepada kita. Seseorang dikenal amanah saat dia mendapat posisi dan jabatan.
Kisah nabi Ya’kub (12 : 64)
قَالَ هَلۡ اٰمَنُكُمۡ عَلَيۡهِ اِلَّا كَمَاۤ اَمِنۡتُكُمۡ عَلٰٓى اَخِيۡهِ مِنۡ قَبۡلُؕ فَاللّٰهُ
خَيۡرٌ حٰفِظًاۖ وَّهُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ
Dia (Yakub) berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?” Maka Allah adalah penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
Rasulullah dikenal sebagai al-amin.
4. Bersih ( تَزَكّٰىۙ), meliputi kejujuran, kemurnian, kesucian.
• Kesucian berkaitan dengan hati.
وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ
رَّحِيْمٌࣖ ١٠
“dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Kita diarahkan oleh Allah untuk selalu berdoa agar tidak ada ‘ghil’ (marah, benci, dendam, unek2, syak wasangka dll) karena dapat menggangu kinerja kita di Salimah dan di manapun.
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’aro’: 88).
• Kesucian berkaitan dengan dosa dan maksiat.
وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا
“dan sungguh rugi orang yang mengotori(jiwa)nya.” (QS:91:10)
Umar RA saat mengirim pasukan melawan Romawi berpesan kepada pasukan kaum muslimin, “Mereka memiliki bekal, pasukan dan perbekalan yang banyak, sedangkan kita pasukan, bekal dan senjata terbatas, maka jika kita bermaksiat bagaimana Allah akan menolong kita?”
• Kesucian berkaitan dengan harta
Perlu berhati-hati pula terkait dengan muamalah amaliyah. Mendapatkan harta tanpa menghinakan diri dan tanpa mendzolimi.
Ancaman Allah berat bagi yang mendapatkan harta dengan cara yang batil.
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ ١
“Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)”
Menakar dan menimbang hanya contoh dari kecurangan. Hakikatnya segala bentuk cara memperoleh harta dengan cara curang dan dzalim.
وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌۗ ٨
“Sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan.”
Kata al-khair di situ artinya bukan kebaikan tapi harta, bagaimana
5. azimatul qowwiyah (اَلْعَزِيمَةْ الْقُوَّةْ) atau azzam yang kuat.
Pelajaran tentang tekad yang kuat bisa kita ambil dari surat Al-Kahfi 60-64. Allah menjelaskan perjalanan tekad Nabi Musa mencari Nabi Khidir untuk menuntut
ilmu setelah ditegur oleh Alloh swt.
Kalau tekad pemimpin lemah bagaimana dengan anak buahnya. Pelaksanaan Rakornas tidak akan terlaksana kalau bukan karena azzam yang kuat. Padahal bisa jadi bnyak hambatan dari segi dana, waktu, dll.
Perang Hunain
Saat pasukan muslim kocar kacir terkena serangan panah, dari kabilah hawazin dan tsaqif Rasulullah tetap tenang kokoh di atas bagal putihnya dan menolak melarikn diri. Bahkan beliau maju menerjang musuh seraya berseru, “Saya nabi, tidak dusta. Saya putra abdul mutholib (terkenal punya tekad yg kuat)”.
Seorang pemimpin harus mampu menunjukkan tekad yang kuat dan menyelesaikan permasalahan.
6. Memahami kondisi orang lain.
(فَهْمُ الْآخَرِينْ )
Dalam QS Al-Kahfi ayat 83-99, Allah menceritakan kisah Dzulkarnain. Raja yang shaleh ketika membangun benteng besi tembaga kokoh di antara dua gunung untuk mengurung kaum perusak Ya’juj Ma’juj. Benteng ini melindungi manusia dari kerusakan mereka hingga menjelang hari kiamat.
Dalam QS Al-Baqarah ayat 61 Allah menceritakan ksah nabi Musa dan Bani Israil yang tersesat di padang pasir setelah keluar dari Mesir. Mereka kelaparan dan kehausan sehingga Nabi amusa berdo’a kepada Allah.
Kisah-kisah ini mengajarkan kita bahwa seorang pemimpin harus:
• Memahami kapasitas anggota
• Memahami karakter dan sifat
• Memahami cara kerja