Meramu Rasa Cinta

Penulis: Dewi Suryati, M.E
Ketua Departemen Humas PD. Salimah Kabupaten Sintang-Kalimantan Barat

 

Bukan sekadar merajut yang namanya cinta, melainkan meramu rasa yang bercecer di lorong-lorong jiwa. Ada yang tumbuh perlahan seperti embun pagi, ada pula yang datang diam-diam lalu menetap menjadi cahaya. Cinta dalam hubungan suami istri bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memahami bagaimana dua hati belajar menerima kekurangan tanpa banyak meminta.

Rasa itu kadang memintal di jalan-jalan cahaya, berpendar di sela waktu yang tak selalu ramah. Ia hadir dalam tatapan sederhana antara suami dan istri, dalam doa-doa yang diam-diam dipanjatkan, juga dalam kesediaan untuk tetap tinggal meski dunia sering berubah arah. Sebab cinta yang tulus tidak sibuk mencari sempurna, melainkan belajar setia pada rasa yang dijaga bersama.

Ada masa ketika cinta terasa begitu hangat seperti matahari pagi, namun ada pula saat hubungan suami istri diuji oleh jarak, ego, dan diam yang panjang. Pada titik itulah seseorang belajar bahwa cinta tidak cukup hanya diucapkan. Ia perlu dirawat dengan kesabaran, dipeluk dengan pengertian, dan dikuatkan oleh keikhlasan yang tak mudah runtuh.

Meramu cinta juga berarti memahami bahwa hati manusia tidak selalu baik-baik saja. Kadang ada lelah yang disembunyikan di balik senyum, ada kecewa yang tidak sempat diceritakan. Maka mencintai pasangan bukan hanya tentang hadir di saat bahagia, tetapi juga tentang bertahan ketika suami atau istri sedang rapuh dan kehilangan arah.

Cinta yang dewasa tidak banyak gaduh. Ia sederhana namun menenangkan. Tidak sibuk memamerkan kebersamaan, tetapi diam-diam saling menjaga dalam doa dan ketulusan. Sebab cinta terbaik dalam rumah tangga bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang tetap memilih bertahan di tengah banyak alasan untuk pergi.

Dan pada akhirnya, meramu rasa cinta adalah tentang belajar menumbuhkan cahaya di dalam hati sendiri. Agar rumah tangga tetap menjadi tempat pulang yang penuh tenang, tempat suami dan istri saling menguatkan, serta menjadi alasan keduanya tetap percaya bahwa kebahagiaan masih layak diperjuangkan.

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news