Salimah Tulungagung Kupas Rahasia Kemuliaan Kelahiran Rasulullah

Tulungagung (3/8/2026) — Setiap muslim mengenal Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam. Tapi tidak semua tahu, gelar itu ternyata hanya disematkan pada beliau seorang. Nabi-nabi sebelumnya, sehebat apa pun, hanya diutus untuk kaumnya sendiri.

 

Hal ini disampaikan Ustadz Muh. Fariz Abdul Hafidz, BA, alumni Yarmouk University Yordania, saat mengisi kajian Salimah Berbagi Ilmu (Sabil@) bertema “Kelahiran Rasulullah sebagai Rahmatan Lil’alamin” pada Ahad (2/8) pagi di Masjid Ni’matur Rubi’ah, Kepatihan, Tulungagung.

“Nabi-nabi dari Adam a.s. sampai Isa a.s. itu diutus untuk kaumnya masing-masing. Kalau ada kaum lain yang tidak beriman, ya tidak masalah, bukan tugas nabi itu,” kata Ustadz Fariz membuka materi. Beda halnya dengan Nabi Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh manusia di bumi, sebagai nabi terakhir sekaligus penyempurna risalah para nabi sebelumnya, tanpa terbatas pada satu bangsa atau wilayah tertentu.

Kemuliaan itu, sudah tampak sejak proses kelahiran. Ibunda Nabi, Aminah, melahirkan dengan sangat mudah. Nabi Muhammad lahir dalam keadaan telah berkhitan, tali pusarnya pun sudah putus dengan sendirinya. Belum lagi guncangan hebat yang meruntuhkan sebagian istana Kisra di Persia pada malam kelahirannya. Meski begitu, Ustadz Fariz mengingatkan jamaah untuk tidak salah paham. “Bukan karena tanda-tanda itu lalu Rasul jadi mulia lho ya. Rasul itu memang sudah mulia dari sananya,” tegasnya.

Ia menyebut kelahiran Rasulullah jatuh pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan Tahun Gajah, yaitu tahun ketika pasukan bergajah pimpinan Raja Abrahah gagal menghancurkan Ka’bah dan justru dibinasakan burung Ababil, seperti diabadikan dalam Surat Al-Fiil. “Sekitar 50 hari setelah kejadian itu, barulah Rasul lahir,” ujar ustadz yang baru pulang ke Indonesia bulan April lalu setelah penerbangannya sempat tertahan imbas perang Iran-Israel.

Cerita berlanjut ke masa penyusuan Rasulullah oleh Halimah binti Abu Dzuaib dari Bani Sa’diyah. Ustadz Fariz menjelaskan, penduduk Makkah kala itu punya kebiasaan menitipkan bayinya ke pedalaman untuk disusui, dengan tiga alasan: bahasa Bani Sa’diyah yang fasih, lingkungan padang pasir yang alami dan sehat, serta suku itu dikenal amanah.

Keluarga Halimah pun disebut merasakan berkah nyata setelah menyusui Rasulullah. Berkah itu adalah unta betina dan kambing mereka yang tadinya kurus mendadak gemuk dan berlimpah hasil susunya, sehingga keluarga itu menjadi salah satu yang paling berkecukupan di kalangan Bani Sa’diyah sampai tidak lagi perlu ke Makkah untuk menawarkan jasa menyusui.

Ustadz Fariz juga mengangkat peristiwa yang sempat membuat Halimah ketakutan. Saat Rasulullah saw berusia sekitar 5 tahun dan masih dalam asuhan Halimah, beliau didatangi dua sosok yang membelah dadanya. Halimah yang khawatir langsung mengembalikan Rasulullah kepada Aminah dan menceritakan kejadian itu.

“Aminah malah tenang. Beliau bilang, jangan dikira anaknya diganggu setan. Justru sejak dalam kandungan, Rasul itu selalu dijaga oleh Allah swt,” kata Ustadz Fariz menirukan penjelasan Aminah kepada Halimah.

Setelah Aminah wafat, Rasul dirawat oleh sang kakek. Namun tak lama kakeknya pun wafat, sehingga pengasuhan berpindah ke pamannya, Abu Thalib. Dalam asuhan Abu Thalib inilah, saat usianya baru 12 tahun, Rasulullah ikut berdagang ke negeri Syam.

Dalam perjalanan itu khafilah dagang bertemu Pendeta Buhairah, yang sudah lama menunggu tanda-tanda kenabian akhir zaman sebagaimana tertulis di Taurat dan Injil. “Pendeta itu melihat sendiri tanda kenabian di punggung Rasul. Beliau langsung menyarankan Abu Thalib segera pulang, khawatir kalangan Yahudi yang juga tahu tanda-tanda itu berbuat jahat karena Yahudi tidak menyukai jika Nabi terakhir bukan dari kalangan mereka,” tuturnya.

Menjelang akhir paparan, Fariz meluruskan satu anggapan yang menurutnya sering keliru: pernikahan Rasulullah dengan Khadijah r.a. bukan karena mengincar harta sang istri. “Justru sebaliknya, semua harta Rasul habis untuk dakwah. Bahkan pernah tiga hari kompor di rumah beliau tidak menyala,” ungkapnya. Ia menambahkan, Rasulullah tak pernah berpoligami selama Khadijah masih hidup, bukti kesetiaan beliau pada istri pertamanya itu.

Pada sesi tanya jawab, salah satu jamaah bertanya soal hikmah Rasulullah menjadi yatim piatu sejak kecil. Ustadz Fariz menjawab, itu adalah bentuk pendidikan langsung dari Allah tanpa perantara, bukan karena ada yang kurang dari pengasuhan orang tua beliau. Pertanyaan lain soal poligami Rasulullah saw. pun tak luput dibahas tuntas. “Poligami Rasul itu untuk kepentingan dakwah, menikahi putri para pemuka suku supaya mereka masuk Islam, bukan karena syahwat. Bahkan para janda yang dinikahi.”

Ia menambahkan, Rasulullah tak pernah berpoligami selama Khadijah masih hidup, bukti kesetiaan beliau pada istri pertamanya sekaligus orang pertama yang masuk Islam. “Kita ini tidak boleh mengharamkan apa yang sudah dihalalkan Allah, termasuk poligami walaupun itu menyakitkan,” pungkasnya menutup kajian.[dyta, fat]

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news