Dari Ketaatan Menuju Al-Falah, Menapaki Tangga Spiritual bersama Rasulullah ﷺ

Oleh: dr Yulia Andani
Ketua PW Salimah DKI Jakarta

 

Ada banyak cara manusia mendefinisikan kebahagiaan. Bagi sebagian orang, bahagia berarti memiliki kehidupan yang tenang. Bagi yang lain, bahagia adalah ketika cita-cita tercapai, keluarga berkecukupan, pekerjaan mapan, atau nama dikenal banyak orang.

Namun, Al-Qur’an menawarkan ukuran yang jauh lebih dalam. Kebahagiaan sejati bukan sekadar tentang apa yang berhasil kita kumpulkan di dunia, melainkan tentang ke mana langkah hidup kita berakhir.

QS. Al-A’raf ayat 157 memberikan sebuah gambaran yang sangat indah. Allah menyebut orang-orang yang mengikuti Rasulullah ﷺ, beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya. Lalu ayat itu ditutup dengan kalimat:

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Muflihūn. Orang-orang yang memperoleh al-falāh—keberuntungan, keselamatan, keberhasilan dan kebahagiaan yang hakiki.
Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan kita bagaimana menjalani kehidupan, tetapi juga menunjukkan ke mana ketaatan itu akan membawa kita.

Ketaatan yang Tidak Berhenti pada Gerakan Lahiriah

QS. Al-A’raf 157 menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai sosok yang membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Beliau memerintahkan yang makruf, mencegah kemungkaran, menghalalkan yang baik, mengharamkan yang buruk, serta melepaskan manusia dari beban dan belenggu yang mengikat mereka. Karena itu, mengikuti Rasulullah ﷺ bukan sekadar meniru beberapa kebiasaan lahiriah.

Ittiba’ adalah perjalanan hidup.

Ia dimulai dari keyakinan, diterjemahkan menjadi ketaatan, kemudian membentuk akhlak, pilihan hidup, cara berpikir, hingga cara seseorang menghadapi dunia.

Di sinilah menariknya jika perjalanan spiritual itu dibayangkan seperti sebuah tangga. Semakin seseorang naik, semakin dalam pula perubahan yang terjadi di dalam dirinya.

Tangga Pertama: Rahmatullah — Menemukan Kasih Sayang Allah

Ketaatan yang sehat tidak membuat seseorang merasa semakin jauh dari Allah. Justru sebaliknya, ia semakin merasakan bahwa dirinya berada dalam naungan rahmat-Nya.

Rahmat Allah bukan berarti hidup selalu bebas dari masalah. Rahmat dapat hadir dalam bentuk yang jauh lebih luas. Diberi petunjuk ketika bingung, dijaga dari keburukan, diberi kekuatan untuk bertobat, dipertemukan dengan lingkungan yang baik, atau diselamatkan dari sesuatu yang dahulu kita kira baik.

Karena itu, perjalanan spiritual tidak seharusnya dimulai dengan perasaan, “Aku sudah cukup baik.” Tetapi dengan kesadaran, “Aku hidup karena rahmat Allah dan membutuhkan rahmat-Nya setiap saat.” Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati.

Tangga Kedua: Hidayatullah — Ketika Hati Menemukan Arah

Rahmat membawa kita kepada hidayah.
Sebab seseorang bisa saja memiliki banyak ilmu, tetapi belum tentu memiliki arah hidup yang benar. Hidayah membuat seseorang mampu membedakan mana yang harus dikejar dan mana yang harus ditinggalkan; mana yang tampak menguntungkan tetapi sebenarnya merugikan, dan mana yang terlihat berat tetapi justru menyelamatkan.

QS. Al-A’raf 157 menggambarkan Rasulullah ﷺ sebagai pembawa cahaya yang diturunkan bersamanya. Orang-orang yang mengikuti cahaya itu disebut sebagai orang-orang yang memperoleh keberuntungan.

Maka pertanyaannya bukan hanya “Apa yang ingin aku lakukan dalam hidup?”
Tetapi “Apakah arah hidupku sudah sesuai dengan cahaya yang Allah turunkan?”

Tangga Ketiga: Izzatun Nafsi — Kemuliaan Jiwa yang Tidak Bergantung pada Validasi Manusia

Ada bentuk kebebasan yang sering tidak kita sadari : bebas dari kebutuhan untuk terus-menerus diakui manusia. Seseorang yang semakin dekat kepada Allah akan menemukan sumber harga dirinya bukan pada pujian, jumlah pengikut, jabatan, penampilan, atau penilaian orang lain.

Ia tahu siapa dirinya di hadapan Allah. Inilah yang dapat direnungkan sebagai izzatun nafsi—kemuliaan dan keteguhan jiwa. Bukan kesombongan. Justru sebaliknya, seseorang bisa semakin rendah hati kepada manusia karena ia tidak perlu meninggikan dirinya untuk merasa berharga.

Ia tidak lagi hidup sepenuhnya berdasarkan pertanyaan “Apa kata orang?”
Tetapi mulai bertanya “Apa yang Allah sukai?”

Tangga Keempat: Mahabbatullah — Ketika Ketaatan Berubah Menjadi Cinta

Pada tingkat yang lebih tinggi, ketaatan tidak lagi dirasakan hanya sebagai kewajiban. Ia mulai tumbuh menjadi cinta. Seseorang melakukan kebaikan bukan semata-mata karena takut hukuman, tetapi karena mencintai Allah dan ingin dekat dengan-Nya.

Menariknya, Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas tentang klaim cinta kepada Allah. Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran 31:
“Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Ayat ini memberikan hubungan yang sangat kuat. Cinta kepada Allah → mengikuti Rasulullah ﷺ → memperoleh cinta dan ampunan Allah.

