RAMADAN RECHARGE IMAN, CINTA, PEDULI DAN KOLABORASI

Jakarta (9/2/2026) – Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah (PP Salimah) bekerjasama dengan IKADI, MP DI, dan ESI menggelar webinar Tarhib Ramadan pada Sabtu (7/2). Acara ini diikuti oleh 1000 peserta di ruang zoom, 86 peserta di youtube Salimah, dan 300 peserta di youtube IKADI.

 

Mengusung tema “Ramadhan Recharge Iman, Cinta, Peduli, dan Kolaborasi”, webinar ini bertujuan untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadan agar menjadi Ramadan terbaik.

Tarhib daring selama tiga jam menampilkan empat narasumber, yaitu Dr. KH. Ahmad Kusyairi Suhail (Ketua Umum PP IKADI), Prof. Dr. KH. Uril Bahruddin (Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang), Dr. KH. Atabik Luthfi (Pakar Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dan Reni Anggrayni, ST (Ketua Umum Salimah).

Ketua Umum IKADI, Dr. KH. Ahmad Kusyairi Suhail, mengatakan bahwa tujuan Allah memberikan Ramadan adalah agar terbangun pribadi-pribadi yang bertakwa, keluarga-keluarga yang bertakwa, dan masyarakat yang bertakwa. Ia berharap, kolaborasi ini menjadi kontribusi nyata untuk membangun ketakwaan sosial sehingga menghadirkan kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Senada dengan itu Ketua Umum Salimah, Reni Anggrayni, menyampaikan pentingnya kolaborasi di tengah tantangan umat dan bangsa.

“Bukan hanya penting, tapi sangat strategis. Kekuatan umat terletak pada persatuan dan kemampuan kita untuk berjalan bersama, saling menguatkan, dan saling melengkapi,” jelasnya.

Salimah sebagai ormas perempuan yang berusia 26 tahun memiliki fokus kerja pada peningkatan kualitas hidup perempuan, anak, dan keluarga Indonesia. Spirit ormas perempuan ini dalam bergerak adalah Al-Qur’an surat At Taubah ayat 71.

“Ketika muslim, muslimah, ulama, umara, dan masyarakat merajut sinergi, maka kebaikan akan berlipat ganda, keberkahan akan turun dan berdampak nyata,” imbuh Reni.

Selanjutnya, Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Uril Bahruddin, menjelaskan bahwa Ramadan menjadi momentum untuk recharge iman, yaitu menguatkan hubungan dengan Allah.

“Puasa adalah sarana pembentukan taqwa. Ibadah inti di bulan Ramadhan adalah puasa, salat, membaca Al-Qur’an, zikir, dan do’a. Iman yang diharapkan adalah iman yang hidup, bukan formalitas. Prosesnya dari ibadah ritual menuju kesadaran. Target iman di bulan Ramadhan, kita menjadi lebih taat, lebih ikhlas, dan lebih dekat dengan Allah,” tuturnya.

Ramadan juga momentum recharge cinta dalam bentuk menghangatkan relasi kemanusiaan. Ramadan adalah bulan kasih sayang yang menumbuhkan cinta dalam keluarga dan cinta dalam persaudaraan.

Tak kalah penting, Ramadan adalah momentum recharge kepedulian yang menumbuhkan empati sosial. Puasa melatih empati. Melalui ibadah puasa Ramadan, diharapkan timbul kepedulian yang nyata dan berkelanjutan.

Selanjutnya, Ramadan adalah momentum recharge kolaborasi. Di sini waktunya membangun kekuatan bersama. Ramadan sebagai ruang kebersamaan menimbulkan kolaborasi lintas peran dan amal kolektif.

Di sesi akhir, pakar tafsir dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Attabik Luthfi, membahas tiga pelajaran khas Nabi Nuh dari Ramadhan. Pertama, belajar sabar. Kedua, belajar dakwah, di mana Allah menurunkan ayat dakwah sebelum dan sesudah ayat puasa. Ketiga, belajar doa.

Komentar
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

What do you think?

Related news