Salimah Tulungagung Bahas Tiga Kesiapan Menjadi Orang Tua

Tulungagung (21/12/2025) – Menjadi orang tua tidak cukup hanya siap menikah dan saling mencintai. Ada tiga kesiapan utama yang perlu dibangun sejak awal, yakni kesiapan fisik, mental, dan finansial. Inilah pesan utama yang disampaikan pegiat Rumah Keluarga Indonesia, Eni Erawati, dalam penutupan Sekolah Pranikah Salimah (Serasi) yang diselenggarakan Salimah Tulungagung, pada Ahad (21/12) pagi, di Masjid Ni’matur Rubbiyah, Kepatihan.

 

Dalam paparannya, Eni menegaskan bahwa peran orang tua adalah proses panjang yang menuntut kesadaran dan persiapan matang. Kesiapan fisik mencakup perhatian terhadap kesehatan calon ayah dan ibu. Calon ibu perlu menjaga asupan gizi, memeriksakan kesehatan, dan memahami proses kehamilan serta persalinan. Sementara calon ayah dituntut untuk siap mendampingi, memahami perubahan kondisi istri, serta beradaptasi dengan pola hidup baru setelah hadirnya anak.

Selain fisik, kesiapan mental menjadi fondasi penting dalam pengasuhan. Orang tua akan menghadapi perubahan emosi, tekanan, kelelahan, serta tantangan mendidik anak yang terus berkembang. Karena itu, komunikasi yang sehat dengan pasangan, kesiapan berbagi peran, dan kemauan belajar tentang pola asuh yang positif menjadi kunci utama.

Menurut Eni, mental yang sehat akan sangat berpengaruh pada suasana rumah dan tumbuh kembang anak. “Orang tua perlu menyadari batas diri, menjaga emosi, dan tidak ragu mencari bantuan ketika merasa kewalahan,” ungkapnya.

Kesiapan finansial juga tak kalah penting. Orang tua perlu merencanakan keuangan sejak dini, mulai dari biaya persalinan hingga kebutuhan anak yang akan terus bertambah. Kesiapan ini bukan soal kemewahan, tetapi kemampuan mengelola rezeki dengan bijak, membuat anggaran, serta membiasakan menabung demi kestabilan keluarga.

Selanjutnya, Eni menekankan bahwa pendidikan anak dimulai dari rumah. Orang tua diharapkan mampu menjadi pendengar yang baik, memberikan rasa aman, menanamkan nilai agama dan akhlak, serta terlibat aktif dalam keseharian anak. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan materi, tetapi juga perhatian, penghargaan, dan kehadiran orang tua secara utuh.

Penutupan Serasi dihadiri peserta yang telah mengikuti rangkaian program selama satu tahun. Dalam sambutannya, Ketua Salimah Tulungagung yang diwakili Ketua Bidang Diklat, Fitriana, menyampaikan bahwa sekolah pranikah adalah proses menata niat dan visi sebelum memasuki pernikahan.

Fitri menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua individu, tetapi menyatukan dua misi untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta melahirkan generasi yang berakhlak mulia. Meski rangkaian Serasi telah berakhir, Fitri berharap peserta terus belajar dan bertumbuh dalam menjalani peran sebagai calon orang tua. [dyta/fat]

Tags:
Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related news