Jadi, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan yang ada di dalam hati. Ia memiliki bukti. Dan salah satu bukti terbesarnya adalah ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

Dari Fase Duniawi menuju Fase Akhirat

Jika tangga pertama hingga keempat menggambarkan perubahan yang dapat dirasakan dalam kehidupan dunia, maka perjalanan tidak berhenti di dunia.

Sebab, seorang mukmin tidak hanya memikirkan “Bagaimana agar hidupku baik sekarang?” Ia juga bertanya “Bagaimana agar akhir hidupku baik?” Di sinilah orientasi spiritual bergeser. Dunia bukan tujuan akhir. Dunia adalah tempat menanam. Akhirat adalah tempat memanen.

Nadharatul Wajh — Wajah yang Berseri

Al-Qur’an menggambarkan kenikmatan orang-orang beriman di akhirat dengan wajah yang berseri. Allah berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ۝ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, memandang kepada Tuhannya.”

Gambaran ini mengingatkan bahwa kebahagiaan akhirat bukan sekadar mendapatkan tempat yang indah. Ada kebahagiaan yang jauh lebih tinggi: keridhaan Allah dan kenikmatan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya. Maka perjalanan spiritual yang dimulai dari hati yang mencari hidayah pada akhirnya mengarah kepada wajah yang penuh kebahagiaan.

Asy-Syafā’ah — Berharap Pertolongan Rasulullah ﷺ

Di antara harapan besar seorang mukmin adalah memperoleh syafaat Rasulullah ﷺ pada hari akhir, dengan izin Allah. Namun syafaat bukan alasan untuk berhenti beramal. Justru kecintaan kepada Rasulullah ﷺ seharusnya mendorong kita semakin dekat dengan sunnahnya.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa siapa yang menaati beliau akan masuk surga, sedangkan siapa yang mendurhakainya berarti memilih untuk menolak jalan tersebut.
Maka harapan kepada syafaat harus berjalan bersama ketaatan dan ittiba’.

Musahabatul Akhyar — Dikumpulkan Bersama Orang-Orang Pilihan

Ada sebuah kebahagiaan yang mungkin sering kita lupakan, kebahagiaan bersama siapa kita berada. Di dunia saja, lingkungan sangat memengaruhi hati. Apalagi di akhirat. Allah menggambarkan orang-orang beriman berada bersama para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada dan orang-orang saleh.

Karena itu, menjadi baik bukan hanya tentang memperbaiki diri sendiri. Kita juga perlu membangun lingkungan yang membantu kita tetap baik. Teman yang mengingatkan ketika lalai. Saudara yang menguatkan ketika lemah.
Guru yang mengarahkan ketika bingung. Dan komunitas yang membuat kita lebih dekat kepada Allah.

Mujāwaratur Rasul — Sedekat Itu dengan Rasulullah ﷺ

Puncak kerinduan seorang pecinta Rasulullah ﷺ tentu bukan hanya mengetahui sejarah beliau. Bukan hanya mengoleksi kisah tentang beliau. Bukan pula sekadar mengucapkan shalawat. Tetapi berharap dapat bersama Rasulullah ﷺ di surga.

Itulah mengapa mencintai Rasulullah harus diwujudkan dalam ittiba’. Sebab cinta yang benar akan melahirkan keinginan untuk menyerupai orang yang dicintai dalam kebaikan. Semakin seseorang mengenal Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin besar keinginannya mengikuti akhlak, sunnah, perjuangan, kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan beliau.
Dan semua itu bermuara pada Al-Falah.

Menarik sekali jika kita kembali kepada ujung QS. Al-A’raf 157. Setelah menyebutkan orang-orang yang beriman kepada Rasulullah ﷺ, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, Allah tidak mengatakan “Mereka itulah orang-orang yang paling terkenal.” Bukan pula “Mereka itulah orang-orang yang paling banyak hartanya.” Tetapi

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Inilah Al-Falah. Keberhasilan yang tidak berhenti pada pencapaian dunia. Keberhasilan yang tidak bergantung pada tepuk tangan manusia. Keberhasilan yang ukurannya bukan sekadar seberapa tinggi seseorang naik dalam kehidupan, tetapi seberapa selamat ia sampai kepada Allah.

Tangga Spiritual Itu Dimulai Hari Ini

Tentu, kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang telah mencapai satu tingkat tertentu hanya karena ia melakukan satu amalan. Perjalanan spiritual adalah proses yang panjang.

Hari ini mungkin kita sedang belajar mengenal rahmat Allah. Besok belajar menjaga hidayah.
Kemudian belajar membangun kemuliaan jiwa.
Lalu belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan lebih nyata. Dan setiap hari kita berusaha memperbaiki ittiba’ kita.

Karena itu, tangga spiritual bukan tentang merasa sudah berada di puncak. Justru semakin tinggi seseorang dalam perjalanan ruhani, semakin ia sadar bahwa dirinya masih membutuhkan Allah.

Pada akhirnya, semua tangga itu bermuara pada satu tujuan : Al-Falah—kebahagiaan dan keberuntungan hakiki. Bukan sekadar sukses menjalani dunia. Tetapi selamat sampai akhirat. Bukan sekadar dikenal manusia. Tetapi dicintai Allah. Bukan sekadar mengagumi Rasulullah ﷺ. Tetapi mengikuti beliau hingga berharap dikumpulkan bersamanya.

Dan mungkin, inilah pertanyaan paling penting untuk kita bawa pulang. Jika hidup ini adalah sebuah tangga, sedang berada di anak tangga manakah kita hari ini? Dan yang lebih penting, apakah setiap langkah yang kita ambil benar-benar sedang membawa kita menuju Al-Falah?

Ditulis oleh: Emy Dharmawaty
Humas PW Salimah Jakarta

Tags:
Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news