Talkshow ini menjadi ruang edukasi bersama dalam memperkuat peran keluarga sebagai benteng pertama dalam melindungi anak, remaja, dan anggota keluarga dari berbagai bentuk kekerasan serta perilaku berisiko yang dapat merusak ketahanan keluarga dan tatanan sosial masyarakat.
Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI Kota Bekasi, Enny Pristini, menyampaikan bahwa keluarga merupakan tempat pertama bagi setiap anggota keluarga untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan nilai, dan pembentukan karakter.
“Keluarga adalah tempat pertama untuk berlindung dan membentuk karakter. Karena itu, perwakilan organisasi yang hadir diharapkan dapat menjadi penyebar nilai-nilai perlindungan perempuan, anak, dan keluarga di Kota Bekasi,” ujar Enny.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Kota Bekasi, KH. Saifuddin Siroj, dalam arahannya menyampaikan bahwa dua hal yang menjadi tema utama kegiatan ini, yaitu kekerasan dan perilaku menyimpang, merupakan persoalan serius yang dapat membahayakan ketahanan keluarga dan masa depan generasi.
Ia menyoroti bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan verbal, seperti kata-kata sarkastik, ucapan yang menyakitkan, serta komunikasi yang menohok dan merendahkan. Menurutnya, persoalan keluarga perlu ditangani secara serius melalui kolaborasi berbagai pihak.
KH. Saifuddin Siroj juga menyampaikan keprihatinannya terhadap tingginya angka pengajuan perceraian di Kota Bekasi. Ia menyebutkan bahwa terdapat sekitar 5.000-an pengajuan perceraian, dengan kasus tertinggi berupa cerai gugat dari pihak istri. Persoalan kekerasan yang terjadi terus-menerus, tekanan ekonomi, pinjaman online, dan pengangguran menjadi sebagian faktor yang turut memengaruhi keretakan rumah tangga.
Ia menambahkan bahwa dampak dari persoalan keluarga tidak hanya dirasakan oleh suami dan istri, tetapi juga oleh anak-anak. Anak dapat menjadi korban dari konflik keluarga, kekerasan, dan perceraian. Karena itu, diperlukan strategi bersama untuk mengurangi angka perceraian dan mencegah lahirnya generasi yang lemah.
a
“Jangan sampai lahir generasi yang lemah, baik lemah iman, lemah ekonomi, maupun lemah kecerdasan. Perlu ada strategi bersama untuk mengurangi angka perceraian dan dampak negatifnya. Program seperti ini harus berkelanjutan, tidak berhenti pada satu kegiatan saja, tetapi dilanjutkan oleh setiap ormas peserta,” tegas KH. Saifuddin Siroj.
Pada sesi materi, para narasumber menyampaikan pembahasan dari berbagai perspektif. Marwah Zaitun, Kabid Ketahanan Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, Badan Kesbangpol Kota Bekasi, memaparkan pentingnya ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sosial dan membentuk generasi Indonesia Emas.
Ia menyampaikan bahwa sebagai pengurus organisasi sekaligus pengurus rumah tangga, perempuan memiliki peran penting sebagai tonggak keluarga. Pendidikan abad ke-21 menuntut keluarga untuk mampu menanamkan karakter, kompetensi, dan literasi kepada anak-anak.
Marwah menekankan tiga hal penting. Pertama, pembentukan karakter moral, seperti takwa, jujur, ihsan, dan rendah hati, serta karakter kinerja, seperti tangguh, pantang menyerah, dan bertanggung jawab. Kedua, penguatan kompetensi atau keterampilan abad ke-21, meliputi kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Ketiga, peningkatan literasi sebagai bentuk keterbukaan wawasan.
Menurutnya, karakter dan keterampilan tersebut tidak dapat muncul secara tiba-tiba, tetapi harus ditumbuhkan secara konsisten melalui pendidikan keluarga, keteladanan, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Psikolog Siti Nurhidayah memberikan penguatan dari sisi psikologis mengenai pentingnya deteksi dini terhadap perubahan perilaku anak dan remaja. Kasus kekerasan dan penyimpangan seksual sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan di Kota Bekasi.
Narasumber berikutnya, Novrian, seorang akademisi, dan praktisi komunikasi , menyampaikan materi tentang perlindungan keluarga dari kekerasan dan perilaku berisiko, termasuk pentingnya pendidikan karakter, pendampingan digital, serta komunikasi terbuka antara orang tua dan anak. Dalam paparannya, keluarga perlu menjadi ruang aman bagi anak agar mereka tidak mencari validasi negatif dari lingkungan luar.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai berbagai bentuk kekerasan, seperti kekerasan fisik, verbal, psikologis, seksual, ekonomi, penelantaran, kekerasan digital, cyberbullying, kekerasan dalam rumah tangga, serta kekerasan di lingkungan sekolah.
Selain itu, talkshow turut membahas pentingnya menanamkan nilai luhur, pendidikan kewarganegaraan, gotong royong, serta nilai agama dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Keluarga dipandang sebagai unit terkecil dalam masyarakat, namun memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter warga negara yang berakhlak, toleran, bertanggung jawab, dan berwawasan kebangsaan.
Salimah Kota Bekasi menyambut baik kegiatan ini karena sejalan dengan komitmen dalam memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan literasi pengasuhan, serta mendukung terciptanya lingkungan keluarga yang aman, religius, harmonis, dan ramah bagi perempuan, remaja, serta anak.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi agen edukasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Talkshow ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan keluarga harus dimulai dari rumah, melalui keteladanan orang tua, komunikasi terbuka, pendampingan anak, penguatan nilai agama, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial. [NHs]