Ketua Depdiklat PP Salimah
Merah putih berkibar gagah di angkasa,
pekik merdeka membahana menembus masa.
Namun di balik gegap gempita seremonial bangsa,
ada luka sunyi yang menganga di ruang-ruang kita.
Katanya kita telah lama lepas dari belenggu penjajah,
namun di bilik kelas, pikiran masih kerap terpasung pasrah.
Ilmu diperjualbelikan bak barang dagangan berharga mahal,
merdeka belajar terasa semu bagi mereka yang terpinggirkan di aspal.
Buku-buku berdebu, administrasi menuntut angka,
sementara nurani kian kering tanpa makna.
Lonceng sekolah berdentang di tengah kecemasan,
saat adab dan empati tersingkir oleh arogansi zaman.
Kekerasan terselubung canda, perundungan dianggap biasa,
moral tergerus arus maya tanpa saring dan jeda.
Gelar dikejar tanpa menakar budi pekerti,
kehilangan rasa hormat, menukar adab dengan jemari.
Apalah arti kibaran bendera di setiap sudut negeri,
jika generasi penerus rapuh di palung nurani?
Merdeka bukan sekadar terbebas dari rantai besi,
tetapi memerdekakan akal dari kebodohan dan kepalsuan harga diri.
Kembalikan ruh pendidikan pada fitrah sejatinya:
memanusiakan manusia, menuntun jiwa,
agar kita tak sekadar merdeka dalam kata,
tetapi berdaulat penuh dalam budi dan jiwa.
17 Agustus 2026
Saat kibaran Bendera pada gempita Perayaan Kemerdekaan