Staf Depdiklat PW Salimah Babel
Dalam segala tantangan hidup yang datang silih berganti, sering kali kita tergesa mencari tempat mengadu. Padahal, seindah-indah tempat bersandar hanyalah kepada Allah. Kepada-Nyalah segala keluh layak disampaikan, kepada-Nya pula tempat berpulang segala lelah.
Mengadu kepada manusia sering kali hanya menambah beban, sebab tidak semua mampu memahami kedalaman luka, dan tidak semua hati sanggup menampung keresahan kita sepenuhnya.
Sebuah nasihat indah yang patut tersimpan dalam jiwa, “Ada kalanya kita berbicara dan ada kalanya kita berdiam diri. Barangkali, dalam banyak keadaan, kita justru perlu lebih banyak mendengar. Sebab lisan begitu mudah terpeleset, sementara diam sering kali lebih menyelamatkan hati dan menjaga niat kita.
Lalu, apa peran orang lain dalam perjalanan ujian hidup kita? Menceritakan keresahan kita kepada orang lain boleh-boleh saja, asalkan tepat pada tujuannya.
Mungkin mereka hanya mengetahui judul dari keresahan yang kita alami, tanpa pernah benar-benar menyelami isinya. Mungkin mereka hanya bisa memahami sepintas, tanpa mampu mendalami sepenuhnya. Mungkin ada di antara mereka berempati dan diam-diam mendoakan. Kita tidak pernah tahu, boleh jadi dari doa-doa yang mereka panjatkan secara diam-diam, Allah jadikan itu sebagai sebab dibukakannya jalan kemudahan bagi kita. Doa yang tak kita dengar, namun sampai ke langit.
Teladan Syekh Ali Jaber rahimahullah mengajarkan makna syukur yang sesungguhnya. Saat musibah menimpa dirinya, beliau justru mengucapkan Alhamdulillaah, lalu Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Bagi beliau, musibah bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan ujian kasih sayang-Nya. Dengan mengucap Alhamdulillah, seseorang sedang mengakui keikhlasan atas takdir, sekaligus membuka pintu keberkahan, kemuliaan, dan pahala.
Terkadang manusia tidak benar-benar tahu hikmah apa yang sedang Allah siapkan di balik peristiwa yang ia alami. Bisa jadi, luka hari ini adalah pintu bagi kebaikan yang belum tampak esok hari.
Maka, belajar bersyukur di saat sempit adalah latihan iman yang paling jujur dan belajar mengadu hanya kepada Allah adalah bentuk ketundukan seorang hamba.
Wallahu a‘lam bishshawab.